Jumat 03 Apr 2020 07:21 WIB

Kelola Kesehatan Mental Selama Karantina Diri

Karantina diri di rumah bisa berdampak pada kesehatan mental.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nora Azizah
Karantina diri di rumah bisa berdampak pada kesehatan mental (Foto: ilustrasi stres)
Foto: Pxfuel
Karantina diri di rumah bisa berdampak pada kesehatan mental (Foto: ilustrasi stres)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masa isolasi lama selama pandemi Covid-19 merupakan upaya untuk menyelamatkan kesehatan masyarakat. Namun, hal itu juga dapat berdampak buruk pada kesehatan mental masyarakat sendiri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan sampai merilis panduan kesehatan mental untuk orang-orang yang mengisolasi diri. WHO mengatakan bahwa masalah itu bisa menimbulkan stres dalam populasi.

Baca Juga

Jadi, apa yang harus dilakukan jika kesehatan mental menjadi buruk selama isolasi diri? Adakah cara memastikan melindungi kesejahteraan emosional dan mental, selama periode isolasi?

Seorang psikolog konseling, dr Lucy Atcheson, mengatakan, salah satu masalah utama isolasi diri adalah mulai kehilangan micro-lift, seperti makan sepanjang hari tanpa disadari. Dia mencontohkan ketika seseorang dalam perjalanan ke tempat kerja, bisa saja dia mampir ke kedai kopi atau menyapa seseorang di jalan. Ada hal kecil yang membantu menyenangkan kita sepanjang hari, tanpa disadari.

“Ketika Anda sendirian di rumah, itu tidak terjadi, dan efek komulatif dari itu sangat besar, terutama sekitar dua minggu awal,” kata Atcheson dilansir melalui independent.co.uk, Jumat (3/4).

Alih-alih membuat micro-lift, seseorang bisa membuat sesuatu yang menghasilkan rasa pencapaian, seperti latihan baru, belajar bahasa lain, berbicara dengan seseorang di FaceTime, atau bergabung dengan grup buku daring. Saat di rumah, seseorang tergoda hanya duduk di sofa sepanjang hari, makan makanan tidak seimbang, dan mengemil sepanjang hari sebagai cara menghibur diri. 

Manajer informasi dan saran di Mental Health UK, Emma Carrington, meminta orang-orang harus melakukan banyak kebiasaan baik, seperti makan makanan sehat. Menurut dia, seseorang bisa menggunakan jasa pengiriman rumah dari supermarket lokal.

photo
(Foto: ilustrasi stres) - (Piqsels)

“Coba lihat apakah ada kelompok pendukung masyarakat di daerah Anda yang dapat memberikan dukungan dengan berbelanja,” ujar Carrington.

Kepala informasi di Mind, Stephen Buckley mengatakan seseorang bisa berolahraga seperti saran dan izin pemerintah. “Kesehatan fisik dan mental saling terkait, jadi cobalah membuat rutinitas latihan fisik,” kata dia.

Meskipun tidak dapat menghabiskan waktu dengan orang lain, Buckley menyarankan memanfaatkan ruang pribadi, seperti taman dan balkon. Alam dapat membantu kesejahteraan seseorang. 

Mengamati burung-burung juga bisa menstimulus pikiran seseorang. Jika memungkinkan, buka jendela dan biarkan udara segar masuk ke kamar.

Menghabiskan sepanjang hari dengan piyama tanpa menyikat gigi adalah hal menyenangkan. Menyenangkan bisa bermalas-malasan, tetapi jika dilakukan dalam jangka panjang tidak baik untuk kesejahteraan mental. 

“Cobalah mempertahankan sebanyak mungkin rutinitas Anda. Bangun dan tidur pada waktu yang sehat, pastikan Anda cukup tidur,” ujar Carrington.

Dokter Atcheson memperingatkan agar tidak larut dalam siklus tidur, bekerja, makan, dan terus mengulanginya. Dia melihat banyak orang kehilangan optimisme masa depan selama masa karantina diri. 

“Lakukan sesuatu yang menyenangkan untuk diri sendiri (bukan hanya Netflix),” kata dia.

Duduk di depan layar sepanjang hari, baik untuk bekerja atau bersenang-senang bukanlah cara terbaik menghabiskan waktu. Cahaya biru dari perangkat telepon pintar dapat mengganggu tidur dan kesejahteraan diri. Anda bisa mengunduh podcast, berkesenian, merajut, meditasi, membuat makanan baru, origami, membaca buku, berkebun, dan lain-lain. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement