Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Liga Indonesia Setop Hingga Mei, Bagaimana Nasib Klub?

Sabtu 28 Mar 2020 16:02 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Petugas kepolisian mengenakan masker saat melakukan penjagaan pertandingan Liga 1 2020 antara Bali United melawan Madura United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Ahad (15/3/2020).

Petugas kepolisian mengenakan masker saat melakukan penjagaan pertandingan Liga 1 2020 antara Bali United melawan Madura United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Ahad (15/3/2020).

Foto: Antara/Fikri Yusuf
Kompetisi berhenti, tetapi pengeluaran klub terus terjadi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- PT Liga Indonesia Baru dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memutuskan menghentikan kompetisi sampai akhir Mei. Keputusan tersebut diakibatkan merebaknya wabah virus corona di Indonesia.

Berbagai langkah pun dilakukan oleh klub dengan meliburkan pemainnya. Bahkan, Barito Putera memiliki niat untuk membubarkan dahulu tim sampai ada keputusan mengenai kompetisi. Langkah ini bertujuan agar manajemen tidak membuang-buang uang untuk membayar gaji.

Pengamat sepak bola nasional, Kusnaeni, mengaku wajar jika tim mengalami dilema atas keputusan tersebut. Pasalnya, hal serupa pun terjadi di kompetisi negara lain seperti Spanyol, Italia, dan Inggris.

"Kalau sampai di titik itu memang sangat dilematis. Jangankan Indonesia, negara seperti Inggris, Spanyol, dan Italia pun sama. Mereka bersikap wait and see," kata Bung Kus, sapaannya, saat dihubungi Republika.

Pengalaman operator di Eropa tentu berbeda dengan di Indonesia. Bung Kus mengakui di sana tentu lebih mapan dan matang ketika menghadapi permasalahan seperti ini sehingga operator liga di Indonesia bisa belajar dari sana. 

"Pak Iwan (Ketua PSSI) sudah minta klub dan operator untuk menghitung. Cuma jangan sampai kelamaan berdiskusinya. Buat klub, ini seperti argo. Taksi berhenti kan argo tetap jalan. Jadi, memang tidak bisa lama-lama," kata Bung Kus menegaskan.

Menurut dia, keputusan memang menjadi yang paling dinantikan untuk klub. Dengan demikian, klub bisa memutuskan sampai kapan meliburkan pemain, tentunya dengan segala konsekuensi termasuk soal gaji. 

"Itu memang harus disiapkan oleh operator. Saya tahu mereka sedang menyiapkan, tapi jangan lama-lama karena argonya tetap jalan. Sesudah keputusannya mengerucut, kumpulkan klub, sodorkan hasil keputusan, ambil risiko dari yang paling bagus sampai paling buruk," kata Bung Kus.

Dengan begitu, menurut dia, klub bisa mengambil kebijakan dalam mengelola tim. Pasalnya, situasi seperti ini tentu membuat klub kebingungan dalam menentukan sikap.

"Kalau klub bubarkan tim, tidak tahunya kompetisi mulai bulan Mei, tidak mungkin kan pemain dikumpulkan akhir April. Pemain ini berhenti seminggu saja sudah menurun, apalagi sampai dua bulan," kata Bung Kus.

Namun, Bung Kus mengingatkan klub peserta liga jangan sampai membuat keputusan sendiri-sendiri. Pasalnya, hal tersebut bisa menambah persoalan yang ada. Untuk itu, federasi harus bisa membuat petunjuk bagi klub sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

"Karena menurut saya fakta yang real ini kompetisi tidak mungkin bisa mulai pada Mei, paling cepat selesai Lebaran, karena virus corona ini kurvanya naik terus," kata Bung Kus.

Dia menyebut kompetisi bisa mulai jalan ketika kurva virus corona sudah menurun hingga akhirnya ada di titik paling landai. Dia menyebut kompetisi sepak bola hanya bisa digelar jika kondisinya sudah normal. Pasalnya, pada saat itulah izin keramaian untuk pertandingan bisa turun.

"Jadi, klub bisa enak untuk meliburkan pemainnya. Seperti Persib yang masih sempat lakukan laga uji coba dan Barito Putera yang sempat mau uji voba walau dibatalkan. Karena, mereka tidak tahu bagaimana rencana operator liga. Walaupun mereka sedang mempersiapkan, tapi jangan lama-lama," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA