Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Mengenal KH Sholeh Darat

Kamis 02 Apr 2020 14:31 WIB

Rep: S Bowo Pribadi/ Red: Muhammad Hafil

Mengenal KH Sholeh Darat. Foto: Goresan tinda Ulama (ilustrasi)

Mengenal KH Sholeh Darat. Foto: Goresan tinda Ulama (ilustrasi)

Foto: Blogspot.com
Masa kecil KH Sholeh Darat dihabiskan untuk mempelajari Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID,  SEMARANG --  KH Sholeh Darat, lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada 1235 Hijriyah (1820) dengan nama lengkap Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani. Ayahnya, Kiai Umar merupakan pejuang kemerdekaan dan kepercayaan Pangeran Diponegoro di pesisir utara Jawa Tengah.

Masa kecil hingga remaja KH Sholeh Darat dihabiskan dengan belajar Alquran serta ilmu agama dari ayahnya. Seperti ilmu nahwu, shorof, akidah, akhlak, hadis dan fiqih. Setelah lepas masa remaja KH Sholeh Darat menimba ilmu ke sejumlah ulama di Jawa maupun ulama di luar negeri.

Buku Sejarah dan Perjuangan Kyai Sholeh Darat mengungkap, dalam mendalami ilmu keislamannya, dimulai dari belajar kitab- kitab fiqih kepada KH M Syahid, di Pesantren Waturoyo, Margoyoso, Kajen, Pati.

Di antaranya kitab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarah al-Khatib dan Fath al-Wahab. KH Sholeh Darat juga belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti pada Kiai Raden Haji Muhammad Sholeh bin Asnawi Kudus.

Berikutnya belajar Nahwu dan Sorof pada Kiai Ishak Damaran Semarang dan belajar Ilmu Falak kepda Kiai Abdullah Muhammad bin Hadi Baquni yang juga salah seorang Mufti di Semarang.

Selanjutnya juga belajar Kitab Jauhar al-Tauhid karya Syeikh Ibrahim al-Laqqoni serta Kitab minhaj al-Abidin karya imam Ghazali pada Sayid Ahmad Bafaqih Ba’alawi Semarang, belajar Kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri kepada Syeikh Abdul Ghani Bima dan belajar ilmu tasawuf dan tafsir Alquran kepada Mbah Ahmad Alim.

Sedangkan di Makkah Kh Sholeh Darat juga banyam menimba keilmuan agamannya pada para ulama seperti Syeikh Muhammad al Muqri al Mishri al Makki, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasballah dan Al Allmah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Madzab Syafi’iyah).

Selain itu juga Al Allamah Ahmad An Nahawi al Mishri al Makki dan Sayyid Muhammad Sholeh al Zawawi al Makki, Kiai Zahid, Syeikh Umar a-Syami, Syeikh Yusuf al Sunbulawi al –Mishri serta Syeikh Jamal yang juga seorang Mufti Madzab Hanafiyyah.

Keturunan KH Sholeh Darat, KH Agus Taufiq mengungkapkan, karena keulamaan dan keilmuannya, sejumlah nama --yang kemudian juga dikenal sebagai tokoh ulama nasional-- pun juga belajar kepada KH Sholeh Darat.

Seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) serta KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). “Raden Ajeng Kartini merupakan murid KH Sholeh Darat yang berasal dari kalangan di luar kiai,” jelasnya.

Wakil Ketua Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat (Kopisoda), M Rikza Chamami mengatakan, kesederhanaan menjadi salah satu keutamaan sosok KH Sholeh Darat. Kendati begitu, karya fenomenal lahr dari ulama yang satu ini.

Misalnya Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam berupa kitab yang khusus membahas persoalan fiqih namun dengan penjelasan aspek hakikat dan ma’rifat yang harus dikejar setelah orang mengerti tentang syariat.

Berikutnya Mujiyat Metik Saking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali, yang berupa sebuah kitab petikan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din juz3 yang berisi pelajaran etika dan tuntunan mengendalikan hawa nafsu.

Selain itu juga Terjemah Al-Hikam karya Ahmad bin Athoilah, berupa penjelasan panjang lebar mengenai thoriqoh dan tasawuf. Sejumlah tulian asli karya KH Sholeh Darat masih disimpan keturanannya.

“Sedangkan hasil cetakannya (dari percetakan di Singapura) tersebar di sejumlah negara. Termasuk di perpustakaan Musthafa bab El-Halabi di Kairo,” jelasnya.

Antara lain Lathaif al-Thaharah wa srorus Solah, Manasik al-Haj,  Pasolatan, Sabillu ‘Abid yang merupakan terjemahan jauhar al-Tauhid karya Ibrahim Laqqani, Minhaj al-Atqiya, Al Mursyid al-Wajiz, Hadits al-Miraj, Syarah Maulid al-Bardah dan Faidh al-Rahman.

“Faidh al-Rahman berupa tafsir Alquran berbahasa Jawa pertama di Nusantara yang terdiri atas 13 juz, mulai dari Al-Fatihah hingga surat Ibrahim,” tambahnya.
 

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA