Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Lontaran Droplet Lebih Jauh dari Jarak Aman Anjuran WHO

Jumat 03 Apr 2020 14:02 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Lontaran droplet ternyata bisa menjangkau lebih jauh daripada batas jarak aman yang dianjurkan WHO.

Lontaran droplet ternyata bisa menjangkau lebih jauh daripada batas jarak aman yang dianjurkan WHO.

Foto: Slash Gear
Peneliti MIT perlihatkan lontaran droplet lebih jauh daripada jarak aman anjuran WHO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian terbaru menunjukkan bahwa batuk dan bersin dapat membuat percikan liur terlontar lebih jauh daripada yang diperkirakan sebelumnya. Dari pengamatan menggunakan kamera berkecepatan tinggi dan sensor lainnya terlihat bahwa sebaran droplet di udara dari orang batuk atau bersin tak cuma sebatas satu meter sebelum akhirnya jatuh ke permukaan.

Baca Juga

Penelitian di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, Amerika Serikat, itu mengungkap bahwa pernapasan menghasilkan gumpalan gas kecil yang bergerak cepat yang dapat berisi percikan liur dengan berbagai ukuran. Percikan yang terkecil dapat terlontar dalam jarak yang lebih jauh daripada perkiraan sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan dalam laboratorium ini menemukan bahwa batuk dapat melontarkan cairan hingga enam meter jauhnya. Sementara itu, bersin yang melibatkan kecepatan lebih tinggi dapat membawa percikan liur terbang mencapai hingga delapan meter jauhnya.

Ilmuwan yang memimpin penelitian ini, Prof Lydia Bourouiba dari MIT, khawatir dengan konsep pengaturan jarak fisik yang disarankan WHO saat ini, yaitu satu meter. Pasalnya, menurut dia, partikel yang diembuskan lewat batuk atau bersin adalah gas yang memiliki momentum tinggi yang bisa terbawa melewati jarak jauh, termasuk di dalam ruangan.

"Pembatasan jarak antarorang sejauh satu hingga dua meter dengan anggapan droplet akan jatuh ke tanah pada jarak itu merupakan gagasan keselamatan yang keliru dan tidak sesuai dengan apa yang telah kami hitung, ukur, dan visualisasikan secara langsung," ujarnya.


Apakah ini mengubah saran tentang masker?
Bourouiba menjelaskan bahwa dalam situasi tertentu, terutama di dalam ruangan berventilasi buruk, memakai masker memang tepat karena akan mengurangi risiko tertular penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Ketika menghadapi seseorang yang terinfeksi, misalnya, masker dapat membantu mengalihkan aliran napas mereka dan menjauhkan virus dari mulut kita.

"Masker tipis tidak akan melindungi orang dari menghirup partikel terkecil di udara karena memang tidak punya kemampuan menyaring, tetapi masker berpotensi membantu membelokkan gumpalan gas yang dilontarkan dari orang batuk atau bersin ke samping wajah," kata Bourouiba.

Sementara itu, Prof David Heymann selaku mantan direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa jika didukung bukti yang cukup, mungkin memakai masker sama efektif atau lebih efektif dengan menjaga jarak fisik. Ia pun mengingatkan bahwa masker perlu dipakai secara konsisten dan benar, dengan segel di hidung.

Jika masker menjadi lembap, partikel tertentu bisa melewatinya. Setelah itu, orang juga harus melepas masker dengan hati-hati agar tangan mereka tidak terkontaminasi.

"Ini bukan berarti ketika memakai masker, orang kemudian dapat melepasnya untuk merokok atau makan. Masker harus dipakai sepanjang waktu," kata dia.

Panel Strategic and Technical Advisory Group for Infectious Hazards di Inggris berencana menggelar pertemuan virtual untuk membahas temuan MIT tersebut. Mereka berencana mendiskusikannya dalam beberapa hari mendatang.

Sementara itu, seorang juru bicara untuk Kesehatan Masyarakat Inggris mengatakan ada sedikit bukti manfaat luas dari memakai masker di luar lingkungan klinis. Ia menyebut, agar lebih efektif, masker wajah harus dipakai dengan benar, sering diganti, dilepas dengan benar, dibuang dengan aman, dan penggunaannya dibarengi dengan perilaku kebersihan umum yang baik.

Inggris, bersama dengan negara lainnya termasuk AS, menyarankan jarak sosial setidaknya 2 meter. Anjuran ini didasarkan pada bukti yang menunjukkan bahwa virus hanya dapat ditularkan saat terbawa dalam tetes cairan. Pemahamannya adalah sebagian besar tetesan itu akan menguap atau jatuh ke tanah di dekat orang yang melepaskannya.

Penggunaan masker telah lama populer di seluruh Asia. Masker juga digunakan oleh Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC).

Di Austria, polisi dan siapa saja yang berurusan dengan polisi juga memakainya. Begitu juga pihak lainnya, termasuk pusat perbelanjaan. Pandangan yang pernah langka di Eropa ini pun kemungkinan akan mengubah pola hidup masyarakatnya mulai saat ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA