Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

BI Tegaskan Nilai Tukar Rupiah Masih Memadai

Rabu 01 Apr 2020 14:18 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Teller menghitung uang rupiah di Bank Mandiri. ilustrasi

Teller menghitung uang rupiah di Bank Mandiri. ilustrasi

Foto: Republika/Prayogi
Belakangan rupiah melemah drastis karena larinya dana asing dari pasar keuangan RI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menegaskan tingkat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih memadai. Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan BI dan regulator sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif yang diharapkan tidak terjadi.

"Saya sebagai gubernur BI menegaskan bahwa tingkat rupiah saat ini sudah memadai, skenario berat dalam forward looking agar tidak terjadi," katanya Rabu (1/4).

Belakangan rupiah melemah drastis karena larinya dana asing dari instrumen keuangan Indonesia. Selama periode wabah 20 Januari-30 Maret, telah terjadi capital outflow sebesar Rp 167,9 triliun.

Sebagian besar adalah dari SBN yang jumlahnya Rp 153,4 triliun dan saham Rp 13,4 triliun. Perry menegaskan hal tersebut terjadi karena kepanikan global imbas wabah Covid-19 yang menyebar dengan cepat.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) telah menyampaikan kemungkinan skenario terburuk ekonomi dan mengantisipasinya agar tidak terjadi. Untuk nilai tukar rupiah, kemungkinan terburuk bisa sampai Rp 17.500 atau Rp 20 ribu per dolar AS.

Perry menyampaikan BI telah melakukan stabilisasi rupiah dengan triple intervention. Yakni meliputi pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder. Hingga saat ini, BI sudah melakukan pembelian SBN di pasar sekunder sebesar Rp 166 triliun.

BI juga memastikan ketersediaan dolar AS di pasar spot dan mendorong penggunaan DNDF baik bagi pelaku pasar dalam maupun luar negeri. Perry mengatakan selama sepekan terakhir rupiah dan saham bergerak stabil.

"Rupiah kami pandang memadai dan akan terus kami jaga stabilitas tersebut," katanya.

Perry menambahkan, BI juga sudah melakukan injeksi likuiditas sebesar total Rp 300 triliun untuk menjaga likuiditas pasar dan perbankan. Bentuknya dengan pembelian SBN, juga menurunkan Giro Wajib Minimum, repo SBN dari perbankan.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA