Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Syekh Muhammad Amin asy-Syingithi, Tokoh Muslim dari Afrika

Jumat 27 Mar 2020 15:55 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Syekh Muhammad Amin asy-Syingithi, Tokoh Muslim dari Afrika

Syekh Muhammad Amin asy-Syingithi, Tokoh Muslim dari Afrika

Foto: tangkapan layar adhwaulbayan.
Syekh Muhammad Amin asy-Syingithi lahir pada 1905 di Syingith, kota Islam di Afrika.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wilayah Afrika Barat menyimpan mozaik khazanah peradaban Islam yang cukup kaya. Dahulu, kawasan ini dikuasai suku bangsa Iznagen. Orang-orang Arab menyebut wilayah itu sebagai Syingith (bahasa Inggris: Chinguetti). Kini, Kota Syingith termasuk wilayah negara Mauritania.

 

Baca Juga

Syekh Muhammad Amin asy-Syingithi merupakan salah satu tokoh Muslim dunia yang berasal dari sana. Nenek moyangnya berasal Bani Himyar di Yaman yang kemudian berkelana ke Afrika.

 

Sosok ini bernama lengkap Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir al-Jakni asy-Syingithi. Muhammad Amin lahir di Desa Tanbah, Kota Syingith pada 1905. Sebagaimana penduduk setempat pada umumnya, keluarga mendidik Amin dengan disiplin untuk mencintai ilmu-ilmu agama sejak dini.

 

 

Senang menuntut ilmu

 

Sewaktu anak-anak, Muhammad Amin dibimbing secara intens oleh pamannya dari garis ibu, Abdullah, untuk membaca dan menghapal Alquran. Sebelum berusia belasan tahun, Amin pun telah menjadi hafizh.

 

Bersamaan dengan itu, Amin berguru pada pamannya dari garis ayah, Muhammad ibnu Ahmad. Dia belajar menulis indah dalam bahasa Arab dan membaca Alquran secara fasih (qiraat). Saat berusia remaja, Amin sudah memiliki sanad yang bersambung hingga generasi sahabat Rasulullah SAW dalam bidang qiraat. Ia juga sudah pakar menyalin isi Alquran dengan ragam tulisan khat Utsmani.

 

Kitab-kitab yang mengulas fiqih mazhab Imam Malik, khususnya karya Ibnu ‘Asyir al-Maghribi, juga dipelajarinya. Mazhab Maliki memang umum diikuti penduduk Afrika barat, tak terkecuali Syingith.

 

Pada saat yang sama, Amin juga mendaras sastra dan ilmu tata bahasa Arab. Kitab semisal Alfiyah Ibnu Malik menjadi bacaan wajibnya. Pelajaran sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat diterimanya melalui pembahasan karya-karya penulis biografi terkemuka, termasuk pengarang Ahmad al-Badowwi asy-Syingithi.

 

Memasuki usia 20 tahun, Muhammad Amin asy-Syingithi semakin giat menimba ilmu dari guru-gurunya. Mereka antara lain Syekh Muhammad an-Ni’mah, Syekh Ahmad Fa’al bin Abduh, Syekh Ibnu Ahmad al-Afram, dan Syekh Ahmad bin Umar. Kepadanya, Amin banyak belajar tentang nahwu, sharaf, ‘ulum al-Qur’an, balaghah, fikih, serta ilmu logika (mantiq). Sejak dibolehkan memberikan fatwa oleh guru-gurunya, masyarakat sekitar mengakui kepakaran Muhammad Amin dalam ilmu-ilmu agama. Namanya mulai masyhur hingga ke wilayah sekitar Mauritania.

 

 

Rihlah ke Tanah Suci

 

Dalam suatu kesempatan, Muhammad Amin akan menunaikan ibadah haji. Perjalanan ini ditempuh bersama para sahabatnya. Mereka mengikuti kafilah-kafilah yang mengarungi Gurun Sahara. Satu hari, dia berjumpa dengan rombongan kecil yang mendirikan kemah-kemah untuk beristirahat.

 

Perbincangan di dalamnya ternyata cukup menarik bagi Amin. Salah seorang pimpinan rombongan ini adalah Syekh Khalid as-Sudairi, seorang penyair yang berwawasan luas dan sarat pengalaman.

 

Atas saran as-Sudairi, Muhammad Amin memantapkan niatnya untuk tak sekadar berhaji, melainkan juga ikut menimba ilmu-ilmu agama di Tanah Suci. Amin juga dianjurkan untuk menemui dua orang guru sesampainya di Madinah, yakni Syekh Abdul Aziz bin Sholih dan Syekh Abdullah az-Zahim. Keduanya adalah pakar ushul fiqih yang kerap dimintai fatwanya oleh penduduk setempat.

 

Usai ibadah haji, Muhammad Amin menghabiskan sisa hidupnya dengan belajar di Madinah. Hubungannya dengan para guru juga semakin erat. Seiring waktu, dia pun menjadi pengajar di Haramain.

 

Bahkan, Syekh Abdul Aziz memujinya dengan menghadiahkan karya-karya Ibnu Taimiyyah kepadanya. Kepakarannya diakui dalam bidang fiqih lintas mazhab dan ‘Ulm al-Qur’an.

 

Pada masa ini, Syekh Muhammad Amin juga menulis kitab-kitab. Di antaranya adalah Mudzakkirah al-Ushul ‘ala Raudhah an-Nazhir yang membahas ushul fiqih menurut Imam Hambali, Imam Maliki, dan Imam Syafii. Beberapa karyanya yang lain menguraikan seluk beluk ilmu Alquran, yakni Man’u Jawaz al-Majaz fil Munazzal li at-Ta’abbud wa al-‘Ijaz; Daf’u Iham al-Idhthirab ‘an ayi al-Kitab; dan Adhwa’ al-Bayan fi idha al-Qur’an bi al-Qur’an.

 

Sampai sekarang, tulisan-tulisan dan himpunan ceramahnya masih menjadi bahan ajar di sejumlah lembaga pendidikan. Tokoh ini tutup usia pada 1973 di Madinah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA