Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Sunan Gunung Jati Usir Wabah di Cirebon dengan Azan Pitu

Senin 30 Mar 2020 04:37 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Tujuh orang muazin mengumandangkan Azan sebelum shalat Jumat di Masjid Sang Cipta Rasa di Kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (27/3/2020). Tradisi Azan pitu yang dikumandangkan oleh tujuh orang muazin tersebut dipercaya sebagai pengangkal musibah.

Tujuh orang muazin mengumandangkan Azan sebelum shalat Jumat di Masjid Sang Cipta Rasa di Kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (27/3/2020). Tradisi Azan pitu yang dikumandangkan oleh tujuh orang muazin tersebut dipercaya sebagai pengangkal musibah.

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Lantunan azan pitu membuat wabah penyakit di Cirebon lenyap.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu

Nyi Mas Pakungwati Ratna Kemuning, salah satu istri Sunan Gunung Jati meninggal dunia karena terkena suatu penyakit misterius di Cirebon pada abad ke-15. Tak hanya merenggut nyawa Nyi Mas Pakungwati wabah itu juga menyerang sejumlah warga Cirebon di sekitar keraton. Beberapa upaya dilakukan untuk menghilangkan wabah tersebut, tetapi hasilnya selalu berujung kegagalan. Akibatnya banyak rakyat Cirebon yang meninggal dan jatuh sakit.

Setelah berdoa kepada Allah, Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati mendapatkan petunjuk bahwa wabah di tanah Caruban atau Cirebon tersebut akan hilang dengan cara mengumandangkan azan yang dilantunkan tujuh orang sekaligus. Sunan Gunung Jati akhirnya berikhtiar dengan bertitah kepada tujuh orang agar mengumandangkan azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai upaya menghilangkan wabah tersebut.

photo
Masjid Agoeng Sang Ciptarasa Tjirebon 1930. - (dok.ANRI)

Dalam salah satu babad Cirebon, wabah penyakit di Cirebon datang karena kiriman dari seorang pendekar ilmu hitam, Menjangan Wulung yang sering berdiam diri di momolo (kubah) masjid. Ketidaksukaannya terhadap syiar Islam di Cirebon membuatnya menyebarkan wabah dan setiap muazin yang melantunkan azan mendapatkan serangan hingga meninggal.

Dalam salah satu versi, babad Cirebon tulisan Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, saat Sunan Gunung Jati memberikan titah tujuh orang sekaligus melantunkan azan ketika waktu Subuh, suara ledakan dahsyat terdengar dari bagian kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun pada 1480 Masehi. Ledakan itu membuat Menjangan Wulung yang berdiam diri di kubah masjid terluka. Bahkan tubuhnya hingga terpental dan darahnya berceceran di area masjid. Namun, salah satu pengumandang azan pitu dikabarkan juga meninggal dunia karena ledakan tersebut.

Sementara kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa terpental hingga ke Banten dan menumpuk di kubah Masjid Agung Serang Banten. Karena itu, hingga kini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak memiliki kubah, sementara Masjid Agung Serang Banten memiliki dua kubah.

photo
(ilustrasi) Masjid Agung Banten di kesultanan banten abad ke-19 - (tangkapan layar wikipedia.org)

Kisah tewasnya Menjangan Wulung menjadi legenda di masyarakat Cirebon. Darah Menjangan yang berceceran karena ledakan disebut menetes di tanaman labu hitam, atau warga Cirebon biasa menyebutnya wolu ireng yang dinilai beracun dan tak layak dimakan. Karena itu, memakan walu ireng adalah pantangan bagi anak, cucu, dan keturunan orang Cirebon.

Seperti halnya sejarah tuturan yang diceritakan dari orang tua ke anaknya. Azan pitu juga memiliki versi berbeda. Dalam versi babad lain, asal muasal azan tujuh adalah karena atap Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat itu masih beratap rumbia terbakar. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, tetapi selalu gagal.

photo
Peziarah di makam Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Rabu (5/6). - (Republika/Fuji E Permana)

Nyi Mas Pakungwati Ratna Kuning, putri Tumenggung Cirebon Pangeran Cakrabuana (Pangeran Walangsungsang), istri Sunan Gunung Jati yang dinikahi pada 1478 Masehi, memberikan saran kepada suami agar mengumandangkan azan. Namun saat azan dilantunkan oleh satu hingga enam orang, api tak kunjung padam. Baru setelah tujuh orang melantunkan azan bersamaan, si jago merah mulai jinak dan mati.

Kini azan pitu terus dilestarikan oleh Pemerintah Kota Cirebon dan Keraton Kasepuhan. Tradisi azan pitu dilakukan setiap Shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA