Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Pengajuan Cerai Melonjak di China Selama Lockdown

Jumat 03 Apr 2020 06:54 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Pengajuan Cerai Melonjak di China Selama <em>Lockdown</em>. Turis memakai masker berjalan melewati restoran dan toko yang tutup di daerah Tembok Besar Badaling, di Beijing, China.

Pengajuan Cerai Melonjak di China Selama Lockdown. Turis memakai masker berjalan melewati restoran dan toko yang tutup di daerah Tembok Besar Badaling, di Beijing, China.

Foto: EPA-EFE/Roman Pilipey
Waktu bersama pasangan justru menimbulkan perselisihan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Angka perceraian di China meningkat setelah masa lockdown mulai ditanggalkan. Banyak pasangan selama masa karantina menghabiskan waktu bersama dan justru menimbulkan ketidakcocokan yang berbuah pada pertengkaran hebat.

Meskipun China menerbitkan statistik nasional tentang perceraian hanya setiap tahun, laporan media dari berbagai kota menunjukkan perpisahan melonjak pada Maret. Insiden kekerasan dalam rumah tangga juga berlipat ganda. Tren ini bisa menjadi peringatan yang tidak menyenangkan dari banyak waktu yang dihabiskan bersama dalam jarak dekat.

Kota Xian, di China tengah, dan Dazhou, di provinsi Sichuan, melaporkan jumlah pengajuan perceraian yang tinggi pada awal Maret. Kondisi ini menyebabkan tumpukan panjang di kantor-kantor pemerintah.

Sedangkan kota Miluo provinsi Hunan melaporkan, anggota staf bahkan tidak punya waktu untuk minum karena begitu banyak pasangan yang mengantre. "Masalah sepele dalam hidup menyebabkan eskalasi konflik, dan komunikasi yang buruk telah menyebabkan semua orang kecewa dalam pernikahan dan membuat keputusan untuk bercerai," kata direktur pusat pendaftaran kota, Yi Xiaoyan, dikutip dari Bloomberg.

Pengacara perceraian Shanghai Steve Li di Gentle & Trust Law Firm mengatakan, beban kasusnya telah meningkat 25 persen sejak penutupan kota mereda pada pertengahan Maret. Perselingkuhan dulu menjadi alasan nomor satu klien muncul di pintu kantornya, tetapi tren kali ini berbeda.

"Semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama, semakin mereka saling membenci. Orang-orang membutuhkan ruang. Bukan hanya untuk pasangan, ini berlaku untuk semua orang," kata Li tentang kasus-kasus barunya.

Tingkat perceraian China terus meningkat sejak 2003. Lebih dari 1,3 juta pasangan bercerai setahun. Menurut statistik dari Kementerian Urusan Sipil, jumlahnya meningkat secara bertahap selama 15 tahun, memuncak pada 4,5 juta pada 2018. Tahun lalu, 4,15 juta pasangan China melepaskan ikatan.

Sementara itu, media China telah dipenuhi dengan laporan perselisihan suami istri. Publikasi daring yang berbasis di Shanghai, Sixth Tone melaporkan, polisi di satu daerah sepanjang Sungai Yangtze di provinsi Hubei tengah, menerima 162 laporan kekerasan dalam rumah tangga pada Februari. Jumlah itu tiga kali lebih banyak daripada laporkan pada bulan yang sama pada 2019 dengan jumlah 47.

Salah satu pendiri Equality, sebuah organisasi non-pemerintah di Beijing yang berfokus pada kekerasan berbasis gender, Feng Yuan mengatakan, ada peningkatan dalam permintaan bantuan kepada organisasinya. "Lockdown memunculkan kecenderungan untuk kekerasan yang ada di sana tetapi tidak keluar," ujarnya.

Polisi sangat sibuk menegakkan karantina sehingga kadang-kadang tidak dapat menanggapi panggilan darurat dari korban kekerasan. Yuan menyatakan, perempuan yang mengalami kekerasan tidak dapat pergi dan pengadilan yang biasanya mengeluarkan perintah perlindungan ditutup.

Bahkan ketika epidemi mereda dan kehidupan dapat kembali ke keadaan normal di China, ketegangan psikologis dan ekonomi diperkirakan akan bertahan selama berbulan-bulan. Sebuah penelitian terhadap orang-orang di Hong Kong setelah epidemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) 2002-2003 menunjukan hal tersebut.

"Satu tahun setelah wabah, para korban SARS masih mengalami peningkatan tingkat stres dan tingkat kecemasan psikologis yang mengkhawatirkan," ujar penelitian tersebut.

Masalah psikologi yang timbul termasuk depresi dan kecemasan. Hal ini mendorong perceraian pada populasi umum Hong Kong pada 2004 mencapai 21 persen lebih tinggi dari 2002.

Meski data menunjukkan banyak pengajuan cerai terjadi di China akibat pandemi, beberapa pasangan telah menemukan kembali kebahagiaan pernikahan. "Karantina rumah dan jarak sosial telah mengingatkan saya betapa saya mencintai orang yang saya nikahi," kata Rachel Smith, seorang seniman Kanada di Hong Kong.

Seiring waktu setelah menikah, pasangan itu mulai sibuk mengejar karier dan kegiatan terpisah, menyisakan sedikit waktu luang untuk mereka berdua. Sekarang, ketika mereka bekerja di komputer rumah ketika karantina terjadi, mereka secara teratur beristirahat untuk mengobrol.

"Ternyata saya sangat suka menghabiskan waktu bersama. Itu adalah kejutan yang menyenangkan," ujar Smith.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA