Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Mourinho Tinggalkan Kesan Paling Dalam Bagi Michael Ballack

Selasa 24 Mar 2020 22:32 WIB

Rep: Frederikus bata/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Michael Ballack (kiri) dan Jose Mourinho

Michael Ballack (kiri) dan Jose Mourinho

Foto: bundesliga.com
Ballack mengagumi karisma Mourinho.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan pesepak bola asal Jerman, Michael Ballack menyatakan puas setelah meraih lima gelar liga domestik, dua final Liga Champions, dan satu medali runner-up Piala Dunia selama karier sepak bolanya. Menurut dia, semua pencapaian itu tak terlepas dari peran pelatih, termasuk saat dirinya bermain untuk Chelsea. 

Ballack merupakan salah satu rekrutan besar di bawah asuhan Jose Mourinho pada musim panas 2006. Dengan gelontoran dana besar, 'The Special One' pun berhasil memikat hati Ballack untuk berseragam Chelsea. 

Sejak saat itu, Ballack tercatat sudah berhadapan dengan empat wajah pelatih berbeda. Mereka adalah Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, dan Carlo Ancelotti. 

Menurut catatan Sky Sports, Carlo Ancelotii memiliki persentase kemenangan tertinggi (71 persen), sedangkan yang terendah adalah Scloari (56 persen). Namun menurutnya, Mourinho adalah pelatih Chelsea yang paling memiliki karakter. 

"Bekerja dengan pelatih seperti dia adalah hal baru bagi saya. Ia sangat impresif dan selalu nyaman dengan keputusannya," kata Ballack seperti dilansir Sky Sports. 

Setelah Mourinho hengkang, Ballack sebenarnya berkesempatan meraih trofi Liga Champions di bawah asuhan Avram. Namun hal tersebut tidak terwujud karena Chelsea dikalahkan Manchester United (MU) lewat adu penalti. 

"Ketika kami tidak menang, pelatih akan menjadi orang yang lebih kuat atau sebaliknya," ucapnya. 

"Dia (Graham) tidak punya kesempatan. Itu sulit, setelah Mourinho pergi selalu ada masalah antara fan dan pelatih," katanya menambahkan. 

Setelah itu, datang Scolari ke Stamford Bridge dengan modal kepelatihannya di tim nasional Brasil. Namun, Scloari hanya mampu membawa Chelsea ke peringkat empat klasemen akhir.

Kemudian, Carlo Ancelotti kembali menghadirkan harapan bagi skuat The Blues dengan gelar Liga Primer Inggris pada 2009/10. 

"Klub membuat keputusan merekrut Scolari, itu tidak berjalan dengan baik. Ia tidak menjalin hubungan baik dengan pemain," katanya. 

"Carlo (Anceloti) adalah pria yang lembut dan pintar. Ia senang memperhatikan cara pemain bekerja," ujar dia. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA