Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

300 Warga Iran Tewas Minum Metanol demi Cegah Corona

Jumat 27 Mar 2020 16:05 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ani Nursalikah

300 Warga Iran Tewas Minum Metanol demi Cegah Corona. Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan disinfektan virus corona di alun-alun di barat Teheran, Iran, Jumat, 13 Maret 2020.

300 Warga Iran Tewas Minum Metanol demi Cegah Corona. Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan disinfektan virus corona di alun-alun di barat Teheran, Iran, Jumat, 13 Maret 2020.

Foto: AP Photo/Vahid Salemi
Iran telah melaporkan lebih dari 29 ribu kasus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Seorang tenaga medis Iran memohon kepada masyarakat berhenti minum metanol karena ketakutan terhadap virus corona. Tenaga medis ini telah menangani seorang anak berusia lima tahun yang keracunan alkohol dosis tinggi dan akhirnya mengalami kebutaan.

Orang tua anak itu memberinya metanol kandungan tinggi dan sangat beracun dengan keyakinan keliru itu dapat melindungi anak mereka dari virus. "Dikabarkan alkohol dapat mencuci dan membersihkan sistem pencernaan. Itu sangat salah," kata Javad Amini Saman di kota barat Kermanshah Iran, tempat puluhan orang dirawat di rumah sakit, Jumat (27/3).

Ini hanyalah satu dari ratusan korban pandemi yang kini mencengkeram Iran. Media Iran melaporkan hampir 300 orang meninggal dan lebih dari 1.000 orang sakit sejauh ini karena menelan metanol di seluruh Iran.

Hal ini terjadi saat informasi mengenai obat palsu ini menyebar di media sosial di Iran. Warga sangat curiga terhadap pemerintah setelah meremehkan pandemi selama berhari-hari sebelum akhirnya melanda negara itu.

Saat ini, belum ada vaksin yang dapat menyembuhkan Covid-19. Tetapi dalam pesan yang dibagikan secara luas, akun media sosial Iran dalam bahasa Farsi secara keliru menyebutkan seorang guru sekolah Inggris dan yang lainnya sembuh dari virus corona setelah minum wiski dan madu, berdasarkan kisah tabloid dari awal Februari.

Dicampur dengan pesan-pesan tentang penggunaan pembersih tangan berbahan dasar alkohol, beberapa orang secara keliru meyakini meminum alkohol kandungan tinggi akan membunuh virus dalam tubuh mereka. Ketakutan akan virus itu, ditambah dengan rendahnya edukasi dan tingginya rumor internet, membuat banyak orang sakit karena meminum alkohol bajakan yang mengandung metanol di provinsi Khuzestan, Iran barat daya dan kota Shiraz di selatan.

Video yang disiarkan oleh media Iran menunjukkan pasien dengan infus di lengan mereka, berbaring di tempat tidur, termasuk bocah lima tahun yang diintubasi karena keracunan alkohol. Media Iran juga melaporkan kasus di kota Karaj dan Yazd.

Di Iran, pemerintah mengamanatkan produsen metanol menambah warna buatan pada produk mereka sehingga masyarakat dapat membedakannya dari etanol, jenis alkohol yang dapat digunakan untuk membersihkan luka. Etanol juga merupakan jenis alkohol yang ditemukan dalam minuman beralkohol, meskipun produksinya ilegal di Iran.

Beberapa pembuat minuman keras di Iran menggunakan metanol dengan menambahkan sedikit pemutih untuk menutupi warna yang ditambahkan sebelum menjualnya sebagai minuman. Kadang-kadang dicampur dengan alkohol yang dapat dikonsumsi, di lain waktu ia datang sebagai metanol, diiklankan secara keliru sebagai minuman. Metanol juga dapat mencemari alkohol yang difermentasi secara tradisional.

Metanol tidak dapat dibaui atau dicicipi dalam minuman. Ini menyebabkan kerusakan organ dan otak. Gejalanya meliputi nyeri dada, mual, hiperventilasi, kebutaan, dan bahkan koma.

"Virus ini menyebar dan orang-orang sekarat, dan saya pikir mereka bahkan kurang menyadari fakta ada bahaya lain di sekitar mereka," kata Knut Erik Hovda, ahli toksikologi klinis di Oslo yang mempelajari keracunan metanol.

Dia khawatir ketakutan Iran pada wabah ini bisa lebih buruk dari yang dilaporkan. "Ketika mereka terus minum ini, akan ada lebih banyak orang yang keracunan," tambahnya.

Iran telah melaporkan lebih dari 29 ribu kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 2.200 kematian akibat virus, jumlah korban tertinggi dari negara mana pun di Timur Tengah. Para ahli internasional juga khawatir Iran mungkin tidak melaporkan kasusnya karena para pejabat selama berhari-hari meremehkan virus menjelang pemilihan parlemen.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA