Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Faktor Tingginya Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Spanyol

Sabtu 28 Mar 2020 11:05 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

Dua manula berjalan mengenakan masker di Ourense, sebelah barat laut Spanyol, pada Sabtu (21/3) yang menghadapi virus corona Covid-19.

Dua manula berjalan mengenakan masker di Ourense, sebelah barat laut Spanyol, pada Sabtu (21/3) yang menghadapi virus corona Covid-19.

Foto: Brais Lorenzo/EPA
Jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di Spanyol meningkat dengan cepat.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID — Para ahli mengatakan, populasi lansia (orang lanjut usia) yang besar, perilaku sosial, dan sistem perawatan kesehatan di suatu negara berkontribusi pada tingkat kematian yang tinggi. Seperti di Spanyol yang telah memberlakukan status siaga atas wabah virus corona jenis baru (Covid-19) sejak 14 Maret lalu, jumlah korban jiwa dilaporkan meningkat dengan cepat. 

Baca Juga

Banyak warga yang berharap pada petugas medis di negara itu. Bahkan, mereka sering mengambil waktu sejenak untuk memuji dan bertepuk tangan saat pekerjaan dilaksanakan. 

Namun, gambaran penuh harapan ini tidak banyak mengurangi dampak pandemi. Jumlah korban meninggal di Spayol per hari mencapai 769 pada Jumat (27/3), angka tertinggi sejak kasus Covid-19 pertama kali dikonfimasi di negara itu. 

Dengan demikian, total kematian akibat Covid-19 di Spanyol telah mencapai hampir 5.000. Namun, jumlah kasus terbaru infeksi virus corona di negara Eropa Barat itu tercatat menurun, dari 8.578 pada Kamis (26/3) menjadi 7.871 pada Jumat (27/3). 

Namun, kedua angka itu jauh lebih buruk daripada sepakan yang lalu, ketika kasus-kasus baru dilaporkan di Spanyol tertinggi mencapai 2.833. Fakta mengerikan lainnya adalah dibandingkan dengan di Italia, negerara dengan delapan persen pekerja kesehatan terkena dampaknya, di Spanyol penghitungannya mencapai 16,5 persen pada Jumat (27/3). 

Dilansir Aljazirah, ada penjelasan dari pertanyaan utama mengenai apa yang menyebabkan penyebaran virus corona jenis baru bisa terjadi begitu cepat di Spanyol. Alasan yang sering digembar-gemborkan media adalah sumber daya pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak merata. 

Kemudian, akademisi di Spanyol mengonfirmasi hal itu sebagai alasan meski tetap menggarisbawahi beberapa faktor lainnya. Silvia Carlos Chilleron, seorang profesor di Departemen Kesehatan Masyarakat dan Pengobatan Pencegahan Universitas Navarra, mengatakan, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Eropa menunjukkan bahwa dampak Covid-19 bergantung pada tingkat persiapan suatu negara dan kemampuannya untuk menerapkan tindakan pencegahan cepat. 

"Jika peningkatan kasus cepat, seperti yang terjadi di Spanyol, dan sumber daya manusia dan material untuk melawannya tidak dijamin, dampaknya lebih serius. Itu mungkin menyebabkan lebih banyak kematian di antara sektor yang paling rentan masyarakat, terutama ketika para profesional medis di antara mereka yang terkena dampak,” ujar Chilleron. 

Konfederasi Serikat Medis Negara Serikat (CESM) mengajukan kasus ke Mahkamah Agung Spanyol pada Rabu (25/3). Pihaknya meminta agar Kementerian Kesehatan bisa menyediakan alat pelindung diri kepada petugas medis secepat mungkin. 

CESM menuding Kementerian Kesehatan gagal memberikan perlindungan memadai bagi petugas kesehatan profesional untuk melakukan pekerjaan mereka. Seorang dokter di salah satu rumah sakit Spanyol kemudian mengatakan, banyak warga yang menghormati aturan lockdown saat ini dan berusaha tidak datang ke rumah sakit karena penyakit ringan. 

“Itu membantu mengurangi risiko penularan. Namun, ada kekurangan perlengkapan sanitasi di rumah sakit untuk krisis semacam ini, yang melipatgandakan kemungkinan staf kesehatan tertular virus,” ujar dokter dalam kondisi anonimitas tersebut. 

Alberto Mataran, seorang profesor ilmu lingkungan Universitas Granada, mengatakan, distribusi populasi di Spanyol mungkin berpengaruh. Terdapat kepadatan besar orang di kota-kota seperti Madrid atau di pantai Mediterania pada khususnya serta banyak blok apartemen di pinggiran kota yang terpencil.

"Tambahkan banyak ruang komunal, jenis perilaku sosial yang penuh kasih sayang dibandingkan dengan beberapa negara. Kita selalu berjabat tangan atau berpelukan, saling mencium, ketika kita bertemu, misalnya, dan peluang untuk propagasi pasti dapat meningkat,” kata Mataran. 

Jose Hernandez, seorang peneliti dan asisten profesor sosiologi di Universitas Cordoba, mengatakan, Spanyol memiliki populasi lansia yang besar dan sangat rentan. Selain itu, fakta bahwa rumah sakit dan layanan medis di negara tersebut dijalankan oleh berbagai daerah otonom menciptakan beberapa ketidaksetaraan mendasar yang sangat penting.

Hernandez menambahkan bahwa sementara ini pemerintah daerah dapat meminta bantuan dari Ibu Kota Madrid. Namun, hal ini, menurut dia, memang meningkatkan risiko keputusan strategi medis yang dinilai buruk di pemerintah pusat. Pada 2014 staf medis di Madrid juga sempat memprotes kurangnya alat pelindung diri dan tindakan pencegahan keselamatan di tengah epidemi ebola.

"Kita bisa melihat bahwa sistem kesehatan masyarakat memiliki beberapa celah besar dalam deteksi dini infeksi dan ini adalah kelemahan struktural," kata Hernandez. 

Sementara itu, pemerintah harus mempertahankan keputusannya untuk mengizinkan demonstrasi di Spanyol pada Hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret lalu. Hal tersebut ditandai oleh Chilleron sebagai faktor penyebaran virus corona jenis baru di negara itu terjadi dengan cepat.

"Semakin besar jumlah kontak, semakin besar kemungkinan penularan, terutama ketika itu adalah infeksi baru di mana kita tidak memiliki kekebalan," kata Chilleron. 

Pembelian jutaan alat tes Covid-19 jalur cepat (fast-track test) dari China dan tempat lain yang dibanggakan Pemerintah Spanyol juga menjadi bumerang ketika diketahui bahwa produk pada batch awal memiliki kendala. Meski pemerintah menegaskan masalah akan diselesaikan dengan pembelian lebih lanjut dari alat tes yang lebih dapat diandalkan, sebagian besar belum tiba.

Chilleron mengatakan, pengujian reaksi rantai polimerase (PCR) yang memakan waktu antara empat dan enam jam untuk menunjukkan hasi dan sedang digunakan oleh 20 ribu orang per hari di Spanyol merupakan metode yang paling dapat diandalkan. Menurut situs Live Science, tes PCR bekerja dengan mendeteksi bahan genetik spesifik dalam virus.

Tes lebih cepat yang memakan waktu lebih singkat dinilai memberikan hasil kurang tepat. Chilleron merekomendasikan jarak sosial dan kebersihan sebagai tindakan pencegahan terbaik tanpa adanya pengujian.

Di Spanyol, ketika jumlah kematian meningkat akibat Covid-19, saat ini ada desas-desus bahwa tindakan lockdown akan diperketat lebih lanjut. Karena skala penuh pandemi belum muncul, mengetahui langkah-langkah apa yang dibutuhkan semakin sulit untuk dinilai.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA