Selasa 31 Mar 2020 20:54 WIB

Anak 12 Tahun Jadi Korban Meninggal Corona Termuda di Eropa

Anak 12 tahun asal Belgia jadi korban meninggal termuda akibat infeksi virus corona.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Reiny Dwinanda
 Warga Belgia berjalan di depan poster kampanye melawan Covid-19 di Brussel, Selasa. Seorang anak berusia 12 tahun menjadi korban meninggal termuda akibat infeksi virus corona di Eropa.
Foto: EPA
Warga Belgia berjalan di depan poster kampanye melawan Covid-19 di Brussel, Selasa. Seorang anak berusia 12 tahun menjadi korban meninggal termuda akibat infeksi virus corona di Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS — Seorang anak perempuan berusia 12 tahun di Belgia meninggal akibat virus korona baru Covid-19 pada Selasa. Dia menjadi korban meninggal termuda di Eropa.

“Ini adalah peristiwa langka, tapi satu yang menghancurkan kami,” kata ahli virus Emmanuel Andre saat menghadiri konferensi pers harian Belgia tentang wabah Covid-19 pada Selasa (31/3).

Baca Juga

Menurut beberapa pejabat Belgia, kondisi anak perempuan itu memburuk setelah mengalami demam selama tiga hari. Namun, mereka tak menjelaskan secara terperinci apakah dia memiliki kondisi medis sebelumnya atau tidak.

Sejauh ini Belgia memiliki 12.775 kasus Covid-19 dengan 705 korban jiwa. Sekitar 4.920 pasien dirawat di rumah sakit. Artinya, separuh dari kapasitas layanan medis telah diambil untuk kasus virus corona. Belgia memperkirakan penyebaran virus akan memasuki fase puncak dalam beberapa hari atau pekan mendatang.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, wabah virus corona baru Covid-19 belum akan usai di kawasan Asia dan Pasifik. Negara-negara Asia dan Pasifik diminta mempersiapkan diri menghadapi penularan masyarakat berskala besar.

“Biar saya perjelas, epidemi ini masih jauh dari selesai di Asia dan Pasifik. Ini akan menjadi pertempuran jangka panjang dan kita tidak bisa mengecewakan penjaga kita,” kata Direktur Regional Pasifik Barat WHO Takeshi Kasai, Selasa (31/3).

Menurut dia, dengan semua tindakan yang telah diambil, risiko penularan di kawasan Asia dan Pasifik tidak akan hilang selama pandemi berlanjut. “Kami membutuhkan setiap negara untuk terus mempersiapkan transmisi komunitas skala besar,” ucapnya.

Kasai mengatakan, negara-negara dengan sumber daya terbatas, seperti negara di Kepulauan Pasifik, menjadi prioritas. Pasalnya, mereka harus mengirim sampel ke negara lain untuk diagnosis. Pembatasan transportasi membuat hal itu makin sulit dilakukan.

Sementara itu, negara-negara yang telah melihat pengurangan kasus tidak boleh lengah. Kasai memperingatkan bahwa virus mungkin datang kembali.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement