Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Perang Aceh

Kisah Perang Aceh (1)

Kamis 26 Mar 2020 14:52 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pasukan Morsase (Pasukan Khusus) Belanda sewaktu perang Aceh.

Pasukan Morsase (Pasukan Khusus) Belanda sewaktu perang Aceh.

Foto: Gahtena.nl
Pertarungan di Masjid Kutaraja

Oleh: Beggy Rizkyansyah, Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Pada tanggal 6 April 1873, Pasukan Pendarat melakukan pengintaian ke wilayah Aceh. Dua hari kemudian barulah pasukan Belanda turun ke pantai Aceh. Menjejakkan kaki mereka pertama kali di Bumi Aceh untuk memulai satu perang yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Belanda mendarat di Pantai Aceh dengan membawa rombongan besar. Mereka mengirimkan tiga ribu orang. Sekitar seribu orang tamtama dan bintara Eropa dan 118 orang perwira. Pasukan tersebut terdiri dari empat batalyon, yaitu Batalyon ke-3, Batalyon ke-9, Batalyon ke-12 dan satu Batalyon Madura.

Pasukan ini sebagian telah memakai senapan laras panjang merek Beaumont modern yang mesiunya diisi dari belakang dan memakai bayonet yang terpasang hingga menjadi sangat panjang. Namun tidak semua batalyon telah berlatih dan dipersenjatai dengan senapan Beaumont. Batalyon ke-12 memang telah berlatih memakainya. Namun Batalyon ke-9 baru memperoleh senapan tersebut tak lama sebelum masuk kapal. Batalyon ke-3 bahkan masih memakai senapan dengan mesiu yang diisi dari depan. Demikianlah keadaan pasukan Belanda tersebut.

Rombongan pasukan bersenjata ini belum termasuk seribu orang kerja paksa. Mereka adalah para narapidana yang bertugas sebagai tukang pikul. Selain itu dalam ekspedisi ini juga termasuk 220 orang perempuan Indonesia sebagai tenaga kerja dapur dan sekaligus dilacurkan sebagai pemuas nafsu serdadu Jawa dan Ambon.

Semua rombongan besar ini diangkut oleh satu kapal perang Angkatan Laut Belanda, yaitu Citadel van Antwerpen yang berangkat sejak 7 Maret 1873 dari Betawi melalui Singapura dan Pulau Pinang dan tiba di Aceh pada 22 Maret 1873. Kapal perang inilah yanng mengangkut  F.N Niuwenhuyzen sebagai komisaris pemerintah Belanda untuk Aceh.

Bukan hanya kapal perang Citadel van Antwerpen saja yang berangkat ke Aceh. Bersamanya, turut serta kapal perang angkatan laut lainnya, lima buah kapal barkas, delapan buah kapal peronda, sebuah kapal komando, enam buah kapal pengangkut milik Nederlands Indische Stoomvaart milik perusahaan Inggris, dan lima buah kapal layar. Saat itu kondisi kapal dalam usia yang sudah tua, ketel uapnya bocor. Begitu pula dengan kapal layarnya, berusia tua pula.

Ekspedisi Aceh ini dipimpin langsung oleh Johan Harmen Rudolf Köhler sebagai Panglima Militer Tertinggi untuk ekspedisi ini. Karir militernya dimulai sejak usia 14 tahun. Ia sempat berperang pada masa Pemberontakan Belgia. Kemudian pangkatnya merambat menjadi Kolonel. Sebelum bergabung di ekspedisi ini ia telah menjadi Komandan Teritorial Sumatera Barat. Untuk Perang Aceh ini, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal. Kohler tidak sendirian. Ia ditemani Kolonel E.C. van Daalen sebagai wakilnya. Van Daalen juga bertindak sebagai komandan barisan Infanteri.

Johan Harmen Rudolf Köhler . Sumber foto: Koleksi Digital KITLV.

Köhler telah lama diminta Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon untuk mengumpulkan keterangan militer tentang Aceh. Kohler telah memperhitungkan pasukan yang ia butuhkan untuk ekspedisi ini. Bahkan ia telah membuat rencana yang tampak sederhana: Ia akan mendirikan sebuah pangkalan di muara sungai Aceh. Dari situ ia akan maju menuju ‘Dalam.’

‘Dalam’ adalah sebutan orang Aceh untuk tempat kediaman Sultan yang sekaligus menjadi ibu kota (pusat pemerintahan). Pejabat Belanda menyebutnya ‘Kraton.’ Rencananya, bila ‘Dalam’ telah direbut, maka tuntaslah pekerjaan utama mereka. Sebab asumsinya, begitu mereka merebut pusat pemerintahannya, maka Aceh pasti akan menyerah.

Demikianlah rencana Köhler. Tampak sederhana. Namun kenyataan di lapangan tak sesederhana bayangnnya. Köhler harus bergegas. Angin Muson (Musim) Barat yang bertiup di Sumatera Utara biasanya akan membawa hujan badai besar pada akhir bulan April. Kondisi pantai Aceh pun bukanlah kondisi yang mudah. Pantai Aceh adalah pantai berawa-rawa dengan pepohonan tinggi menjulang. Hal ini menyulitkan tentara Belanda melakukan pengamatan visual yang jauh.

Berdasarkan kesulitan itu, tentara belanda akhirnya masuk ke Aceh hanya mengandalkan Buku Saku Ekspedisi Aceh yang diberikan kepada para perwira. Celakanya, buku ini tidak akurat. Buku itu menyebutkan bahwa “…keraton adalah sebuah tempat yang luas dan besar, terdiri dari berbagai kampung dan dihuni sekitar 6 ribu jiwa.” Kenyataannya, ‘Keraton’ (atau ‘Dalam’) hanya dihuni beberapa ratus orang dan bangunannya terletak lebih jauh dari yang disebutkan buku saku tersebut. Beberapa mata-mata yang ikut dalam ekspedisi tersebut, termasuk Muhammad Arifin ‘si pengkhianat’ tak banyak membantu pasukan Belanda. Tidak mengherakan hal ini berdampak fatal pada pasukan belanda.

Ada dua benteng yang harus dihadapi Belanda di pesisir, pertama Benteng (Kuta) Pante Ceremin (Pantai Cermin) dan Kuta Meugat (Kota Megat). Pada 5 April 1873 pagi kapal Belanda mulai menurunkan sauh, pasukan pengintai Belanda mulai mendarat sejauh 400 meter, menuju Benteng Pantai Cermin.

Serangan bombardir dari Kapal Citadel van Antwerpen dan Kapal Perang lainnya mengiringi pendaratan tersebut. Perlawanan dari pejuang Aceh dimulai. Pasukan pengintai Belanda sempat merangsek memasuki benteng Pantai Cermin yang telah dikosongkan oleh pejuang Aceh. Pasukan pengintai kemudian maju sampai Lembah Datar. Gerakan mereka dihadang oleh Pasukan Aceh. Pasukan pengintai ini kemudian mundur sampai ke pantai dan menaiki kembali sekoci mereka.

Pihak Belanda mulai melakukan pendaratan kembali pada 8 April 1873 antara pukul setengah 4 pagi di sebelah selatan Pantai Cermin. Pendaratan ini mendapat perlawanan dari pejuang Aceh. Mitraliyur diposisikan untuk menggempur pasukan Aceh. George Lodewijk Kepper, menyebutkan perlawanan itu,

       “Pejuang tidak kecut sedikitpun menghadapi tembakan kilat, bahkan sebaliknya kencang mendekat, makin banyak jatuh, makin mengkilat lagi cepatnya yang lain mendekat, semua berteriak.”

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA