Saturday, 18 Sya'ban 1441 / 11 April 2020

Saturday, 18 Sya'ban 1441 / 11 April 2020

Bank Sentral Prediksi Ekonomi China Menguat pada Kuartal II

Senin 23 Mar 2020 07:02 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Bank sentral China menilai langkah-langkah kebijakan yang dilakukan pemerintah dan otoritas keuangan belakangan ini akan membantu menguatkan ekonomi China di tengah tekanan dari wabah virus corona (Covid-19).

Bank sentral China menilai langkah-langkah kebijakan yang dilakukan pemerintah dan otoritas keuangan belakangan ini akan membantu menguatkan ekonomi China di tengah tekanan dari wabah virus corona (Covid-19).

Pasar China masih stabil secara umum dan ruang untuk kebijakan makro juga cukup.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Bank sentral China menilai langkah-langkah kebijakan yang dilakukan pemerintah dan otoritas keuangan belakangan ini akan membantu menguatkan ekonomi China di tengah tekanan dari wabah virus corona (Covid-19). Mereka berharap, terjadi peningkatan signifikan pada indikator-indikator ekonomi pada kuartal kedua.

Baca Juga

Deputi Guberur People’s Bank of China (PBOC) Chen Yulu juga menyebutkan, sistem keuangan negara tetap stabil dan banyak kebijakan yang sudah disiapkan untuk memperkuat fundamental perekonomian. Di saat bersamaan, Chen menyerukan peningkatan koordinasi kebijakan global untuk mengelola dampak ekonomi dari wabah Covid-19. Sebab, epidemi global ini sudah menyebar dengan cepat, sehingga sudah mendesak bagi semua negara untuk memperkuat koordinasi internasional dalam kebijakan ekonomi makro.

"Seperti kebijakan kesehatan masyarakat, kebijakan perdagangan, fiskal dan moneter," ujarnya dalam konferensi pers, seperti dilansir Reuters, Ahad (22/3).

Chen menjelaskan, pandangan tersebut sudah disampaikan PBOC melalui Gubernur PBOC Yi Gang melalui diskusi dengan Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell, International Monetary Fund (IMF) dan lembaga lain. Chen memastikan, pihaknya akan aktif berpartisipasi dalam kerja sama internasional untuk menanggapi situasi kompleks saat ini.

Analis sektor swasta memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk Cina ke posisi terendah sejak Revolusi Kebudayaan berakhir pada 1976. Diprediksi terjadi kontraksi tajam pada kuartal pertama.

Tapi, Chen menyebutkan, operasi pasar China masih stabil secara umum dengan ekspektasi pasar yang relatif stabil. "Ruang untuk kebijakan makro juga cukup," tuturnya.

PBOC berkomitmen menjaga likuiditas secara cukup, menjaga pertumbuhan suplai uang beredar dalam arti luas (M2). Yaitu, uang yang dipegang masyarakat, uang giral dan uang kuasi serta dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun. Selain itu, PBOC menjaga total pembiayaan sosial, sejalan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan menargetkan kenaikan kredit sedikit lebih tinggi.

Sejauh ini, PBOC telah meluncurkan serangkaian langkah guna meredam pukulan wabah Covid-19 terhadap ekonomi China. Termasuk di antaranya memotong suku bunga pinjaman dan rasio cadangan bank serta membagikan pinjaman murah untuk beberapa perusahaan tertentu.

China, tempat wabah Covid-19 berasal pada akhir tahun lalu, diperkirakan akan menghadapi kontraksi ekonomi pada kuartal pertama. Kondisi ini terjadi sebagai dampak dari upaya China yang sedang berupaya menahan penyebaran penyakit.

Chen menilai, virus corona diperkirakan akan terus memberikan tekanan sehingga berpotensi menaikkan harga konsumen dalam waktu dekat. Tapi, ia memproyeksikan, inflasi dapat mereda pada kuartal mendatang.

Wakil Ketua Komisi Pengaturan Perbankan dan Asuransi Cina (China Banking and Insurance Regulatory Commission) Zhou Liang mengatakan, otoritas siap melindungi risiko keuangan yang disebabkan wabah Covid-19. Pihaknya juga sedang mempelajari rencana untuk mereformasi perusahaan manajemen aset negara yang ditugaskan untuk menangani kredit macet.

Zhou mencatat, rasio kredit macet (non performing loan/ NPL) Cina naik menjadi 2,08 persen pada akhir Februari. Dalam tiga tahun terakhir, sektor perbankan Cina sudah membuang total 5,8 triliun yuan (817,48 miliar dolar AS) untuk kredit macet.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA