Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Rusia Klaim telah Ciptakan Obat Virus Covid-19

Ahad 29 Mar 2020 09:09 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

Rusia Klaim telah Ciptakan Obat Virus Covid-19. Foto: Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Rusia Klaim telah Ciptakan Obat Virus Covid-19. Foto: Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Foto: CDC via AP, File
Badan Biomedis Federal Rusia mengklaim menciptakan obat virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia mengklaim telah menciptakan obat untuk menyembuhkan pasien yang terjangkit virus corona atau Covid-19. Obat yang disebut berbahan dasar Mefloquine itu berfungsi mencegah replikasi virus dalam sel dan sebagai akibatnya menghentikan proses peradangan yang disebabkan virus.

Hal itu disampaikan Badan Biomedis Federal Rusia dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (28/3) waktu setempat seperti dilansir dari kantor berita Turki, Anadolu Agency, Ahad (29/3). Kepala badan tersebut, Veronika Skvortsova, mengatakan Mefloquine harus dikombinasikan dengan antibiotik agar efeknya maksimal.

Dengan begitu akan memungkinkan peningkatan konsentrasi agen antivirus dalam plasma darah dan paru-paru. "Ini akan memastikan pengobatan yang efektif bagi pasien dengan berbagai tingkat infeksi coronavirus," kata Skvortsova.

Sebelumnya, pada hari yang sama yakni Sabtu (28/3), pemerintah Rusia mengumumkan 228 kasus baru dari virus korona, sehingga jumlah total kasus infeksi Covid-19 di negara itu menjadi 1.264, dengan enam kematian. Sebanyak 49 orang sejauh ini dinyatakan sembuh dari virus.

Dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona, Rusia telah melarang masuknya warga negara asing dan membatalkan semua penerbangan internasional. Pihak berwenang setempat juga mempertimbangkan larangan pergerakan di dalam negeri.

Setelah pertama kali muncul di Wuhan, China, pada Desember lalu, virus Covid-19 ini telah menyebar ke setidaknya 177 negara dan wilayah, menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University yang berbasis di AS.  Data menunjukkan lebih dari 618 ribu kasus telah dilaporkan di seluruh dunia, dengan angka kematian melebihi 28.600, dan lebih dari 135.700 pemulihan.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA