Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Iran Larang Perjalanan Antarkota

Kamis 26 Mar 2020 15:50 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Warga Teheran Iran melintasi jalanan kota menggunakan masker. Iran melarang warganya untuk melakukan perjalanan antarkota pada Kamis (26/3). Ilustrasi.

Warga Teheran Iran melintasi jalanan kota menggunakan masker. Iran melarang warganya untuk melakukan perjalanan antarkota pada Kamis (26/3). Ilustrasi.

Foto: ABEDIN TAHERKENAREH/EPA EFE
Iran melarang warganya untuk melakukan perjalanan antarkota pada Kamis (26/3)

REPUBLIKA.CO.ID,  TEHERAN -- Iran melarang warganya untuk melakukan perjalanan antarkota pada Kamis (26/3). Larangan ini diberlakukan di tengah kekhawatiran terjadinya gelombang kedua pandemi virus corona atau Covid-19 di Iran.

Pada Rabu lalu, juru bicara pemerintah mengatakan Iran kemungkinan akan menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19. Kasus virus corona yang dikonfirmasi di Iran telah mencapai 27.107 dengan kasus kematian sebanyak 2.077.

"Mereka yang telah melakukan perjalanan untuk liburan Tahun Baru Persia harus segera kembali ke kota-kota mereka dan mereka dilarang berhenti di kota-kota lain yang dilalui dalam perjalanan pulang," ujar anggota gugus tugas Covid-19, Hossein Zolfaghari.

Pihak berwenang Iran telah meminta kepada seluruh warga untuk menghindari tempat-tempat umum dan tinggal di rumah. Pihak berwenang telah menutup sekolah, perguruan tinggi, dan pusat-pusat olahraga.

Sejumlah pejabat Iran menyatakan bahwa banyak warga Iran yang mengabaikan perintah untuk tetap tinggal di rumah. Bahkan sejumlah warga tetap nekat bepergian ketika liburan Tahun Baru Persia yang dimulai pada 20 Maret. Zolfaghari menegaskan warga Iran yang mengabaikan perintah untuk tinggal di rumah akan berhadapan dengan hukum.

"Mereka yang melanggar akan menghadapi konsekuensi hukum," ujar Zolfaghari.

Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, China pada Desember 2019. Virus tersebut kini telah menyebar ke 172 negara. Menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University di AS, lebih dari 451 ribu kasus Covid-19 telah dikonfirmasi secara global. Jumlah kematian global akibat virus korona, saat ini mendekati 21 ribu sementara pasien yang sembuh sebanyak 112 ribu.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA