Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Pembatasan Interaksi Fisik dengan Lansia Sulit Dilakukan

Selasa 24 Mar 2020 01:41 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Physical distancing. Pembatasan interaksi fisik dengan lansia sulit dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Physical distancing. Pembatasan interaksi fisik dengan lansia sulit dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Foto: Putra M. Akbar/Republika
Pembatasan interaksi fisik dengan lansia sulit dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2012-2015, dr Zaenal Abidin, menyoroti teknis pembatasan interaksi fisik di tengah pandemi Covid-19. Menurut dia, pemerintah perlu memerhatikan physical distancing untuk warga lanjut usia.

"Persoalannya, orang lanjut usia yang tinggal sendirian, harus ada yang datang mengurusi, menyiapkan makanan setiap hari. Tidak mungkin mereka ke warung atau ke luar rumah karena sangat rentan," kata pria kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, itu.

Dokter yang menempuh studi di Universitas Hasanuddin Makassar tersebut mengatakan, isolasi mandiri lansia memiliki konsekuensi karena sebagian dari mereka tidak lagi memiliki penghasilan. Paling tidak, perlu ada pihak terdekat yang mengurusi keperluan mereka.

Kerabat atau tetangga yang bergantian menyiapkan makanan tentunya perlu melakukan upaya antisipasi, seperti memakai masker dan menjaga kebersihan diri. Sebagai kelompok usia yang rawan terinfeksi virus corona tipe baru, lansia juga perlu lebih memerhatikan kondisinya.

Zaenal menilai, secara umum upaya physical distancing sangat penting guna menghambat penularan Covid-19 secara masif. Ketika penularan virus terjadi secara besar-besaran, kondisi yang ada akan lebih mengkhawatirkan.

Adapun pembatasan interaksi fisik tidak bisa diterapkan secara ekstrem mengingat kondisi sosial ekonomi masyarakat perkotaan. Masih ada orang yang harus pergi ke luar rumah untuk bekerja, sebagian perusahaan pun masih mengharuskan karyawannya ke kantor.

Konsekuensinya, aparat pemerintah diharapkan tidak bosan menyampaikan imbauan terkait pembatasan sosial. Begitu pula warga yang diharapkan Zaenal memiliki kesadaran tinggi untuk menghindari kerumunan sesuai dengan anjuran tim medis.

Pendiri Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi itu menyampaikan, dokter telah kewalahan lantaran banyaknya pasien yang ditangani dengan tenaga dan peralatan terbatas. Itu sebabnya masyarakat perlu melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk melindungi diri.

"Dokter adalah pertahanan terakhir, penjaga gawang di benteng terakhir, tidak ada lagi di belakangnya. Kalau semua kebijakan pemerintah tidak dilakukan, maka bisa bobol. Itu yang saya khawatirkan," tuturnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA