Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Lebih Samar dari Langkah Semut

Jumat 27 Mar 2020 11:30 WIB

Red: A.Syalaby

Semut

Semut

Foto: Pixabay
Semua itu hampir saja melenyapkan ibadahnya

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam setiap amal, manusia selalu berhadapan dengan dirinya. Apakah akan masuk ke dalam keikhlasan atau justru terjerembab di dalam lembah riya. Tidak mudah untuk menyemai amal tanpa bersinggungan dengan sifat ini.

Riya diambil dari kata rukyat (melihat). Pokok sikap riya adalah mencari kedudukan di hati orang-orang dengan memperlihatkan berbagai macam perbuatan baik kepada mereka. Banyak hal yang diinginkan dengan bersikap riya. 

Imam Al Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin yang saripatinya diringkas oleh Syeikh Jamaluddin al Qasimi menjelaskan, riya terhimpun dalam lima macam hal. Lima macam ini merupakan segala sesuatu yang dipertontonkan oleh manusia sebagai perhiasan diri di hadapan orang lain. Mereka yakni badan, pakaian, perkataan, perbuatan serta pengikut dan segala sesuatu di luar diri. 

Riya ada yang samar-samar dan terang-terangan. Riya terang-terangan adalah riya yang membangkitkan suatu perbuatan dan mengantarkan pada suatu perbuatan walaupun pada mulanya ia bermaksud untuk mendapatkan pahala. Ini adalah riya yang paling terang-terangan. 

Sedikit lebih samar adalah riya yang tidak mengantarkan pada suatu perbuatan tersendiri, tetapi perbuatan yang sudah biasa dilakukan dengan tujuan untuk mengharap keridhaan Allah SWT menjadi ringan. Contohnya, orang yang shalat tahajud tiap malam dengan perasaan berat. Namun, apabila di rumahnya terdapat tamu ia menjadi giat dan ringan melakukan tahajud. 

Riya yang lebih samar lagi adalah riya yang tidak terpengaruh pada perbuatan dalam hal membuatnya terasa mudah dan tidak pula dalam hal membuatnya terasa ringan. Riya itu menyusup ke dalam hati. Tanda-tandanya yang paling jelas adalah ia merasa bergembira manakala ada orang yang melihat ketaatannya. 

Betapa banyak hamba yang ikhlas dalam amalnya dan tidak berniat untuk riya. Dia bahkan membenci dan menolak riya serta menyempurnakan amalnya sedemikian rupa. Tetapi manakala orang melihatnya, itu membuatnya bergembira serta senang. Hatinya pun lebih bersemangat dalam beribadah. 

Imam Al Ghazali menjelaskan, kegembiraan ini menunjukkan adanya riya samar-samar yang menyebabkan timbulnya rasa gembira itu. Seandainya dia tidak menoleh hati kepada manusia, kegembiraannya tidak akan timbul ketika dilihat oleh orang lain. Sungguh telah tinggal di dalam hatinya serupa bara api pada batu dan penglihatan orang lain membuat riya ini tampak dengan jejak berupa kegembiraan dan kesenangan. 

Apabila dia merasakan lezatnya kegembiraan itu akibat dilihat oleh orang lain dan tidak menghadapinya dengan kebencian, jadilah itu sebagai makanan pokok dan nutrisi bagi kekuatan riya yang samar ini. Dengan begitu, timbul gerakan yang samar dalam jiwanya. Gerakan itu pun mencetuskan tindakan yang samar pula untuk memaksakan alasan supaya ia memperlihatkan amal kepada manusia dengan bahasa kiasan atau bahasa tubuh. Contohnya yakni merendahkan suara dan menampakkan bekas air mata. 

Riya yang lebih samar lagi yakni ketika seseorang menyembunyikan ibadahnya karena tak ingin dilihat orang lain. Dia pun tidak merasa gembira dengan ibadahnya yang nampak. Namun, apabila bertemu dengan orang lain, dia menginginkan mereka menyambutnya dengan hangat dan hormat.

Dia ingin mereka memujinya dan membantu segala keperluannya. Hatinya pun menginginkan mereka memberi kelonggaran dalam jual beli serta melapangkan tempat untuknya. Apabila perlakuan seseorang kurang menghargainya, dia ingin menjauhi orang itu. Seakan-akan, ia menuntut penghormatan karena adanya ketaatan yang disembunyikannya. 

Imam Ghazali juga menulis, ketika ada ibadah belum terasa seperti tidak adanya ibadah dalam segala hal yang berkaitan dengan makhluk, ia belum kosong dari benih riya. Benih ini pun disebut lebih samar dari langkah semut. Semua itu hampir saja melenyapkan ibadah dan tidaklah selamat darinya kecuali orang-orang yang shiddiq. Kotoran-kotoran riya yang samar-samar itu tidak terhitung. Ketika ia mendapati perbedaan di dalam jiwanya saat ibadahnya dilihat manusia dengan binatang, dia masih menyimpan riya di dalam hatinya. 

Menurut dia, orang-orang ikhlas selalu takut kepada riya yang samar. Mereka selalu berusaha lebih keras dalam menyembunyikan ibadahnya. Upaya mereka bahkan lebih tinggi ketimbang orang yang hendak menyembunyikan kejahatannya.

Semua ikhtiar itu adalah harapan supaya amal-amal saleh mereka menjadi ikhlas. Allah Azza wa Jalla pun memberi mereka ganjaran pada Hari Kiamat dengan sebab keikhlasan mereka. Mereka mengetahui, Allah SWT tidak menerima amal pada Hari Kiamat kecuali yang ikhlas.  

Bukankah Allah Ta'ala berfirman, "Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan apa yang telah kamu kerjakan'." (QS at-Taubah [9]: 105). N wallahualam

 

sumber : Dialog Jumat
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA