Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Ini Alasan Terjadi Panic Buying Saat Pandemi Corona

Senin 23 Mar 2020 01:54 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

(Foto: Ilustrasi belanja di supermarket)(Flickr)

(Foto: Ilustrasi belanja di supermarket)(Flickr)

Foto: Flickr
Pemerintah diminta menjamin pandemi Corona tak membuat stok pangan habis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pusat Krisis Universitas Indonesia/Wasekjen Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dicky Pelupessy menganalisis perilaku masyarakat Indonesia membeli barang dalam jumlah besar tiba-tiba (panic buying) akibat pandemi virus novel corona (Covid-19). Diantaranya informasi yang beredar tidak jelas atau tidak utuh.

"Dasar perilaku panic buying menurut saya akibat kecemasan menghadapi wabah corona. Apalagi informasi yang beredar tidak jelas, tertutup," kayanya di konferensi pers update penanganan Covid-19, di akun youtube saluran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ahad (22/3).

Informasi yang tidak utuh inilah diakuinya membuat kecemasan khalayak muncul. Untuk mengatasi perilaku ini, ia meminta masyarakat bertindak berdasarkan informasi yang benar.

Ia menegaskan, informasi yang benar itu bisa didapatkan dengan mencari informasi yang valid. Karena itu, ia meminta pemerintah mencegah beredarnya berita hoaks.

Selain itu ia juga meminta media memberitakan informasi yang akurat dan tidak membuat konten bombastis. Sebab, berita yang isinya bombastis bisa memicu kepanikan masyarakat. Selain itu, dia melanjutkan, perlu ada pihak yang menunjukkan ke masyarakat bahwa persediaan kebutuhan logistik mencukupi.

"Pemerintah sebagai influencer perlu menunjukkan bukti itu (lebutuhan logistik cukup) dan menunjukkannya ke masyarakat dan menjamin pasokan aman," ujarnya.

Selain itu, ia meminta pemerintah terus-menerus memberikan informasi yang transparan mengenai hal itu. Pemerintah juga memberikan imbauan masyarakat membatasi pembelian. Selain itu, ia juga mendesak pemerintah memberikan imbauan kepada penjual usaha ritel supaya meratakan penjualan, distribusi, dan tidak boleh menaikkan harga melebihi batas tertentu.

"Kalau perlu ada sanksi tegas kalau ada pelanggaran. Tindak tegas oknum curang yang bisa memicu kenaikan harga," ujarnya.

Ia juga meminta pihak supermarket yang menjual kebutuhan pokok bisa memberikan batasan pada masyarakat utamanya ketika membeli beras, gula, hand sanitizer, hingga masker wajah kini banyak dicari.

Di satu sisi, ia juga meminta masyarakat menerapkan logika berpikir tetap diatas kecemasan. Ia menyebutkan tips untuk rasionalitas masyarakat tetap berada diatas kecemasan yaitu membeli secara rasional atau smart buying.

"Artinya membeli yang memang dibutuhkan dalam jumlah cukup untuk keluarga dalam jumlah rasional atau sesuai keuangan," katanya.

Ia meminta masyarakat tidak egois dalam mencari kebutuhan tersebut. Sebab, ia menegaskan yang mencari kebutuhan logistik tidak hanya satu individu melainkan juga tetangga, teman, saudara jauh, atau orang tidak saling mengenal sama sekali.

Selain itu, ia juga meminta masyarakat membuat daftar pembelian barang. Tujuannya, dia melanjutkan, memastikan barang yang dibutuhkan dibeli sesuai rencana. 

"Kemudian beli barang lewat delivery order karena perlu melakukan social distancing. Kalaupun harus beli di supermarket maka harus jaga keamanan dan jaga jarak minimal 1 meter," ujarnya.

Selain itu, ia meminta masyarakat membeli kebutuhan itu saat jam tidak sibuk atau tidak bebarengan dengan orang lain seperti hari Sabtu dan Ahad.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA