Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Bercermin Perang Parit Al Farisi Ketika Hadapi Corona

Selasa 31 Mar 2020 07:19 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Kota Madinah tempo dulu.

Kota Madinah tempo dulu.

Foto: Republika.co.id
Kisah nabi di dalam perang parit di Madinah

Oleh: Hendra J Kede, Aktivis KB PII Dan Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat RI

Alqur'an Surah Al-Ahzaab : 33 (QS 33 : 33) mendadak viral di media sosial. Hal ini terjadi semenjak pemerintah mengumumkan pasien positif Virus Corona di Indonesia. Kata wa qurna yang ada diawal QS 33 : 33 yang berarti perintah tinggal di rumah itu, dihubung-hubungkan dengan salah satu kebijakan pemerintah menangani penanggulangan penyebaran virus Corona: tinggal dirumah!

Sekilas memang pengucapan kata wa qurna dengan Corona sangat mirip. Apalagi terjemahan bahasa Indonesianya adalah perintah tinggal dirumah. Memang begitulah dunia media sosial, penuh dengan kreatifitas anak manusia.

Dalam Tafsir Al-Mishbah yang ditulis Prof. Dr. M. Quraish Shihab, sekilas ada ulasan tentang QS Al-Ahzaab Ayat 1-35. Maka apakah ini bisa dikaitkan dengan perang melawan Pandemi Corona yang sedang bangsa Indonesia hadapi.

               ****

Dalam Alquran Surah Al-Ahzaab salah satunya memang menceritakan bagaimana pertolongan Allah SWT datang saat perang. Kisah ini terjadi saat pasukan Qurays mengepung Madinah. Kala itu muncul angin dingin nan menusuk tulang bertiup memporak porandakan perbekalan musuh.

Dikisahkan juga, bila kala itu datang tentara-tentara Allah SWT yang tidak kasat mata. Mereka ikut masuk kedalam barisan diantara 3.000 prajurit Rasulullah yang gigih ikhlas berjuang menghadapi serbuan 12.000 prajurit Qurays yang mengepung dengan beberapa prajuit dari suku lainnya. Berkat pertolongan Allah tersebut peperangan berakhir dengan kekalahan total pasukan 'konfederasi' yang mengepung Kota Madinah.

Bercermin dalam kisah ini, ternyata banyak riwayat dalam Hadits yang menerangkan bahwa sebenarnya strategi militer yang awalnya direncanakan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau memang sebagai panglima perang. Namun bukanlah strategi militernya yang kemudian diterapkan dan membawa memenangkan perang ini.

sebelum perang terjadi, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Persia, Salman Al Farisi, bertanya kepada Nabi: "Apakah strategi militer yang akan diterapkan tersebut merupakan wahyu dari Allah SWT?  Atau hanya pilihan Nabi sebagai Panglima Perang di anatara berbagai pilihan strategi yang ada?

Lebih lanjut Saman Al Farisi melanjutkan pertanyaanya bahwa seandainya strategi tersebut wahyu dari Allah SWT dan atau ketetapan Nabi Muhammad SAW, maka tidak bisa tidak harus dilaksanakan. Ia pasti akan patuh tanpa bertanya, walau nyawa taruhannya dan melindungi kaum muslimin yang ada di Kota Madinah.

Sebaliknya, ujar Salman, namun jika strategi tersebut hanya pilihan Nabi sebagai Panglima Perang semata diantara pilihan yang ada dan masih memungkinkan secara ketentuan untuk diubah, maka ia meminta ijin menyampaikan usulan tambahan. Rasul pun  bebas memilih dengan menerima atau menolaknya.

Mendengar pernyataan Salman, Nabi Muhammad SAW menerimanya. Dia malah mempersilahkan Salman menjelaskan usulan alternatif strategi perangnya.

Sampai disini terlihat adab dan etika yang sangat mulia yang ditunjukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Panglima Militer dan demikian juga dengan Salman Al Farisi R.A. sebagai sahabat dan prajurit bawahan dalam militer. Disitu Salman mengusulakn strategi perang parit. Jadi parit pelrindungan akan dibuat mengelilingi Madinah. Parit itu berfungsi sekaligus sebagai penghalang dan benteng untuk menahan lahu pasukan yang dipimpun suku Qurays masuk secara leluasa ke Madinah.

Di akhir perang, strategi Salman ini mampu memangkan pertempuran. Bahkan kemudian tercatat bila 'peperangan parit' ini dimenangkan dengan korban paling sedikit dalam sejarah peperangan umat Muslim. Dan kemudian sejarah mencatat pula bahwa Nabi Muhammad SAW lebih menerima dan memilih strategi yang dipresentasikan Salman Al Farisi. Nabi sama sekali tanpa merasa tersinggung sedikitpun apalagi malu dan gengsi hanya karena strategi awal beliau tidak jadi dipakai.

                ***

Kisah ini memang memperlihatkan banyak inspirasi, terutama dalam menghadapi peperangan melawan pandemi Corona ini. Pertama, seorang pemimpin harus membuka diri seluas-luasnya untuk menerima kemungkinan-kemungkinan adanya strategi-strategi baru sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW itu.

Kedua,  semua warga negara, khususnya para pejabat pembantu Presiden Republik Indonesia selaku Panglima Tertinggi dalam peperangan melawan Virus Corona, janganlah ada sedikitpun keraguan untuk menyampaikan masukan-masukan strategi baru, Namun ketika memberikan usulan harus tetap sesuai dengan unggah ungguh dan kepatutan sebagaimana dicontohkan Salman Al Farisi.

Ketiga, Presiden selaku panglima tertinggi dalam peperangan melawan Virus Corona harus  bijaksana sekali membuka buka diri seluas-luasnya dan berkenan mendengar serta menerima strategi-strategi baru dari manapun datangnya yang boleh jadi lebih efektif dan efisien.

Keempat, di dalam menghadapi pandemi Corona prinsip-prinsip keterbukaan informasi sangatlah penting. Ini pun  telah diperlihatkan sikap Nabi Muhammad SAW dalam suasana genting ketika pasukan musuh mengepung Madinah. Rasulullah dengan terbuka mengakui kepada semua pihak bahwa pilihan strategi awal perangnya bukanlah wahyu atau berdasar atas otoritas kenabian.

               ***

Pada saat menjelaskan QS Al-Ahzaab : 28-29 ini,  Quraish Shihab mengutip pendapat Fakhruddin ar-Razi bahwa Alhlak mulia hanya terdiri dari dua hal pokok yaitu,  pengagungan Allah SWT dan kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Dan kita berharap adanya Do'a para pemimpin bersama masyarakat akan membukakan pintu-pintu pertolongan Allah SWT menghadapi pandemi ini.

Cinta dan kasih sayang pemimpin kepada rakyat serta cinta dan kasih sayang masyarakat kepada pemimpin akan melahirkan strategi yang meminimalkan korban dikalangan masyarakat luas, termasuk meminimalkan korban dari pihak Dokter, Perawat, dan Tenaga Medis, dan tenaga lainnya seperti dan tidak terbatas jurnalis.

Usaha gigih penuh keikhlasan pemimpin dan masyarakat bergandeng tangan akan menuntun kita sebagai negara bangsa menemukan strategi brilian untuk memenangkan peperangan dan mengakhiri pandemi Corona ini.

Allahumma Amiin

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA