Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Corona

Puisi Kelaparan Eropa Pater Carey, Perang Jawa, dan Corona

Rabu 01 Apr 2020 05:00 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pangeran Diponegoro mengenakan serban dan berkuda di antara para prajuritnya yang tengah berisitirahan di tepian Sungai Progo.

Pangeran Diponegoro mengenakan serban dan berkuda di antara para prajuritnya yang tengah berisitirahan di tepian Sungai Progo.

Foto: Gahetna.nl
Kisah kiriman puisi dari Pater Carey

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Semalam menjelang dini hari, perasaan tiba-tiba kaget setengah mati. Ini terjadi saat membuka pesan WA di handhone. Di sana ada sebuah pesan yang datang dari peneliti asal Inggris, Pater Carey, yang sudah mengabdikan diri untuk meneliti sosok Pangeran Diponegoro selama lebih dari 40 tahun.


Isinya mencengangkan. Peter Carey mengirimkan perenungan bernas ketika masyarakat Inggris harus berada di rumah pada tahun 1860-an, ketika Inggris baru saja lepas dari zaman paceklik (kelaparan). Orang Eropa menyebutnya 'The Great Famine'.
 Perenungan itu berupa puisi yang ditulis di Eropa semasa penduduknya harus berada di rumah karena ada wabah atau bencana itu.

Lalu apa bencana itu? Dalam kiriman itu disebut  'Wabah Kelaparan Besar' yang mengacu pada kejadian meluasnya kelaparan di Eropa pada rentang waktu antara tahun 1845-1852. Situasi buruk ini kala itu melanda banyak negara Eropa. Dampak terparahnya terjadi di Irlandia dan Skotlandia. Beruntung Irlandia saat itu agak terselamtkan karena mendapat bantuan dari Kesultanan Ottoman Turki.

Atas bantuan itu masyarakat Irlandia menyebutnya penguasa  Turki, Sultan Abdulmejid,  sebagai sosok sultan yang pemurah. Bantuan Turki itu tepatnya di wilayah Drogheda, Irlandia. Atas jasa itu lambang bulan sabit merah sampai sekarang abadi di sana. Bahkan dipakai sebagai lambang bendera klub sepakbola profesional yang ada di kota itu.


Khusus terkait dengan The Great Famine, orang Irlandia yang paling parah menerima dampaknya menyebut sebagai 'Irish Potato Famine' (Kelaparan India yang disebabkan Kentang). Mengapa demikan, ya karena di sana tiba-tiba saja masyarakat tak bisa makan kentang lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal kentang adalah makanan sumber karbohidrat utama penduduknya. Tanpa  kentang berati kelaparan menghadang.

Kentang kala itu menjadi barang langka. Tanaman kentang yang ditanam tak bisa tumbuh. Entah kenapa umbi kentang yang ditanam tiba-tiba membusuk. Dalam bahasa Irlandia krisis kelaparan ini disebut: An Gorta Mor.


Sedihnya lagi, dalam sejarah Irlandia menyebutkan wabah kelaparan ini menjadi semacam tonggak catatan sejarah buruk karena  berdampak sangat luas.  Bahkan  penduduknya berkurang hingga  20% sampai 25%. Angka tingkat kematian sekaligus imigrasi penduduk muncul sangat tinggi. Diperkirakan satu juta orang meninggal dunia dan satu juta lainnya meninggalkan Irlandia.

Wabah kelaparan ini di Irlandia kemudian berdampak luas secara politik, sosial dan ekonomi. Sampai sekarang pun negara itu masih memperdebatkan makna sejarahnya.

              ****

Nah ketika Pater Carey mengirimkan puisi yang ditulis setelah terjadinya 'The Great Famine' di Eropa itu, sontak ingatan segera berbalik pada suasana Jawa sebagai pusat Hindia Belanda pada awal tahun 1800. Di dalam buku legendaris yang ditulisnya tentang Diponegoro, Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan di Jawa, Tahun 1785-1855’), Pater Carey pun sudah  bercerita hal yang mirip dengan suasana bencana atau wabah (Pageblug) yang terjadi di Jawa kala itu. Yakni, wajah Jawa yang terkena dera wabah kolera. Banyak penduduknya yang mati.

Celakanya, selain wabah kala itu bencana alam muncul. Ini berupa meletusnya Gunung Tambora pada 1815 dan Merapi pada 1822. Bahkan khusus untuk letusan Tambora mampu menyebarkan wabah kolera sampai di India.

Di belahan Eropa, Napoleon pun terkena getahnya. Akibat letusan Tambora musim dingin bertambah panjang karena matahari tertutup debu letusan gunung apai ini. Efeknya, pasukan Prancis yang dipimpinnya  gagal menginvasi Rusia. Salju menghambat gerak pasukan. Alhasil balatentara Napoleon tak berkutik sehingga harus pulang ke Prancis.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA