Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Wabah Corona, 12 PLTU Terancam Molor

Selasa 31 Mar 2020 01:14 WIB

Rep: Intan Pratiwi / Red: Agus Yulianto

PLN telah operasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cilacap Ekspansi II (PLTU Jawa 8) dengan kapasitas 1000 Mega Watt (MW) yang berlokasi di Desa Karangkandri, Slarang dan Menganti, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

PLN telah operasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cilacap Ekspansi II (PLTU Jawa 8) dengan kapasitas 1000 Mega Watt (MW) yang berlokasi di Desa Karangkandri, Slarang dan Menganti, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

Foto: Dok PLN
Estimasi kerugian sekitar Rp 209,6 triliun akibat penundaan pembangunan PLTU itu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wabah corona yang melanda seluruh dunia berimbas pada progress pembangunan PLTU.  Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Adila Isfandiari mencatat s,udah ada beberapa PLTU yang menyatakan kondisi force major karena wabah corona.

“Ini per tanggal 8 maret kemarin ada 12 PLTU yang sedang dibangun yang telah menyampaikan notifikasi post major atau indikasi akan terdampak covid-19 sendiri,” ujar Aldila, Senin (30/3).

Menurut Adila, global energi telah menghitung estimasi kerugian, yakni sekitar Rp 209,6 triliun akibat penundaan pembangunan PLTU itu. Selain itu, beberapa penyebab penundaan ini karena pembatasan perjalanan dan pergerakan sendiri antara negara-negara dunia, mislanya keterlambatan pengiriman impor bahan baku komponen PLTU dan tenaga ahli.

Untuk itu, kata Aldila, pemerintah dan PLN perlu untuk menyesuaikan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dengan situasi pandemi virus corona Covid-19.

“Di bulan Januari kita sudah menyaksikan langsung krisis iklim yang sangat nyata menerima curah hujan yang cukup tinggi setelah 154 tahun. Jadi, itu tanda-tanda krisis iklim itu memang sudah terjadi di Indonesia, dan kasus lainnya Covid-19. Ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam menyusun RUPTL selanjutnya,” ujar Aldila.

Seperti diketahui, sebelum adanya pandemic covid-19 ini, Bank Indonesia sendri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di 5 persen – 5,4 persen, namun kemudian diralat menjadi 4,2-4,6 persen karena ada pandemi ini.

“Bahkan kementrian keuangan kita meralat lagi bahwa pertumbuhan ekonomi bisa semakin buruk bisa mencapai 2,5 hingga 0 persen jika wabah pandemi virus corona ini berlangsung lama. Tentunya, ini harus disesuaikan di dalam asumsi pertumbuhan ekonomi RUPTL,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA