Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Peneliti Usul Pemerintah tak Umumkan Kematian Kasus Corona

Jumat 27 Mar 2020 06:32 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Protokol menyalatkan jenazah terinfeksi Covid-19 (ilustrasi).

Protokol menyalatkan jenazah terinfeksi Covid-19 (ilustrasi).

Foto: Republika.co.id
Pengumuman death rate berpotensi menyesatkan dan dapat disalahtafsirkan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sebuah kelompok peneliti jaringan sosial kualitatif independen dan nonpartisan yang beranggotakan akademisi antropologi, sosial politik, dan praktisi teknologi informasi, yakni Poly Network (PN) mengusulkan pemerintah tidak mengumumkan kasus kematian akibat wabah virus corona atau Covid-19.

Direktur PN Johan Neesken dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/3), berpendapat persentase tingkat fatalitas atau case fatality rate (CFR) maupun death rate sebaiknya tidak diumumkan oleh pemerintah.

Pasalnya, kata dia, CFR maupun death rate berpotensi menyesatkan dan dapat disalahtafsirkan untuk kepentingan-kepentingan yang tidak menguntungkan upaya percepatan penanganan wabah Covid-19. "Lembaga resmi seperti WHO dan CDC US pun tidak melakukan hal itu," ujar Johan.

Menurut dia, sebagian besar diskusi terkini tentang risiko kematian akibat Covid-19 fokus pada CFR. Dalam kasus terburuk, banyak yang menyesatkan bahwa CFR memberikan jawaban untuk pertanyaan seberapa besar kemungkinan seseorang terinfeksi Covid-19 meninggal karenanya.

Meskipun CFR sebagai metrik yang relevan, namun kata Johan, CFR tidak memberi tahu tentang risiko kematian orang yang terinfeksi. "Itu hanyalah rasio antara jumlah kematian yang dikonfirmasi dari penyakit dan jumlah kasus yang dikonfirmasi (bukan total kasus)," katanya.

Johan juga mengatakan adapun death rate sebagai ukuran yang sangat berbeda.

"Dihitung dengan membagi jumlah kematian akibat penyakit dengan total populasi seringkali disebut dengan death rate. Ini penting untuk dibedakan karena sayangnya orang juga terkadang mengacaukan CFR dengan death rate," katanya.

Dia mencontohkan pandemi flu Spanyol pada tahun 1918. Perkiraan yang sering dikutip oleh Johnson dan Mueller (2002) adalah bahwa 50 juta orang meninggal secara global dari pandemi ini dan hal ini menyiratkan bahwa 2,7 persen dari populasi dunia pada saat itu meninggal. "Ini berarti death rate adalah 2,7 persen.

Tetapi 2,7 persen sering salah dilaporkan sebagai CFR. Jika faktanya death rate adalah 2,7 persen, maka tingkat CFR jauh lebih tinggi karena tidak semua orang di dunia terinfeksi flu Spanyol," katanya.

CFR yang umum dilaporkan sebagai nilai tunggal bahkan konstanta biologis, juga patut disayangkan sebab, CFR bukanlah nilai yang terkait dengan penyakit yang diberikan, tetapi sebaliknya mencerminkan keparahan penyakit dalam konteks tertentu, pada waktu tertentu, dan dalam populasi tertentu.

"Kemungkinan seseorang meninggal karena suatu penyakit tidak hanya tergantung pada penyakit itu sendiri, tetapi juga respons sosial dan individu terhadapnya, tingkat dan waktu perawatan yang mereka terima, serta kemampuan individu yang diberikan untuk pulih dari penyakit itu," katanya.

Johan menekankan, infection fatality risk (IFR) lah yang sebenarnya mampu memberikan jawaban atas pertanyaan seberapa besar kemungkinan seseorang yang terinfeksi Covid-19 meninggal karenanya.

IFR adalah jumlah kematian akibat suatu penyakit dibagi dengan jumlah total kasus. Untuk menghitungnya, kata dia, dibutuhkan dua metrik, yakni jumlah total kasus dan jumlah total kematian. Namun, untuk Covid-19, jumlah kasus sebenarnya tidak diketahui karena tidak semua orang dites Covid-19.

"Namun, adalah salah jika ada yang menyimpulkan bahwa CFR adalah sama atau bahkan mirip dengan IFR," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA