Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

India Tindak Kelompok Muslim yang Tetap Adakan Pertemuan

Rabu 01 Apr 2020 05:35 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nidia Zuraya

Anggota Jamaah Tabligh menunggu bus yang akan membawa mereka ke fasilitas karantina di Nizamuddin, New Delhi, India, Selasa (31/3). Jamaah Tabligh tetap menggelar pertemuan di tengah kekhawatiran meluasnya penyebaran virus corona.

Anggota Jamaah Tabligh menunggu bus yang akan membawa mereka ke fasilitas karantina di Nizamuddin, New Delhi, India, Selasa (31/3). Jamaah Tabligh tetap menggelar pertemuan di tengah kekhawatiran meluasnya penyebaran virus corona.

Foto: REUTERS/Adnan Abidi
India mengumumkan 1.251 orang positif terinfeksi virus corona

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI — India menutup markas besar kelompok Muslim pada Selasa (31/3). Pemerintah memerintahkan penyelidikan terhadap kelompok tersebut yang dikhawatirkan terjadi penyebaran virus corona dalam pertemuan itu.

India mengumumkan 1.251 orang positif terinfeksi virus corona, sebanyak 32 di antaranya meninggal dunia. Jumlahnya memang tidak sebanding dengan Amerika Serikat (AS), Italia, dan China.

Namun, pejabat kesehatan setempat mengatakan India sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia berpotesi menghadapi lonjakan besar penularan Covid-19. Kondisi itu dapat membanjiri sistem kesehatan masyarakat yang lemah di negara tersebut.

Salah satu hot spot virus corona berada di ibukota, New Delhi. New Delhi juga pusat Muslim dari kelompok Jamaah Tabligh 100 tahun. Setelah puluhan orang dinyatakan positif terkena virus corona, setidaknya tujuh orang meninggal dunia.

Pihak berwenang mengatakan orang-orang terus mengunjungi pusat Jamaah Tabligh, di sebuah gedung berlantai lima di lingkungan yang sempit. Pusat Jamah Tabligh tersebut terus mengadakan sesi khotbah, meskipun ada perintah pemerintah untuk jaga jarak sosial.

Ratusan orang berada di gedung hingga akhir pekan lalu, ketika pihak berwenang ingin menguji mereka. Hari ini, banyak bus menjemput untuk membawa mereka ke pusat karantina.

“Sepertinya protokol sosial jarak dan karantina tidak dipraktikkan di sini,” kata pemerintah kota dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah mengatakan beberapa kasus pasien corona positif ditemukan di tempat itu. Kelalaian itu disebut telah mengancam banyak nyawa. Karena itu, pemerintah menganggap perkumpulan itu sebagai tindakan kriminal.

Baca Juga

Pihak berwenang berusaha melacak pergerakan anggota Jamaah Tabligh, setelah pertemuan di Delhi. Media mengatakan ada juga anggota Jamaah Tabligh dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Nepal, Myanmar, Kyrgyzstan, dan Arab Saudi.

Direktur jenderal kementerian kesehatan Malaysia mengatakan pada konferensi pers di Kuala Lumpur bahwa otoritas sedang menyelidiki keberadaan orang Malaysia yang baru tiba dari pertemuan di Delhi. “Jelas ada risiko tinggi, jika mereka menghadiri pertemuan (Delhi),” kata Noor Hisham Abdullah.

India dengan populasi lebih dari 1,3 miliar memberlakukan lockdown selama 21 hari atau berakhir pada pertengahan April. Kebijakan itu bertujuan membendung penyebaran virus corona. Namun, puluhan ribu migran yang tidak memiliki pekerjaan melarikan diri ke pedesaan, sehingga merusak batasan.

Salah satu administrator pusat Tablighi di Delhi, Musharraf Ali mengatakan kelompok itu mencari bantuan dari polisi dan pemerintah kota untuk berurusan dengan orang-orang yang berdatangan. Namun, kondisi lockdown itu membuat segalanya semakin sulit.

Tablighi merupakan salah satu gerakan Muslim terbesar di dunia. Sebuah pertemuan pada bulan lalu di sebuah kompleks masjid di pinggiran ibukota Malaysia, Kuala Lumpur disebut menjadi penyebab infeksi virus corona di seluruh Asia Tenggara.

Di Pakistan, kelompok itu membatalkan sebuah sidang di pinggiran kota Lahore bulan lalu, tetapi masih ada 1.100 orang yang tinggal di markas tempat kelompok itu. “Setidaknya, 27 orang dinyatakan positif mengidap virus corona,” kata Menteri Kesehatan Provinsi Punjab Pakistan, Yasmin Rashid.

Secara terpisah, Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina berencana memperpanjang lockdown selama 10 hari setelah 4 April. Bangladesh memiliki 51 kasus dikonfirmasi virus, lima di antaranya telah meninggal.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA