Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Lika-Liku Perjuangan Nissan di Pasar Indonesia

Kamis 26 Mar 2020 11:55 WIB

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Dwi Murdaningsih

Mobil listrik Nissan Leaf (putih) dan mobil bertenaga E-Power Nissan Note (oranye metalik) saat uji coba mengemudi di Bridgestone Paving Ground Karawang, Jawa Barat, Senin (9/9).

Mobil listrik Nissan Leaf (putih) dan mobil bertenaga E-Power Nissan Note (oranye metalik) saat uji coba mengemudi di Bridgestone Paving Ground Karawang, Jawa Barat, Senin (9/9).

Foto: Republika/Farah Noersativa
Pabrik Nissan di Purwakarta ditutup awal 2020 karena penjualan menurun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar otomotif Indonesia masih menyimpan potensi yang besar. Hal ini pun membuat sejumlah brand baru berdatangan. Di satu sisi, terdapat pabrikan yang menunjukan tren penjualan yang kurang prima. Nissan salah satunya.

Sejak hadir lewat PT Nissan Motor Indonesia (NMI) pada 2001, pabrikan Jepang ini terus menghadapi tantangan dan terus melakukan sejumlah strategi.Buah dari perjuangan itu mampu tercapai pada 2012 dengan total penjualan 67.143 unit.

Tapi, setelah itu penjualan Nissan terus tergerus. Meski kemudian NMI memperluas semgen dengan menghadirkan brand Datsun pada 2014, ternyata angka penjualan tak mampu terkatrol secara optimal.

Tahun ini, Presiden Direktur NMI, Isao Sekiguchi menyatakan fasilitas produksi  di Indonesia telah resmi dihentikan. Pabrik di Purwakarta, Jawa Barat yang digunakan untuk memproduksi mobil Datsun itu resmi ditutup pada Januari 2020.

Meski demikian, NMI memastikan bahwa Nissan akan tetap hadir di Indonesia. Penutupan pabrik itu pun diklaim tidak akan berpengaruh terhadap penjualan dan pelayanan Nissan di Indonesia.

"Ini adalah bagian dari rencana optimisasi yang mencakup rightsizing, optimasi produksi dan reorganisasi operasi bisnis," kata Isao Sekiguchi.

Baca Juga

Soal produksi, saat ini hanya satu produk NMI yang diproduksi di Indonesia yakni Livina yang diproduksi lewat fasilitas manufaktur milik Mitsubishi. Artinya, selain Livina, NMI menghadirkan produk lewat skema impor dari Jepang dan Thailand.

Ia pun memastikan, kerja sama NMI dengan aliansi bisnisnya yakni Mitsubishi masih akan terus dilakukan untuk memastikan jejak manufaktur Nissan di Indonesia.

"Seluruh aksi ini merupakan bagian dari reformasi strategis yang telah dirancang untuk membangun basis operasional dengan kepastian profitabilitas yang konsisten dan berkelanjutan dalam jangka menengah. Kami juga akan terus berfokus untuk memperkuat brand Nissan di Indonesia dengan terus menghadirkan model-model baru," ujarnya.

Dari sini sekaligus terlihat bahwa meski mengalami lika-liku bisnis, NMI berkomitmen untuk tetap eksis di Indonesia dengan strategi bisnis yang dinilai lebih proper. Tak hanya menjanjikan produk baru, beberapa waktu lalu jenama ini pun berkomitmen untuk jadi brand yang agresif dalam mempelopori kehadiran mobil listrik di Indonesia.

Menanggapi seluruh rangkaian strategi yang dilakukan oleh Nissan, Pengamat Otomotif, Bebin Juana menilai saat ini NMI tengah melakukan langkah efisiensi. Hal ini terlihat dari penutupan fasilitas produksi yang ada dan berkaitan dengan volume penjualan yang terus menurun.

"Jika ada ketimpangan antara kapasitas produksi dan jumlah penjualan maka hal ini akan berdampak signifikan terhadap beban biaya produksi. Mau tidak mau langkah efisiensi harus dilakukan dengan menutup fasilitas itu," kata Bebin.

Soal respons pasar, ia melihat sebenarnya Nissan memiliki penggemar yang cukup banyak. Tapi, lanjut dia, kemungkinan besar penjualan Nissan dan Datsun terus terpangkas karena NMI relatif kurang agresif dalam menghadiran gebrakan produk.

Menurut dia, jika ingin bisa bertahan dan bertumbuh, NMI tentu perlu melakukan sejumlah strategi dari banyak aspek. "Setiap keputusan atau strategi harus juga memperhatikan brand image di mata masyarakat. Hal ini harus dipertimbangkan agar tidak kehilangan kepercayaan konsumen dan akan menimbulkan penurunan brand value," ujarnya.

Penjualan Nissan
Soal jejak penjualan NMI, catatan penjualan terbaik terjadi pada 2012 dengan posisi peringkat keenam dari seluruh pabrikan yang terdaftar dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Meski NMI berhasil berada pada peringkat enam selama tiga tahun berturut-turut, tapi NMI terus mengalami penurunan dari sisi total unit yang terjual.

Pada 2013, penjualan Nissan turun menjadi 61.457 unit dan kembali turun pada 2014 menjadi hanya 35.392 unit. Penurunan pun terus terjadi hingga mencapai titik terendah pada 2018 yang hanya mengantongi penjualan sebanyak 6.885 unit dan membuat brand ini sempat terlempar pada peringkat 11.

Sedangkan Datsun yang mulai hadir pada 2014 sendiri sempat mencapai puncak pencapaian penjualan tahunan sekitar 29 ribu unit. Tapi sejak 2016, penjualanya juga terus merosot hingga hanya mengantongi penjualan sekitar 7 ribu unit pada 2019.

Dari sisi peringkat penjualan, Datsun pun memiliki nasib yang serupa dengan Nissan. Karena, Datsun juga sempat menempati peringkat enam meski kemudian juga harus terlempar pada posisi ke-sebelas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA