Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Covid-19 Bawa Dampak Besar bagi Afghanistan

Jumat 03 Apr 2020 12:48 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nora Azizah

Pandemi Covid-19 menghantam keras perekonomian Afghanistan (Foto: ilsutrasi masyarakat Afghanistan)

Pandemi Covid-19 menghantam keras perekonomian Afghanistan (Foto: ilsutrasi masyarakat Afghanistan)

Foto: EPA-EFE/JAWAD JALALI
Pandemi Covid-19 menghantam keras perekonomian Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Jalan-jalan di ibukota Afghanistan, Kabul, penuh sesak setiap hari Jumat. Ramai di pasar dan toko-toko, suara orang berdoa terdengar dari pengeras suara di masjid-masjid, langit penuh layang-layang terbang hasil dari permainan anak-anak.

Tapi, sejak 28 Maret, negara itu memutuskan untuk menerapkan lockdown, membuat kota berpenduduk sekitar enam juta orang harus berada di dala rumah, agar penyebaran virus korona tidak terjadi. Keputusan ini memukul salah satu negara termiskin dan paling dilanda perang di dunia.

Banyak warga yang menentang perintah itu. Di bawah papan reklame yang memperingatkan bahaya virus, pekerja lepas, penyemir sepatu, dan pedagang terus bekerja sampai polisi menindak secara keras agar kota menjadi lebih sepi. Pengumuman untuk menutup Kabul datang ketika Menteri Kesehatan Masyarakat Ferozuddin Feroz mengecam kecerobohan masyarakat.

Baca Juga

"Jika kita tidak menganggap serius virus corona, itu akan membuat kita serius," kata Feroz.

Setelah penerapan dengan kekerasan, beberapa hari kemudian kota itu mulai sepi. Angka infeksi Afghanistan memang cenderung kecil, 239 kasus dengan empat kematian, tetapi angka ini meragukan karena tes Covid-19 sangat terbatas hanya tersedia di Kabul dan kota Herat di barat laut.

"Perkiraan menunjukkan bahwa lebih dari 25 juta orang dapat terinfeksi di Afghanistan, dengan setidaknya 16 juta menunjukkan gejala. Penyebaran dapat dicegah jika langkah-langkah diterapkan," ujar Feroz.

Meskipun penguncian diperlukan, banyak warga khawatir hal itu bisa membuat orang-orang dengan pekerjaan domestik berjuang lebih keras untuk bertahan hidup. Pemiliki sebuah toko kecil di Kabul bernama Kata Tamim mengatakan, dia harus menutup bisnisnya.

Ketika toko kelontong milik Tamim tutup, artinya dia tidak pemasukan untuk makan keluarganya. Untuk saat ini, dia akan mencoba untuk menjaga bisnisnya tetap berjalan, dalam karantina atau tidak.

photo
(Ilustrasi perempuan Afghanistan) - (AP Photo/Rafiq Maqbool)

"Jika saya tidak mendapat untung, saya tidak akan bisa membayar sewa atau bahkan membeli makanan. Mata pencaharian kami tergantung pada toko yang buka setiap hari," kata Tamim, dikutip dari The Guardian, Jumat (3/4).

Tamim berharap istrinya, yang bekerja sebagai penjahit, mungkin bisa bekerja dari rumah untuk menghidupi keluarga jika toko harus tutup. Kekhawatirannya itu sama seperti warga di seluruh kota dengan pemasukan harian.

Banyak yang sudah merasa terbebani oleh tanggung jawab untuk memastikan keluarga memiliki cukup makanan. Padahal, isolasi wilayah tersebut harus berjalan 21 hari dan dapat diperpanjang tergantung pada situasi.

Gubernur Kabul, Mohammad Yaqub Heidari telah memerintahkan ruang konferensi dan pernikahan untuk diubah menjadi tempat perlindungan bagi warga Afghanistan yang datang dari luar negeri. Harga makanan telah melonjak, meskipun pemerintah dan pemimpin agama menyerukan penjaga toko untuk tidak mengambil keuntungan dari situasi ini.

Gubernur provinsi Herat Afghanistan, Abdul Qayum Rahimi menyatakan, negara ini telah mengalami empat dasawarsa perang, tetapi masa tersulit ada di depan. "Afghanistan tidak siap menghadapi tantangan seperti ini," katanya.

"Bahkan memerangi Taliban berbeda. Anda dapat melihat mereka dan Anda tahu senjata mereka. virus korona membutuhkan mikroskop, yang kami tidak punya banyak," ujar Rahimi.

Sistem perawatan kesehatan Afghanistan sangat kewalahan, bahkan sebelum pandemi masuk. Afghanistan hanya mengalokasikan sekitar 5 dolar AS per tahun untuk masing-masing 35 juta warganya. Pengurangan bantuan AS sebesar 1 miliar dolar AS telah memberikan tekanan lebih lanjut.

Rahimi menggambarkan pandemi ini sebagai waktu paling menegangkan dalam hidupnya. Dia mengatakan bahwa ini bukan waktunya bagi para politisi untuk berperang, tetapi untuk bersatu dan memimpin Afghanistan menuju kemajuan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA