Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Helm (cerpen)

Kamis 26 Mar 2020 14:13 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Gadis memakai helm (ilustrasi)

Gadis memakai helm (ilustrasi)

Foto: AP/ Emilio Morenatti
Jadi, bolehkah saya ngambil helm sambil ngajak ibu saya?

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Irwan Kelana

"De, titip helm ya. Pulang dari Yogya saya ambil."

"OK, Mas."

"Tapi nanti saya ngambil helm bareng Ibu saya."

"Maksud Mas?"

"Saya mau mengenalkan calon mantu kepada beliau. Kalau beliau setuju, saya sih inginnya pekan depan langsung khitbah."

"Maaf, Mas, saya tidak paham apa yang Mas katakan. Bukankah Mas ke Yogya mau lamaran?"

"Memang betul, acara lamaran tapi bukan untuk saya. Sepupu saya yang acara lamaran, saya nganter."

"Ooh, begitu."

"Jadi, bolehkah saya ngambil helm sambil ngajak ibu saya?"

Gadis itu tersenyum manis. Bahkan teramat manis.

Perlahan ia menganggukkan kepalanya yang dibungkus kerudung berwarna coklat muda.

"Bolehkah saya mengajukan satu permintaan?"

"Apa, Mas?"

"Simpanlah senyummu yang teramat manis ini, nanti persembahkan kepada ibu saya, agar beliau tahu, betapa cantik calon menantunya."

"Gombal," tapi tak urung dia kembali tersenyum teramat manis.

"Kalau kita menikah nanti, saya akan sering ngegombal, biar puas sering-sering menikmati senyummu yang teramat manis."

Jkt-Depok. 12-13 Mar 2020.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA