Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Mengenal Tokoh Intelektual Mesir, Rifaat Tahtawi

Kamis 26 Mar 2020 07:11 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ilustrasi Mengenal Tokoh Intelektual Mesir, Rifaat Tahtawi

Ilustrasi Mengenal Tokoh Intelektual Mesir, Rifaat Tahtawi

Foto: wikipedia
Rifaat Tahtawi merupakan seorang Intelektual Muslim Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama lengkapnya Rifa'at bin Badwi bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Rofi'. Ia dikenal dengan panggilan Rifaat Tahtawi.

Baca Juga

Tahtawi lahir di Desa Thahtha, Distrik Suhaz, Mesir, pada 7 Jumadil Tsani 1612 H, atau bertepatan 15 Oktober 1801 M. Ia dikenang sebagai salah seorang pemikir kebangkitan Arab modern. Bahkan, jasanya disebut melampaui itu.

"Kalaulah tidak ada Tahtawi, niscaya negeri-negeri Arab akan tetap dalam kegelapan dan keterbelakangan," tulis seorang cendekiawan Mesir, Dr Jabeer Usfour, dalam uraian memperingati 120 tahun wafatnya Rifaat Tahtawi (1994).

Jasa dan peran Tahtawi dalam pencerahan dunia Arab memang tak bisa dianggap remeh. Dialah perancang pendidikan modern, pionir dalam penerbitan surat kabar, mendirikan sekolah-sekolah bertaraf modern di Mesir. Ia juga menerjemahkan berbagai buku berbahasa Prancis ke bahasa Arab serta menulis karya-karya dalam berbagai disiplin ilmu.

Tahtawi berusaha memadukan peradaban Timur yang kaya dengan sejarah kejayaan masa lampau (turas) dengan peradaban Barat modern.

Salah satu karyanya yang representatif dan monumental adalah Tahlis al-Ibriz fi Talshils al-Fariz. Dalam buku ini, Tahtawi memberikan gambaran sebab-sebab kemajuan Prancis dan mengajak dunia Arab untuk menempuh jalan yang sama--dengan tetap berpegang kepada nilai-nilai Islam sebagai pijakan.

Perjalanan berliku

Untuk sampai kepada kematangan ilmu dan tokoh serta pemikir yang sangat disegani, Tahtawi harus menempuhnya dengan penuh liku. Ketika berusia 12 tahun, ia sudah harus hidup malang melintang, berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya. Tak lama kemudian, ia harus kehilangan ayah tercintanya untuk selamanya.

Setelah ayahnya meninggal, Tahtawi kembali ke kampung halamannya untuk memperdalam ilmu di Baitul Ilmi (sejenis sekolah) yang ada di sana. Ia belajar dari para ulama tentang ilmu fikih, nahwu, logika, tafsir dan hadis.

Di usia ke-16, Tahtawi berangkat ke Kairo dengan tujuan ingin belajar di Universitas al-Azhar. Ia berguru pada ulama-ulama al-Azhar seperti Syekh al-Fudhali, Syekh Hasan al-Kuwaisini, Syekh al-Bukhari, Syekh al-Damanhuri, Syekh Muhammad Hubais, Syekh al-Bajuri, dan lain-lainnya.

Di antara mereka, gurunya yang paling berpengaruh pada pemikiran-pemikiran Tahtawi adalah Syekh Hasan al-Attar (1766-1830 M/1180-1251 H). Beliaulah yang menyampaikan Tahtawi masuk dalam lingkungan ulama-ulama al-Azhar dan memberikan rekomendasi untuk berangkat ke Paris, Prancis.

Di Paris, Tahtawi belajar pada ilmuwan-ilmuwan Prancis, seperti Edme Francois Jomar, Silvestre de Sacy, Caussin de Perceval dan lainnya. Sebelum kembali ke Mesir (1831 M/1247 H) ia sempat menerjemahkan lebih dari 12 teks berbahasa Prancis, baik berupa artikel maupun buku.

Setibanya di Mesir, Tahtawi menunjukkan buku Tahlis al-Ibriz fi Talshils al-Fariz yang mengupas sebab-sebab kemajuan Prancis kepada Syekh Hasan al Attar. Kemudian, ia menunjukkannya kepada Muhammad Ali Basa (penguasa Mesir saat itu), yang merasa kagum atas hasil karyanya tersebut.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA