Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Antara Haji Berkali-kali dan Menyantuni Anak Yatim

Senin 30 Mar 2020 16:44 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Menyantuni anak yatim (ilustrasi).

Menyantuni anak yatim (ilustrasi).

Foto: Republika/Ita Nina Winarsih
Haji berkali-kali dan menyantuni anak yatim, manakah yang pahala lebih baik?

JAKARTA -- Setiap Muslim sudah sewajarnya merindukan Baitullah di Tanah Suci. Ada yang berkesempatan untuk mengunjunginya. Ada yang belum pernah merasakannya. Akan tetapi, ada yang mampu lebih dari satu kali pergi ke Ka'bah, menunaikan ibadah haji.

Baca Juga

Baik haji maupun umrah merupakan ibadah yang bernilai. Rasulullah SAW bersabda, "Ibadah umrah pertama sampai ibadah umrah kedua akan menutupi dosa-dosa kecil antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga" (HR Bukhari-Muslim).

Akan tetapi, Islam juga menganjurkan umat untuk memiliki kepekaan sosial. Dalam hal ini, orang yang mampu melaksanakan haji berkali-kali tak ada salahnya untuk memilih ibadah sosial. Sebagai contoh, menyantuni anak-anak yatim.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda, "Saya dan penyantun anak yatim seperti dua jari ini di surga." Nabi SAW menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Dalam hadis ini, beliau tak hanya menjanjikan surga kepada orang-orang beriman yang penyantun anak yatim. Nabi SAW lebih lanjut menunjukkan, pelaku amalan itu akan berada bersama beliau kelak di surga yang sama. Tentu saja, surga yang ditempati Nabi SAW adalah yang paling baik dan paling bagus.

Seorang Muslim yang memiliki kemampuan untuk berhaji dan dia belum pernah melaksanakannya, maka wajib baginya menjalankannya, tanpa harus balasannya. Sedangkan Muslim yang sudah berhaji dan memiliki dana lebih, seyogianya memikirkan pahala dan manfaat terbaik baginya, dibandingkan haji berulang yang hukumnya sunah.

Bandingkanlah. Ibadah haji memerlukan persiapan fisik dan mental yang tak ringan. Adapun menyantuni anak yatim merupakan ibadah yang sangat mudah, tidak memerlukan persiapan fisik dan mental apa pun. Alhasil, menyantuni anak yatim adalah ibadah yang sungguh sangat ringan untuk dikerjakan. Padahal, balasan yang dijanjikan Allah SWT ialah surga yang sama dengan Rasul SAW.

Ini menunjukkan, Rasul SAW lebih memprioritaskan ibadah sosial daripada ibadah individual. Bahkan, Nabi SAW sendiri sesungguhnya memiliki kesempatan berhaji setidaknya tiga kali. Akan tetapi, sepanjang hayatnya hanya satu yang beliau laksanakan. Beliau juga mempunyai ratusan kali kesempatan berumrah. Namun, beliau hanya menjalankan umrah sunah dua kali.

Rasul SAW lebih memprioritaskan untuk berinfak fi sabilillah, menyantuni janda-janda, fakir miskin, anak-anak yatim, dan pelajar-pelajar yang miskin. Karena manfaatnya jauh lebih besar bagi umat.

Maka, sudah selayaknya seorang Muslim untuk meniru apa-apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Wallahu a'lam.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA