Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Saran Pakar Agar Ibu Tetap 'Waras' Selama Karantina

Selasa 31 Mar 2020 12:29 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Ibu harua bijak mengelola suasana hatinya agar tetap waras selama karantina (Foto: ilustrasi ibu stres)

Ibu harua bijak mengelola suasana hatinya agar tetap waras selama karantina (Foto: ilustrasi ibu stres)

Foto: Piqsels
Ibu harus bijak mengelola suasana hatinya agar tetap 'waras' selama karantina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama menghadapi pandemi Covid-19, tak jarang mood seseorang bisa berubah. Salah satu anggota keluarga yang penting mengelola suasana hatinya dengan baik adalah ibu.

Baca Juga

Bagi ibu pekerja, karantina di rumah memang hal yang mengagetkan. Biasanya, ibu mungkin sudah menjalani aktivitas di luar rumah dengan bekerja dan bertemu kolega. Namun, ibu pekerja kini harus diam di rumah.

Di samping itu, ibu rumah tangga mungkin saja sebelumnya punya me time dengan tidur siang atau melakukan hobi sebelum anak pulang sekolah. Namun, kini ibu seharian harus bersama buah hati.

Ibu mungkin berada dalam kondisi terhimpit karena tak lagi punya ruang untuk sendiri. Meski demikian, ibu harus bijak mengelola suasana hatinya dan menjaga diri agar tetap "waras".

"Penting menjadi ibu yang tetap waras di rumah itu tidak mudah. Tentu stres akan datang, dan ingat, kemarahan ibu sebagai pusat emosi di rumah akan memengaruhi yang lain," kata psikolog Roslina Verauli MPsi saat live Instagram, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, periode waktu untuk diri sendiri tentu berkurang. Namun, bagaimanapun masa-masa ini tetap harus dilewati dengan mengelola suasana hati secara baik.

Ibu bisa melakukan hobi-hobi yang tertunda selama ini, entah itu membaca, berkebun, memasak, dan lainnya. Selama periode pandemi ini, seorang ibu atau istri membutuhkan penyaluran aksi. Hal ini untuk memberikan kenyamanan pada diri sendiri.

Sebagian ada yang menyalurkannya lewat berbelanja impulsif, makan, hingga menumpahkan emosi dengan marah-marah. Verauli mengimbau ibu harus punya toleransi yang lebih besar dalam mengelola stres.

"Tidur cukup sehingga otak betul-betul cukup istirahat karena pusat emosional ada di otak. Jadi, otak butuh istirahat sehingga emosional mudah terkelola," katanya menambahkan.

Komunikasi dengan pasangan tentunya menjadi hal penting lainnya. Komunikasi terbuka, kerja sama, saling mengerti akan situasi ini, termasuk anak-anak.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA