Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Begitu Pedulinya Sultan Abdul Hamid ke Rakyat Aceh

Rabu 01 Apr 2020 06:23 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Poster film Payitaht Abdülhamid.

Poster film Payitaht Abdülhamid.

Foto: @payitahtTrt1
Kekhalifahan Utsmaniyah menekan Belanda agar mengizinkan rakyat Aceh pergi haji.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra

Belakangan ini, saya semakin intensif menonton serial Payitaht: Abdülhamid yang sebenarnya ditayangkan di stasiun televisi nasional Turki, TRT 1. Ketertarikan saya lantaran film ini dibuat dengan basis sejarah yang bersumber dari catatan harian Abdul Hamid II (berkuasa 31 Agustus 1876–27 April 1909), yang merupakan Sultan ke-34 Kekhalifahan Utsmaniyah yang di Barat populer disebut Ottoman Empire. Abdul Hamid disebut-sebut sebagai sultan terakhir yang memiliki kekuasaan absolut, sebelum penggantinya hanya sebagai simbol kekhalifahan hingga dibubarkan oleh kelompok Turki Muda pada 3 Maret 1924, yang menandakan terbentuknya Republik Turki.

Secara keseluruhan, seri film ini berusaha menggambarkan sosok Abdul Hamid, yang sangat lihat bersiasat dan punya banyak strategi melawan negara Barat, yang dimotori Inggris, Prancis, maupun Rusia. Bahkan, keturunan langsung Abdul Hamid, yaitu Orhan Osmanuglu ikut dilibatkan dalam pembuatan film ini agar sesuai dengan sejarah yang sebenarnya, meski memang ada improvisasi percakapan yang dilakukan para aktor agar penonton dapat dengan mudah memahami alurnya.

Abdul Hamid memang kerap menegaskan, Kekhalifahan Ustmaniyah merupakan benteng satu-satunya kaum Muslim di dunia dalam memerangi negara Eropa yang tidak kenal belas kasih sayang menjajah berbagai bangsa, baik di Asia, Afrika, maupun Amerika Latin. Ketidaksenangan negara Eropa yang langkahnya sering dijegal Abdul Hamid membuat mereka bersekongkol hingga menjulukinya sebagai Sultan Merah dalam berbagai terbitan jurnal (koran), meski itu jelas mengandung fitnah kejam. Hal itu lantaran Abdul Hamid dianggap sebagai figur berbahaya karena menolak penjajahan.

Latar belakang film ini merujuk pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, yang ditandai dengan permohonan tokoh Zionis, Theodore Hezel untuk mendirikan negara Israel di tanah Palestina, yang ditolak mentah-mentah oleh Abdul Hamid. Pun serangkaian ancaman dari Edmon Rothschild selaku pengendali ekonomi dan perbankan di Barat, yang ingin menggulingkan kekhalifahan, namun tidak sedikit pun membuat Abdul Hamid takut dan gentar.

Kembali ke cerita Payitaht: Abdülhamid, saat ini serial tersebut sebenarnya sudah memasuki sesi keempat, yang dimulai 2017-2020. Hanya saja, ada beberapa momen penting menurut penulis yang layak untuk dianalisis, termasuk episode ke-15, di mana Abdul Hamid mendapatkan surat permohonan dari Kesultanan Aceh yang sedang giat-giatnya memerangi penjajahan Kerajaan Belanda. Nama Aceh memang sudah dikenal lebih dulu pada era sebelumnya sebagai bangsa berdaulat, ketika Indonesia belum dikenal di kancah dunia. Menilik waktu peristiwa, saat itu Kesultanan Aceh jelas di bawah kendali Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat yang bertahta pada 1874-1903.

Penulis pun perlu untuk mengambil cuplikan percakapan antara Ahmad Izzet Pasha dengan Abdul Hamid. "Saya punya berita penting, Hunkarim (Yang Mulia), kita memperoleh surat dari saudara Muslim di Aceh," ucap Izzet yang menggantikan Tahsin Pasha membacakan surat itu.

Abdul Hamid pun merespon, "Aku bertanggung jawab atas Muslim di Aceh. Dalam sejarah mereka telah mengajukan diri menjadi bagian dari Kekhalifahan Utsmaniyah, tapi Khalifah belum menerimanya."

Izzet pun penasaran, "Mengapa mereka tidak diterima, Hunkar?"

Abdul Hamid menjawab, "Sulit untuk Utsmaniyah melindungi daerah di tengah lautan. Ketika di sana ada serangan, butuh waktu untuk bertahan. Jika ada sesuatu yang membahayakan kedaulatan negara Islam, Belanda akan menyerangnya sepanjang waktu. Untungnya, tentara yang kita kirim ke sana tidak hanya membebaskan orang Aceh. Apa yang tertulis? Tolong bacakan."

Sang Pasha pun membacakan detail surat dari Kesultanan Aceh.

Khalifah Islam yang berkuasa, Yang Mulia Sultan Abdul Hamid.

Kami orang-orang Aceh, kita tahu kalau Utsmani-lah pelabuhan terakhir bagi yang tertindas. Kami juga tahu kalau Khalifah Abdul Hamid Han juga seorang ayah. Sekarang, kami sudah tidak tahan lagi terhadap hal-hal yang dilakukan orang kafir Belanda untuk menaklukkan tanah kami. Orang kafir Belanda tidak membolehkan kami pergi haji. Kami telah berdoa pada Allah, lalu meminta bantuan pada Khalifah kita.

Mendengar surat tersebut, Abdul Hamid yang duduk langsung berdiri. Seketika ia menggebrak meja tanda sangat marah dengan perlakuan Belanda kepada rakyat Aceh. Dia pun tampak gelisah dan sedih dengan kondisi itu.

"Bagaimana kita bisa berada pada posisi ini, Pasha?" ucap Abdul Hamid geram.

Izzet lekas menjawab, "Anda pantas yang Mulia."

Abdul Hamid melanjutkan, "Sebuah hadist mengatakan, 'gali kuburan untuk seseorang yang membanggakan dirinya sendiri'. Kita tidak memperoleh posisi ini, bahkan dengan bekerja siang dan malam. Ketika Muslim di Aceh seperti ini, mereka menyerang agama kita. Aku harap aku terbakar dan menjadi abu. Aku menjadi abu dan angin mengempaskanku. Untuk alasan ini kita akan pergi haji. Mereka tahu itu, kaum Muslim datang bersama-sama saat berhaji. Mereka mempunyai ikatan yang lebih kuat! Mereka mengenal satu sama lain, bersatu. Baik lah orang Belanda tidak ingin orang Aceh pergi berhaji karena alasan ini."

Pada scene berikutnya, Abdul hamid pun memanggil Tahsin Pasha, yang merupakan orang paling dipercayainya dalam pemerintahan Utsmaniyah. Tahsin bertanya, "Apa yang menggangu Anda, Hunkarim?"

Abdul Hamid menjawab, "Orang Belanda tidak mengizinkan Muslim Aceh untuk pergi haji. Pasha, dapatkan informasi tentang Aceh."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA