Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Sejumlah Penyakit Kronis yang Rentan Terinfeksi Covid-19

Rabu 25 Mar 2020 00:05 WIB

Red: Nora Azizah

Penderita penyakit kronis lebih rentan karena daya tahan tubuhnya tidak optimal (Foto: ilustrasi covid 19)

Penderita penyakit kronis lebih rentan karena daya tahan tubuhnya tidak optimal (Foto: ilustrasi covid 19)

Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Penderita penyakit kronis lebih rentan karena daya tahan tubuhnya tidak optimal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penderita penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, asma, TBC, serta penyakit paru-paru obstruktif kronik (PPOK) akibat merokok paling berbahaya jika terkena dampak dari infeksi virus corona baru Covid-19. Komite Ahli Tuberkulosis dr Pandu Riono MPH PhD mengatakan, orang yang sudah memiliki penyakit kronis mempunyai daya tahan tubuh yang tidak optimal sehingga lebih rentan.

Dia menjelaskan, pasien Covid-19 dengan penyakit kronis bisa memiliki gejala yang lebih berat dan paling parahnya berakhir pada kematian. Namun, Pandu menekankan agar tidak terpaku pada angka persentase kematian setiap kasus Covid-19 di Indonesia yang mencapai delapan persen.

Menurut Pandu, data kasus positif Covid-19 di Indonesia tidak merefleksikan data yang nyata di lapangan. Pasalnya, ada keterbatasan orang yang dites laboratorium.

"Yang diestimasi orang yang sudah terinfeksi di luar banyak sekali bukan ratusan, puluhan ribu. Dalam waktu mendatang itu diperkirakan sudah ratusan ribu," kata dia, Selasa (24/3).

Hal itulah, menurut dia, yang menunjukkan kasus kematian Covid-19 di Indonesia menjadi terlihat besar, bahkan lebih tinggi daripada kasus kematian dari negara asalnya, China, yang sekitar tiga hingga empat persen. Oleh karena itu, dia mendorong untuk tes cepat dilakukan pada masyarakat lebih banyak, yaitu pada kelompok orang yang berisiko terpapar Covid-19.

Baca Juga

Namun, menurut Pandu, yang merupakan ahli epidemiologi bidang penyakit menular di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tersebut, tes cepat dengan menggunakan alat berbasis reaksi antibodi yang dilakukan pemerintah memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut adalah reaksi antibodi yang lambat untuk mendeteksi adanya virus di tubuh seseorang selama enam hingga tujuh hari setelah infeksi.

Pandu mendorong agar pemeriksaan melalui metode polymerase chain reaction (PCR) di laboratorium dapat lebih ditingkatkan kapasitasnya untuk mendukung tes cepat. Pandu menegaskan bahwa pemerintah harus bekerja secara aktif dengan cepat menemukan kasus baru dan mengisolasinya untuk memutus rantai penularan.

Pasien positif Covid-19 dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, dan TBC harus dirawat di rumah sakit. Sementara itu, yang memiliki gejala ringan bahkan tanpa gejala bisa dirawat di tempat lain ataupun di rumah.

Dia mengatakan, saat ini petugas medis yang terinfeksi bahkan meninggal saat menjalankan tugasnya merawat pasien Covid-19 terus bertambah. Pandu menegaskan bahwa pemerintah harus melakukan tindakan cepat berkejaran dengan waktu dan kecepatan virus menyebar.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA