Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Perjuangan Pengungsi Rohingya di India Hadapi Corona

Selasa 31 Mar 2020 15:28 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Sejumlah pengungsi Rohingya beristirahat di tempat penampungan sementara di New Delhi.

Sejumlah pengungsi Rohingya beristirahat di tempat penampungan sementara di New Delhi.

Foto: AFP
Pengungsi Rohingya di India kekurangan fasilitas dasar hingga tak punya sabun.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Kehidupan di kamp pengungsi Rohingya di India semakin sulit. Di tengah wabah virus corona baru Covid-19, mereka harus hidup dalam keterbatasan logistik dan layanan kesehatan.

Selama sepekan terakhir, Din Mohammad (59 tahun), yang tinggal bersama istri dan lima anaknya di kamp pengungsi Rohingya di Madanpur Khadar, New Delhi, menerapkan jarak sosial dengan para pengungsi lainnya. Dia pun berusaha menjaga gubuknya yang terbuat dari kayu dan lembaran plastik tetap bersih. 

Baca Juga

Namun Mohammad menyadari, pembatasan sosial sulit diterapkan karena kepadatan kamp. Di sisi lain, para penghuni masih kekurangan fasilitas dasar seperti toilet dan air bersih. Artinya, mereka masih harus berbagi satu sama lain.

“Kita benar-benar duduk di atas tong mesiu. Tidak akan lama sebelum meledak,” kata Mohammad, seperti dikutip laman Aljazirah.

Kondisi serupa dialami para pengungsi Rohingya di distrik Nuh di Haryana. Kamp di sana dihuni hampir 400 keluarga. Bagi mereka sabun adalah barang mewah. Sementara, membeli masker wajah dan cairan pencuci tangan tampaknya masih mustahil.

Jaffar Ullah (29 tahun) menghabiskan sabun terakhirnya pada Sabtu pekan lalu. Dia tak memiliki apapun untuk mencuci tangannya guna mencegah corona. 

“Hanya beberapa keluarga yang memiliki sabun di daerah kumuh kami, sementara kebanyakan dari mereka tak mampu membelinya,” kata Ullah.

Menurut dia, pekerja kota setempat menyemprotkan disinfektan di daerah perumahan terdekat. Namun, area kamp pengungsi tak disinggahi. Ullah mengungkapkan selama beberapa terakhir, ada beberapa pengungsi yang mengalami demam.

Jumlah mereka pun meningkat. “Saya tidak tahu apakah ini terkait virus corona atau tidak, tapi orang-orang khawatir dan takut. Mereka tak dapat pergi ke rumah sakit karena departemen rawat jalan ditutup akibat lockdown (karantina wilayah),” kata Ullah. 

Perdana Menteri India Narendra Modi memang telah menerapkan lockdown. Namun, kekacauan segera terjadi tak lama setelah langkah itu diambil. Ribuan warga berbondong-bondong menyerbu pasar dan supermarket untuk membeli logistik serta kebutuhan lainnya.

Puluhan ribu pekerja migran meninggalkan berbagai kota karena pabrik dan sentra bisnis berhenti beroperasi. Banyak di antara mereka berjalan kaki ratusan kilometer untuk sampai di rumahnya. 

Kebijakan lockdown dinilai tak dilakukan dengan persiapan matang. Pekan lalu, Rohingya Human Rights Initiative (RHRI) melakukan survei dari rumah ke rumah terhadap 334 orang yang tinggal di kamp Madanpur Khadar. Mereka menemukan 37 penghuni memiliki gejala batuk, demam, dan pilek mirip Covid-19.

“Ada risiko wabah virus corona di daerah kumuh pengungsi Rohingya. Pemerintah India melindungi rakyatnya, sementara organisasi internasional seperti UNHCR (badan pengungsi PBB) telah menutup mata terhadap kami. Kami benar-benar dibiarkan sendirian memerangi pandemi ini,” kata perwakilan RHRI Sabber Kyaw Min.

Kantor UNHCR di New Delhi membantah menunda responsnya terhadap kondisi pengungsi Rohingya. UNHCR mengklaim telah memantau situasi dengan teliti dan berkoordinasi dengan organisasi nirlaba lokal. 

“Kami memang mengatur berbagai program kesadaran terkait Covid-19 di daerah kumuh selama beberapa pekan terakhir. Mulai hari ini dan seterusnya, kami akan mulai mendistribusikan perlengkapan kebersihan yang mengandung sabun, sementara masker wajah akan diberikan berdasarkan kasus per kasus,” ujar asisten petugas hubungan eksternal UNHCR Kiri Atri.

Terdapat hampir 40 ribu pengungsi Rohingya di seluruh India. Mereka tinggal di berbagai kamp dengan fasilitas dasar seadanya. Di tengah pandemi Covid-19, mereka khawatir bencana kemanusiaan telah mengintai. Sebab, mereka dibiarkan memerangi dan menghadapinya sendirian. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA