Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Kasus Positif Corona di AS Tembus 104 Ribu

Sabtu 28 Mar 2020 13:39 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari

Pemerintah New York menyiapkan ruang perawatan Covid-19 di Jacob Javits Convention Center, New York, Amerika Serikat, Jumat (27/3). Kasus positif Covid-19 di Amerika terus naik.

Pemerintah New York menyiapkan ruang perawatan Covid-19 di Jacob Javits Convention Center, New York, Amerika Serikat, Jumat (27/3). Kasus positif Covid-19 di Amerika terus naik.

Foto: EPA
Jumlah kematian akibat corona di AS telah melebihi 1.000 kasus.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Jumlah orang yang terinfeski virus corona baru atau Covid-19 di seluruh Amerika Serikat mencapai lebih dari 104 ribu, Sabtu (28/3). Menurut penghitungan dari Universitas John Hopkins, jumlah kematian di AS kini tercatat 1.701.

Angka baru dari AS menambah jumlah total kematian secara global akibat virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, Cina menjadi 27.360 jiwa. Sementara total infeksi dari 199 negara di dunia mencapai 597.267.

Presiden AS Donald Trump menandatangani RUU ekonomi senilai 2,2 triliun dolar AS yang akan digunakan untuk membantu kejatuhan ekonomi negara, serta mengatasi pandemi corona. Penandatanganan ini dilakukan setelah House of Representative menyetujui paket stimulus.

RUU tersebut disahkan oleh Senat dengan dukungan bipartisan yang luar biasa dalam pemungutan suara 96 berbanding 0. "Kami merawat orang-orang kami," kata Trump dikutip Aljazirah, Sabtu (28/3).

Sebanyak 50 negara bagian AS telah terinfeksi, namun sejauh ini Washington dan New York telah terpukul paling parah oleh virus ini. Setidaknya 109 telah meninggal di Washington dan 366 di New York.

Menanggapi virus itu, beberapa negara telah menyatakan keadaan darurat dan memerintahkan penutupan sekolah dan bisnis. Negara-negara bagian di AS telah mengimbau orang untuk mempraktikkan jarak sosial dan isolasi diri.

Sementara itu, Departemen Kesehatan Arkansas merekomendasikan semua pelancong dari negara bagian New York dan negara-negara asing untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari. "Ini karena tingginya tingkat Covid-19 di New York serta di semakin banyak lokasi internasional," kata departemen itu dalam sebuah pernyataan.

Setiap pengunjung yang menunjukkan demam, batuk, atau gejala coronavirus lainnya harus menghubungi dokter mereka untuk nasihat tentang di mana harus dievaluasi.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA