Peristiwa Penting di Bulan Ramadhan

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 01 Apr 2020 14:34 WIB

Peristiwa Penting di Bulan Ramadhan. Foto: Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Peristiwa Penting di Bulan Ramadhan. Foto: Ilustrasi Ramadhan

Ada beberapa peristiwa penting di Bulan Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sejarah Islam, banyak ditemukan peristiwa-peristiwa penting pada Bulan Ramadhan, salah satunya pengangkatan Rasulullah. “Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Rasul Allah SWT ketika sedang berkhalwat di Gua Hira juga pada bulan Ramadhan,” tulis Ensiklopedi Islam.

Selain itu, wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW juga terjadi pada bulan yang mulia ini. Tak heran jika Ramadhan menjadi satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Alquran. Allah SWT berfirman:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)." (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Sementara, dalam Ensiklopedi Oxford, John L Esposito menjelaskan bahwa di Bulan Ramadhan setidaknya terjadi dua peristiwa besar dalam sejarah awal umat Islam. Guru Besar Bidang Agama dan Isu Internasional dari Universitas Georgetown ini menuturkan, dua peristiwa penting itu adalah dua perang besar yang dimenangkan oleh umat Islam, yaitu Gazwah Badr (Perang Badar) dan Fathu Makkah (Pembebasan Makkah).

Perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan 2 H/624 M. Inilah peperangan pertama yang dilakukan kaum Muslim melawan kaum kafir Quraisy dari Makkah setelah hijrah ke Madinah. Di tengah puasa, sekitar 308 prajurit Muslimin berangkat ke medan perang.

Mereka hendak berhadapan dengan seribuan pasukan Quraisy yang berangkat dari Makkah. Pada Jumat pagi, 17 Ramadhan, mereka berhadap-hadapan. Pasukan yang begitu besar tampak siap menerjang kaum Muslimin.
 
Dalam kekhawatiran, Nabi pun berdoa. "Allahumma ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa, tidak ada lagi ibadah kepada-Mu."

Sejarah akhirnya mencatat, pasukan kecil Muslimin itu berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Perang pertama ini pun menjadi bukti kasih sayang Allah SWT kepada Nabi. "Sebenarnya, bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah juga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan, sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhan juga." (QS al-Anfal: 17).

Sementara, perang Fathu Makkah terjadi pada tahun Ramadhan 8 Hijriah/ 630 M. Sekitar 10 ribu pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah. Berbeda dengan perang Badar, kali ini umat Islam mengambil alih Makkah dari kafir Quraisy tanpa ada perlawanan dan perang. Tak ada pertumpahan darah dalam perang Fathu Makkah. Ka’bah dan sekitarnya di Masjidil Haram kemudian disucikan dari berhala sembahan kafir Quraisy.

Masih banyak peristiwa bersejarah lainnya yang terjadi di bulan Ramadhan. Menurut Esposito, dimensi historis dan komunal dari bulan Ramadhan terwujud dalam peristiwa-peristiwa yang berlangsung setiap tahun dan sepanjang bulan tersebut.

Tidak hanya di tanah Arab, peristiwa paling penting di Indonesia juga terjadi di Bulan Ramadhan, di mana proklamasi kemerdekaan dilakukan pada 9 Ramadhan 1364 hijriah. Pada bulan puasa inilah rakyat indonesia meraih kemerdekaannya.

Cita-cita kemerdekaan itu diraih dengan mengorbankan darah para pejuang Indonesia. Jauh sebelum merdeka, Indonesia telah mengorbankan darah pasukan Pangeran Diponegoro saat perang Jawa bergolak, darah para mujahid perang sabil di Aceh, darah para Sultan, dan prajurit dari berbagai daerah seperi dari Banten, Mataram, Ternate, Tidore, hingga Makassar.

Prosesi proklamasi jauh dari kesan mewah. Disusun di rumah sederhana Laksamana Tadeshi Maeda, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mr Raden Achmad Soebardjo menghasilkan satu naskah bertulis tangan yang menyatakan kemerdekaan dan perpindahan kekuasaan. Bendera merah putih juga hanya dibuat oleh tangan Ibu Fatmawati.

Kemerdekaan yang diraih itu tidak lepas dengan campur tangan Allah SWT yang telah menyutradarai dinamika di dunia ketika itu sehingga Jepang pun harus bertekuk lutut. Karena itu, dalam naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ada kalimat pada alinea ketiga. "Atas berkat rahmat Allah SWT dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur."

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X