Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Kadin Sebut Perusahaan Bakal Kesulitan Bayar THR Karyawan

Jumat 03 Apr 2020 06:26 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya

Sejumlah pekerja mengantri saat pembagian Tunjangan Hari Raya/THR. (ilustrasi)

Sejumlah pekerja mengantri saat pembagian Tunjangan Hari Raya/THR. (ilustrasi)

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Pemerintah mengingatkan perusahaan agar tetap membayarkan THR karyawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyebaran virus corona yang terjadi di hampir seluruh dunia, khususnya di Tanah Air menyebabkan bisnis beberapa sektor usaha terpukul. Meski begitu, pemerintah mengingatkan perusahaan terutama swasta agar tetap membayarkan hak karyawan berupa Tunjangan Hari Raya (THR).

Menanggapi itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani menyatakan, saat ini tidak mudah bagi perusahaan memenuhi kewajiban tersebut. Sebab bisnis tengah lesu.

"Berat sekali (bagi perusahaan), makanya masing-masing perusahaan harus membuat kesepakatan bipartite dengan pekerjanya. Kesepakatan bipartite yaitu antara pemberi kerja dan penerima kerja," ujarnya kepada Republika pada Kamis, (2/4).

Ia pun mengatakan, industri manufaktur Indonesia menurun tajam pada kuartal pertama 2020. Hal itu terlihat dari data Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia IHS Markit yang menurun dari posisi 51,9 pada Februari ke level 45,3 pada Maret.

Menurutnya, PMI Manufaktur Indonesia pada kuartal kedua bisa lebih anjlok lagi. "Wajar bila PMI Q2 (kuartal kedua) 2020 terjun bebas karena PMI akan selalu mengikuti tren atau proyeksi permintaan pasar di kuartal yg dilaporkan," jelasnya.

Shinta menuturkan, pada kuartal kedua terdapat proyeksi penyebaran wabah corona yang lebih luas atau dalam hingga mencapai peak point. Maka pelaku usaha khususnya di sektor manufaktur memproyeksikan permintaan pasar terhadap produk manufaktur akan lebih rendah dibandingkan saat ini, karena permintaan nantinya sangat terkonsentrasi pada barang atau jasa kebutuhan primer.

Dengan begitu, lanjutnya, sebagian besar industri manufaktur memproyeksikan adanya penurunan permintaan dan pendapatan secara drastis. Baik dari dalam maupun luar negeri.

"Sehingga tidak masuk akal bila perusahaan akan meningkatkan purchasing atau produksi. Kami proyeksikan tren ini akan bertahan hingga ada kontrol yg lebih baik terhadap wabah di Indonesia dan di level global," kata dia.

Selama wabah masih belum terkendali, tegas Shinta, PMI pun tidak akan pulih, malah akan semakin turun. "Kalau penyebaran wabah bisa diatasi sebelum akhir Q2 2020, kita bisa berharap PMI di Q3 (kuartal ketiga) bisa terangkat walaupun sedikit, namun kalau masih belum juga terkendali hingga ke Q3, kemungkinan besar PMI di sepanjang 2020 tidak akan menunjukkan perubahan positif," jelasnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA