Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

In Picture: Islamofobia, Sejak Zaman Rasulullah Hingga Abad Pertengahan

Kamis 02 Apr 2020 14:10 WIB

Red: A.Syalaby

Rasulullah SAW bahkan tak luput menjadi sasaran aksi kebencian kafir Quraisy

REPUBLIKA.CO.ID, Perasaan benci kaum kafir terhadap Islam dan kaum Muslimin—atau yang kini lebih populer dengan sebutan 'Islamofobia'—ternyata sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW.

Pada masa-masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW, permusuhan terhadap Islam justru muncul di tengah-tengah masyarakat Arab yang notabene adalah saudara sebangsa Rasulullah sendiri. Selama periode Makkiyah (610–622 Masehi), Rasulullah SAW dan kaum Muslimin menghadapi ujian yang hebat dari kelompok kafir Makkah.

Masyarakat Arab jahiliyah ketika itu melakukan penganiayaan  terhadap dakwah risalah yang dibawakan Nabi Muhammad SAW. Sejumlah tokoh Quraisy, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab gencar memprovokasi orang-orang Makkah untuk melakukan aksi kekerasan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.

Sejumlah sahabat pun menjadi korban kekejaman musuh-musuh Islam. Sebut saja Ammar ibn Yasir, Khabbab ibn al-Arat, dan Bilal ibn Rabah yang disiksa dengan cara yang amat sadis dan di luar batas kemanusiaan oleh kaum kafir Makkah, hanya lantaran mereka teguh mempertahankan imannya.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW sendiri, bahkan juga tak luput menjadi sasaran aksi kebencian orang-orang kafir Quraisy pada masa itu. Dalam beberapa riwayat disebutkan, Nabi SAW pernah dihina, diludahi, bahkan disakiti oleh orang-orang yang memusuhi beliau. Namun, selama berada di Makkah, semua perlakuan itu dihadapi Rasulullah dengan penuh kesabaran.

Setelah Nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah, kaum kafir Makkah masih saja menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Islam. Mereka terus berupaya merongrong kaum Muslim dengan berbagai cara.

Situasi semacam itu terus berlangsung selama beberapa tahun. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah oleh kaum Muslimin) pada 8 Hijriyah/630 Masehi, barulah Islam mulai diterima secara luas oleh masyarakat Arab. Sepeninggalnya Rasulullah, pengaruh Islam semakin berkembang hingga ke luar Jazirah Arab.

 

Beberapa penaklukan yang berlangsung selama pemerintahan Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Ottoman, memberi kontribusi besar dalam membentuk peradaban Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa. Namun demikian, proses ekspansi di bawah dinasti-dinasti Islam itu bukannya tanpa hambatan. Sikap kebencian dan permusuhan yang mulai tumbuh di tengah-tengah masyarakat Barat, menjadi satu tantangan tersendiri yang dihadapi kaum Muslimin selama periode tersebut.

Ketakutan terhadap pengaruh Islam yang semakin meluas mulai tertanam di kalangan masyarakat Barat untuk pertama kalinya semasa Perang Salib (antara 1095–1291) yang melibatkan tentara Muslim dan Kristen Eropa.

Pada masa-masa itu, Kekaisaran Bizantium dan Gereja Roma menggunakan propaganda sentimen anti-Islam untuk merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslimin.

"Para sejarawan mencatat, jumlah orang Islam dan Yahudi yang terbunuh di al-Quds (Yerusalem) selama berlangsungnya Perang Salib tidak kurang dari 70 ribu jiwa," kata A Said Gul dalam tulisannya "History of Islamophobia and Anti-Islamism" yang dimuat oleh the Pen Magazine (2011).

Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol), beberapa jenis pertikaian yang terjadi antara penduduk Kristen dan Muslim  juga didasari oleh fobia terhadap Islam.

Puncak dari konflik itu adalah Reconquista, yakni penaklukan kembali Semenanjung Iberia oleh kaum Kristen Eropa yang ditandai dengan runtuhnya Emirat Granada pada 1492. Setelah runtuhnya Emirat Granada, penindasan yang dilakukan rezim Kristen terhadap penduduk Muslim meningkat di Eropa. Umat Islam yang tersisa di Andalusia diusir ke Afrika Utara atau dipaksa memeluk agama Kristen. Kebebasan mereka sebagai warga negara benar-benar juga dibatasi sejak itu.

Menurut catatan sejarah, Raja Philip III dari Spanyol mengusir 300 ribu Muslim Andalusia antara 1610 dan 1614 lewat titah yang ia keluarkan pada 22 September di 1609. Melalui praktik tersebut, rezim Barat berusaha melenyapkan semua jejak peradaban Islam yang nyata telah banyak memberikan kontribusi dalam proses pencerahan Eropa.

"Semua peristiwa yang dialami kaum Muslimin sejak Perang Salib hingga Reconquista jelas-jelas merupakan bagian dari wajah anti-Islamisme atau Islamofobia yang terus berevolusi di tengah-tengah masyarakat Barat, bahkan sampai hari ini," ujar A Said Gul lagi. 

Sumber : Dialog Jumat
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA