Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Belajar Daring Jangan Sampai Bebankan Siswa

Kamis 26 Mar 2020 07:50 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Nora Azizah

Penugasan belajar daring seharusnya menekankan pembelajaran secara mandiri (Foto: ilustrasi belajar daring)

Penugasan belajar daring seharusnya menekankan pembelajaran secara mandiri (Foto: ilustrasi belajar daring)

Foto: Yogi Ardhi/Republika
Penugasan belajar daring seharusnya menekankan pembelajaran secara mandiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan mengatakan pembelajaran daring yang dilakukan selama masa darurat Covid-19 jangan sampai membebani siswa terlalu berat. Penugasan yang diberikan seharusnya menekankan pada pembelajaran secara mandiri.

"Penugasan itu bagaimana siswa bisa belajar mandiri, sesuai kemampuannya, dengan perkembangan psikologi, dan didukung oleh fasilitas online yang memadai," kata Cecep pada republika.co.id, Rabu (25/3).

Selama ini yang terjadi, siswa yang belajar di rumah meminta bantuan orang tua. Hal ini menambah kesibukan orang tua. Padahal, kata Cecep, bukan begitu konsep pembeljaran daring di rumah.

Pembelajaran daring pun seharusnya tidak diwajibkan menggunakan aplikasi tertentu. Sebab, satu daerah memiliki perbedaan kelengkapan fasilitas dengan daerah yang lainnya.

"Jadi, hemat saya, prinsipnya penugasan itu harus menyenangkan siswa," kata dia lagi.

Selain itu, ia menambahkan, materi dalam pembelajaran daring harus bersifat kontekstual. Maksudnya adalah sesuai dengan kondisi yang ada saat ini. "Begini, sekarang kondisinya begini. Coba kaitkan anak itu bagaimana mengantisipasi agar tidak terjangkit corona, kemudian punya literasi yang memadai itu, sehingga siswa itu paham dalam tingkat tertentu," kata dia lagi.

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah pengaduan terkait pembelajaran daring ini meningkat. Sampai Rabu (25/3) KPAI sudah menerima total 77 pengaduan daring dari 14 orang tua dan 63 dari para siswa.

Keluhan yang datang kebanyakan disebabkan tugas pembelajaran di rumah yang terlalu berat. "KPAI mengakui bahwa ada guru yang paham dan sudah memberikan pembelajaran jarak jauh dengan tepat, namun faktanya banyak juga sekolah dan guru yang pembelajaran jarak jauhnya belum tepat," kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA