Tuesday, 3 Syawwal 1441 / 26 May 2020

Tuesday, 3 Syawwal 1441 / 26 May 2020

Covid-19 Menambah Ketakutan di Somalia

Senin 30 Mar 2020 04:32 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Pengungsi di Somalia mengantre untuk mendapat air bersih. Corona menjadi masalah baru yang menimbulkan ketakutan di Somalia. Ilustrasi.

Pengungsi di Somalia mengantre untuk mendapat air bersih. Corona menjadi masalah baru yang menimbulkan ketakutan di Somalia. Ilustrasi.

Foto: PKPU
Corona menjadi masalah baru yang menimbulkan ketakutan di Somalia

REPUBLIKA.CO.ID, MOGADISHU -- Virus corona hanyalah dongeng pada awalnya, berupa desas-desus di sepanjang jalur berdebu kamp pengungsi yang Habiba Ali sebut rumah. Cerita tentang penyakit yang melanda dunia di luar perbatasan Somalia itu menewaskan ribuan orang dan membuat beberapa negara terkaya panik.

Kemudian kasus virus pertama Somalia diumumkan pada 16 Maret. Hampir tiga dekade konflik, serangan ekstremis, kekeringan, penyakit, dan wabah belalang yang menghancurkan telah mengambil korban besar. Kini masalah baru untuk kehilangan nyawa pun tiba.

"Kami telah berhadapan dengan rasa takut yang luar biasa tentang penyakit ini. Dan kita bahkan menghindari berjabatan tangan dengan orang-orang. Ketakutan kita adalah nyata dan kita tidak berdaya," kata Ali menunjukan rasa khawatir tentang keselamatan keenam anaknya.

Bahkan ketika petugas kesehatan mengenakan masker memasuki kamp Sayidka di ibu kota Mogadishu untuk berdemonstrasi cuci tangan dengan sabun dan air, beberapa pihak berwenang menunjukKan rasa takut. Anak-anak kecil meniru langkah-langkah pencegahan virus, dengan senang hati menutup mulut dengan tangan mereka.

Somalia berada di peringkat 194 dari 195 negara dalam Indeks Keamanan Kesehatan Global Johns Hopkins 2019. Bahkan mendapat skor nol di beberapa bidang termasuk kesiapan darurat, tanggap darurat, praktik pengendalian infeksi, dan akses perawatan kesehatan.

Negara ini tidak memiliki peralatan untuk jenis perawatan intensif yang dibutuhkan pasien Covid-19.  Menteri Kesehatan Fawsia Abikar mengatakan, hanya ada kurang dari 20 tempat tidur di unit perawatan intensif. Terlebih lagi, Somalia tidak memiliki kemampuan untuk menguji virus korona, artinya, sampel dikirim ke luar negeri dan hasilnya tertunda selama lebih dari sepekan.

Meski dihantam dengan ketidaksiapan, tenda karantina didirikan di sekitar pelabuhan tua di Mogadishu. Pada Ahad (29/3) semua penerbangan internasional dan domestik, kecuali untuk kargo medis dan makanan darurat, telah ditangguhkan.

"Ini adalah penyakit yang membanjiri sistem perawatan kesehatan negara yang lebih canggih daripada kita," Presiden Mohamed Abdullahi Mohamed memperingatkan dalam kampanye kesadaran publik.

Kasus Covid-19 ketiga dikonfirmasi dalam beberapa hari terakhir. Orang yang terinfeksi adalah kontraktor untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di kompleks yang dijaga ketat di bandara internasional tempat banyak diplomat dan kelompok bantuan berada.

Nasib Somalia sebagian tergantung pada otoritas lain yang lebih berbahaya, milisi al-Shabab yang terkait al-Qaida. Mereka mengendalikan atau memegang kendali di bagian-bagian wilayah tengah dan selatan.

Para pemimpin al-Shabab baru-baru ini bertemu untuk membahas virus corona sebagai tindakan pencegahan. Namun untuk mencapai kesepakatan akan sangat sulit, menimbang kelompok itu telah memusuhi pekerja kemanusiaan selama keadaan darurat di masa lalu.

"Pelajaran dari epidemi sebelumnya, termasuk wabah kolera pada tahun 2017, memberi tahu kami bahwa tidak mungkin mereka akan mengizinkan mitra kemanusiaan akses ke daerah-daerah yang membutuhkan," kata direktur Somalia untuk Aksi Melawan Kelaparan, Ahmed Khalif.

Saat ini, sistem kesehatan Somalia telah menunjukkan ketegangan. Beberapa rumah sakit di Mogadishu telah mengusir orang-orang dengan demam tinggi sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan stigma yang mungkin dihadapi orang-orang yang terinfeksi virus.

"Jika dikonfirmasi, praktik semacam itu dapat lebih lanjut mencegah pasien keluar dan mencari perawatan medis," kata dokter spesialis penyakit dalam Ali Hassan.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA