Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Muslim Selandia Baru Sulit Dapat Daging Halal Saat Lockdown

Sabtu 28 Mar 2020 16:47 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Pemerintah Selandia Baru mencari solusi daging halal untuk Muslim. Daging. Ilustrasi

Pemerintah Selandia Baru mencari solusi daging halal untuk Muslim. Daging. Ilustrasi

Foto: neogaf.com
Pemerintah Selandia Baru mencari solusi daging halal untuk Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON – Pemerintah Selandia Baru sedang membahas toko potong daging halal dapat tetap terbuka selama lockdown sehingga dapat melayani komunitas Muslim Selandia Baru.

Baca Juga

Dilansir di tvnz.co.nz, Sabtu (28/3) toko daging dan toko roti seharusnya ditutup di bawah batasan level empat. Tetapi beberapa pemasok daging halal, seperti tukang daging Auckland Shafeel Khan mengatakan pelanggan mereka tidak dapat membeli dari tempat lain.

Khan mengatakan kepada pelanggannya untuk tidak membeli sebelum lockdown karena dia yakin dia akan digolongkan sebagai bisnis yang penting, tetapi dia sekarang harus menolak mereka setelah kunjungan dari polisi.

"Kemarin sekitar pukul 01.00 siang seorang petugas polisi datang dan memberi tahu saya bahwa semua tukang daging digolongkan tidak penting, saya harus segera tutup," kata Khan. Polisi tersebut merasa sedih karena mendatanginya dan menutup tokonya.

"Pada dasarnya apa yang dia katakan kepada saya adalah bahwa saya harus melayani beberapa pelanggan terakhir dan menutup toko sampai pemberitahuan lebih lanjut," jelas dia.

Sementara itu swalayan seperti Countdown tidak menjual daging bersertifikat halal. Muslim Kiwi mengatakan ada sangat sedikit tersedia di supermarket lain.

Beberapa juga mengatakan tidak ada jaminan bahwa daging halal supermarket 100 persen halal karena disimpan dan diangkut bersama produk-produk non halal.

Pembeli Auckland, Suster Jannah Pritchard mengatakan Muslim Kiwi terlalu waspada untuk membeli daging dari supermarket, bahkan jika itu tersedia.

"Banyak saudara dan saudari di komunitas Muslim saya, mereka tidak akan membeli dari toko rantai besar, mereka ingin membeli dari tempat-tempat yang murni halal," kata dia.

Calon pelanggan lain, Imraan Ali mengatakan sangat penting bagi Muslim untuk mendapatkan daging halal menjelang bulan suci Ramadhan, yang dimulai pada 23 April di Selandia Baru.

"Lockdown bisa diperpanjang, kita akan memasuki bulan Ramadhan yang akan membuat lebih sulit bagi komunitas Muslim. Saya sudah berada di Auckland Barat selama 25 tahun dan tidak pernah membeli daging di supermarket, alasannya adalah kita tahu bahwa 100 persen halal di sini (di tukang daging ini)," ujar Ali.

Tidak ada risiko kontaminasi makanan dengan makanan non halal, itu adalah bagian yang sangat penting dari keyakinan Islam. 

Menurut Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru, satu-satunya daging yang dapat dikonsumsi Muslim dari supermarket Selandia Baru adalah ikan.

Shaimud Khan menjalankan satu dari hanya dua toko daging halal di kawasan Wellington, dan miliknya adalah satu-satunya yang tetap terbuka selama lockdown.

Dia mengatakan telah menutup tokonya selama dua hari terakhir, tetapi buka hari ini untuk pesanan telepon karena permintaan pelanggan yang luar biasa.

"Satu-satunya alasan kami membuka hari ini adalah karena permintaan dari komunitas Muslim setempat, khususnya para pengungsi dan orang-orang yang baru saja bermigrasi," kata Khan.

Dia bilang dia mendaftar untuk dianggap sebagai bisnis yang penting, tetapi akan ditutup jika dia dikunjungi polisi.

“Kami hanya berdasarkan pesanan telepon saja sehingga orang harus melakukan pre-order sebelum mereka masuk dan mereka baru saja masuk, mereka kumpulkan dan mereka pergi.  

Dia mengatakan penyediaan daging halal tidak hanya penting bagi umat Islam. Sangat penting bukan hanya untuk umat Islam tetapi untuk komunitas Yahudi serta banyak orang Kristen ortodoks, mereka hanya makan daging halal, oleh karena itu penting bagi dia untuk tetap terbuka. 

Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan mengatakan sedang mencari tempat penjagalan halal.  

"Pemerintah telah memantau dengan seksama bagaimana persyaratan Layanan Esensial telah beroperasi sejak diperkenalkan dan kami telah mendengarkan umpan balik dan membuat perubahan saat kami pergi ke tempat yang diperlukan," kata juru bicara Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan.n

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA