Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Saat Badai Covid-19 Menggulung Pariwisata Bali

Ahad 29 Mar 2020 12:09 WIB

Red: Friska Yolandha

Pemandu wisata memberi penjelasan kepada turis asing di kawasan obyek wisata Pura Taman Ayun, Badung, Bali, Kamis (12/3/2020).

Pemandu wisata memberi penjelasan kepada turis asing di kawasan obyek wisata Pura Taman Ayun, Badung, Bali, Kamis (12/3/2020).

Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Imigrasi Bali mencatat ada 117 warga asing yang ditolak masuk sejak 5 Februari.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Rasanya, baru kemarin terjadi badai yang menerpa pariwisata Bali pada 2017 ketika Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, mengalami letusan/erupsi yang menggulung pariwisata Pulau Dewata hingga luluh lantak. Ibarat mimpi pada siang bolong, pariwisata Bali yang menyumbang 40 persen pariwisata Indonesia itu agaknya belum lama pulih, badai sudah datang lagi, bahkan dengan gelombang yang lebih tinggi. Badai kali ini bernama virus corona atau Covid-19 yang juga telah melanda sebagian besar negara di dunia. 

Baca Juga

Jumlah pasien positif Covid-19 di Bali memang masih jauh di bawah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Kendati demikian, Bali merupakan kawasan pariwisata dunia. Apalagi, mayoritas pasien Covid-19 di Bali adalah warga negara asing (WNA).

Logikanya, Bali sebagai kawasan pariwisata seharusnya memiliki jumlah pasien yang terpapar lebih banyak. Namun, ada beberapa langkah menarik yang dilakukan Pemprov Bali sehingga tidak banyak paparan Covid-19 di kawasan wisata dunia itu.

Di tengah kekurangan dalam kesiapsiagaan wilayah, Bali masih mampu menghambat laju Covid-19 di pintu masuk bandara. Pemerintah setempat memulangkan ratusan orang yang datang ke Bali yang berasal dari negara-negara terpapar Covid-19 meski pengunjung yang bersangkutan tergolong sehat saat tiba.

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali mencatat ada 117 warga asing yang ditolak masuk ke Bali sejak 5 Februari sampai 17 Maret sesuai Permenkumham Nomor 7 Tahun 2020. "Penolakan ini dilakukan karena mereka memiliki riwayat perjalanan ke negara terpapar Covid-19, di antaranya Rusia, Amerika Serikat, dan Ukraina," kata Kakanwil Kemenkumham Bali, Sutrisno, di Denpasar, Kamis (19/3).

Selain ketat di pintu masuk, Pemprov Bali melalui satgas penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali juga melakukan kolaborasi dengan kalangan perhotelan untuk mengecek tamu yang masuk. Pemerintah juga meminta warga Bali yang bekerja di kapal pesiar atau menjadi TKI untuk memeriksakan diri serta menyiapkan tempat karantina dan rapid test.

Bahkan, Pemprov Bali juga menempuh satu langkah penuh risiko ketika ketua satgas penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra mengumumkan ada dua pasien positif Covid-19 di Pulau Dewata yang merupakan warga asal Bali. "Ini penting saya informasikan kepada masyarakat. Artinya bahwa masyarakat Bali saat ini sudah ada yang terinfeksi positif dua orang. Dengan demikian, Covid-19 sudah ada di Bali, sudah ada di sekitar kita," kata dia yang juga Sekda Bali itu.

Ia memerinci, satu warga Bali yang positif diketahui terjangkit setelah pulang dari Italia. Sementara itu, satu warga Bali lainnya terjangkit setelah melaksanakan tugas dinas luar daerah di DKI Jakarta. Bahkan, kini jumlah warga Bali yang terpapar sudah bertambah.

"Kita harus percaya Covid-19 sudah ada di sekitar kita. Mari kita percaya pada arahan pemerintah. Mari kita ikuti untuk saling menjaga jarak satu sama lain agar tidak ada penyebaran di antara kita," ucapnya.

Oleh karena itu, dia kembali meminta masyarakat Bali agar tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang banyak dengan penuh kesadaran. Hal ini supaya tidak menimbulkan kumpulan, kerumunan orang yang saling berinteraksi dalam jarak dekat.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA