Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Rusia Lakukan Uji Vaksin Corona, Ditargetkan Selesai Juni

Kamis 02 Apr 2020 21:04 WIB

Rep: Umar Mukhtar / Red: Agus Yulianto

 Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Foto: Alexei Druzhinin, Sputnik, Kremlin Pool Photo
Beberapa prototipe vaksin telah dikembangkan dengan studi pra-klinis.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia telah menguji beberapa vaksin dan delapan obat untuk mengobati sindrom pernafasan akut yang parah, SARS-CoV-2 yang biasa dikenal sebagai Covid-19. Laporan Anadolu Agency pada Rabu (1/4) waktu setempat menyebut, dokter menemukan antibodi terhadap Covid-19 dalam darah 11 pasien yang pulih pada akhir Maret lalu.

Hal itu disampaikan Wakil Perdana Menteri Tatyana Golikova pada pertemuan pemerintah virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebuah sistem uji yang memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari efisiensi vaksin pun telah diproduksi.

Beberapa prototipe vaksin telah dikembangkan dengan studi pra-klinis yang diharapkan selesai pada 22 Juni mendatang. Golikova mengatakan, saat ini juga sudah ada 60 sukarelawan yang siap untuk berpartisipasi dalam tes klinis.

Selain itu, delapan obat yang sudah digunakan sedang dipelajari untuk berpotensi melawan virus dengan kesimpulan akhir yang diumumkan pada 10 April. Lebih dari 3 juta penduduk kini berada di karantina di Rusia, sementara jumlah kasus meningkat menjadi 2.777.

Untuk membendung penyebaran infeksi, Rusia memberlakukan penguncian, termasuk di Moskow dan kota kedua St. Petersburg, dengan lebih banyak wilayah ditambahkan setiap hari. Penduduk di daerah yang terkunci hanya diizinkan pergi untuk membeli bahan makanan, berjalan-jalan, dan membuang sampah.

Rusia juga melarang masuknya warga negara asing dan menghentikan lalu lintas udara internasional. Setelah pertama kali muncul di Wuhan, Cina, pada bulan Desember, virus, yang secara resmi dikenal sebagai COVID-19, telah menyebar ke setidaknya 180 negara dan wilayah, menurut database Universitas Johns Hopkins yang berbasis di AS. Data menunjukkan jumlah kasus di seluruh dunia telah melampaui 911.300, dengan jumlah kematian mendekati 45.500, dan lebih dari 192.900 pemulihan.

sumber : Anadolu Agency
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA