Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Beda Pendapat Ahli Soal Bahaya Bilik Sterilisasi

Senin 30 Mar 2020 10:39 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita

Seorang warga disemprotkan cairan disinfektan saat akan memasuki pemukiman warga di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Seorang warga disemprotkan cairan disinfektan saat akan memasuki pemukiman warga di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Foto: ANTARA/abriawan abhe
WHO memberi peringatan terkait bahaya pemakaian alkohol dan klorin pada tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pandemi virus corona atau Covid-19, membuat pemeritah, termasuk daerah di Indonesia memperbanyak pemasangan bilik sterilisasi atau sterilization chamber. Begitu pun disinfektan dan antiseptik, yang dinilai sebagai langkah preventif untuk mencegah penularan virus corona, diburu dan diracik oleh masyarakat.

Baca Juga

Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi mengungkapkan, baru-baru ini, World Health Organization (WHO) telah memberi peringatan terkait bahaya pemakaian alkohol dan klorin (chlorine) pada tubuh. Menurutnya, informasi tersebut mengingatkan bahwa bahan kimia perlu ditangani dengan benar.

"Dalam hal ini, pengetahuan mengenai kimia sangat diperlukan, mengingat banyak masyarakat awam yang membuat disinfektan maupun antiseptik sendiri," ujar Fredy di Surabaya, Senin (30/3).

Fredy mengingatkan, jika pemakaian alkohol dan klorin dilakukan oleh orang yang tidak punya kompetensi dan kapabilitas yang cukup dalam meramu dan menggunakan secara benar maka akan sangat berbahaya. Baik bagi diri sendiri, orang lain, dan juga lingkungan dalam waktu dekat dan bisa jadi jangka panjang.

Dosen yang bergelut di bidang kemo dan biosensor ini menjelaskan lebih dalam apa itu antiseptik dan disinfektan. Berdasarkan istilah WHO, antiseptik adalah salah satu jenis disinfektan yang menghancurkan atau menghambat mikroorganisme pada jaringan hidup tanpa mengakibatkan cedera.

“Termasuk dalam klasifikasi ini adalah polyvidone iodine, chlorhexidine, dan alkohol,” ujar Fredy.  

Sedangkan, disinfektan berfungsi menghancurkan dan menghambat mikroorganisme patogen pada keadaan nonspora atau vegetatif. Bahan-bahan berbasis kedua material yang disebut, yaitu klorin dan etanol, yang banyak tersedia di pasaran.

WHO, kata Fredy, sudah jelas tidak merekomendasikan cairan seperti etanol, klorin, dan H2O2 pada bilik sterilisasi. Fredy menjelaskan, bahan-bahan tersebut bersifat karsinogenik, bahkan mengakibatkan mutasi bakteri, dapat dilihat Material Safety Data Sheet (MSDS). Pendapat ini mempertimbangkan dampak negatif pada satu hingga dua tahun ke depan. 

Bilik sterilisasi

photo
Penumpang memasuki bilik disinfektan yang terpasang di pintu keberangkatan Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, Lombok Tengah, NTB. - (ANTARA/Ahmad Subaidi)

Fredy menerangkan, bilik sterilisasi memiliki dua bagian, yaitu bilik itu sendiri dan bahan disinfektan yang digunakan. “Tujuan dari bilik ini adalah membunuh mikroorganisme yang menempel di badan atau di pakaian seseorang secara seketika,” kata dia.

Padahal, kata dia, disinfektan hanya akan memengaruhi yang ada dalam ruangan bilik meski residunya pun dapat keluar dalam jumlah besar. Namun, hal yang menjadi pokok masalah bahaya dari bilik ini adalah bahan kimia yang digunakan.

Fredy melanjutkan, semua bahan kimia yang umum tersedia sebagai disinfektan berdasarkan Centers of Disease Control and Prevention (CDCP) dan WHO, hampir semua senyawa tersebut memiliki efek yang cukup signifikan. Apalagi, bila digunakan kepada manusia secara langsung.

“Ada dua senyawa yang aman digunakan, yaitu ozon dan chlorine dioxide, namun tetap dengan ukuran yang telah ditentukan dan cara pemakaian yang benar,” kata Fredy.

Bilik sterilisasi menggunakan ozon dan chlorine dooxide memiliki potensi untuk digunakan mengatasi kasus Covid-19 dengan aman. Namun, syarat bilik sterilisasi harus dibuat dan dikontrol kualitasnya oleh tenaga ahli yang kompeten.

“Kontrol kualitas dari bilik yang dimaksud adalah terkait dosis dan cara penggunaan yang benar. Bahan-bahan disinfektan lain selain ozon dan chlorine dioxide tidak direkomendasi karena dapat mengakibatkan efek samping yang fatal dalam jangka waktu dekat maupun panjang,” kata Fredy.

Fredy mengatakan, dengan kondisi pandemi seperti saat ini, tentu saja semua cara perlu untuk dikerahkan dalam mengatasinya. “Saya harap hal ini dapat mengingatkan masyarakat bahwa boleh mengatasi masalah, tetapi jangan sampai menimbulkan masalah baru agar masyarakat tetap sehat selamat,” ujar Fredy.

Kandungan cairan

photo
Petugas Satpol PP Jatim memberikan arahan kepada pengemudi ketika memasuki bilik penyemprotan disinfektan untuk kendaraan di Gedung Grahadi di Surabaya, Jawa Timur. - (ANTARA/ZABUR KARURU)

Ketua Departemen Farmasetika Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga Surabaya (Unair), Retno Sari, menyatakan, selama ini yang digunakan untuk penyemprotan di bilik sterilisasi utamanya yang dimiliki Pemkot Surabaya, adalah benzalkonium chloride. Prinsipnya, benzalkonium chloride merupakan kelompok senyawa ammonium quarterner yang bersifat surfaktan.

"Surfaktan artinya dia akan mempengaruhi permukaan. Biasanya kalau sabun itu termasuk surfaktan. Bahan aktif sabun itu termasuk surfaktan. Artinya kalau kita mencuci tangan dengan sabun, itu bahan-bahan yang lemak protein itu akan berikatan kemudian dia akan terjadi menggumpal kemudian akan merusak," kata Retno.

Retno Sari menjelaskan, virus merupakan makhluk hidup atau not living organism yang tidak ada dinding selnya, tetapi memiliki lapisan proteinnya. Jika protein itu terkena bahan yang sifatnya mempengaruhi sifat permukaannya maka dia akan menggumpal dan rusak.

Diklaim aman

photo
Warga menyemprotkan cairan disinfektan kepada pengendara motor yang akan menuju Kampung Cakung di kawasan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. - (Putra M. Akbar/Republika)

Ia mengatakan kandungan yang ada di dalam cairan disinfektan, baik yang disemprot maupun yang terdapat di dalam bilik sterilisasi itu aman. "Jadi bahan yang digunakan selama ini untuk bilik itu tentu saja dengan kadar yang aman. Kalau ada yang menyampaikan ada efek samping dan sebagainya semua bahan akan digunakan tidak sesuai dengan kadarnya itu pasti ada efek sampingnya," kata Retno Sari.

Dia juga menerangkan, proses disinfeksi berbeda dengan sterilisasi. Pada sterilisasi, harus benar-benar steril dan mikrobanya harus 0 sedangkan disinfeksi hanya menurunkan jumlah bakteri virus sampai dia tidak membahayakan kesehatan.

"Meski bahan yang digunakan sama, baik yang di bilik sterilisasi maupun yang disemprot, namun tetap menganjurkan masyarakat untuk mandi dan cuci tangan jika sampai di rumah," kata dia.

Guru besar Unair, Profesor Nidom Foundation (PNF) menyatakan, bahan disinfektan yang digunakan, utamanya di jajaran Pemkot Surabaya sudah aman. Sebab, benzalkonium chloride yang terkandung dalam disinfektan itu masuk dalam golongan ammonium quartener. 

Menurutnya, itu aman untuk manusia karena levelnya tingkat rendah. “Insya Allah aman untuk manusia, intinya aman asal campurannya benar,” kata Nidom.

Meski benzalkonium chloride ini juga dimanfaatkan untuk penyemprotan kandang binatang, Nidom memastikan, dalam aturan umum disinfektan, tidak ada masalah jika digunakan untuk manusia. Namun, yang terpenting adalah tujuannya untuk membunuh mikroorganisme. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA