Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Semoga Shalawat Menjadi Obat

Senin 23 Mar 2020 02:32 WIB

Red: Agung Sasongko

Rasulullah(wikipedia)

Rasulullah(wikipedia)

Foto: wikipedia
Keutamaan bershalawat sendiri pun dijelaskan dalam suatu hadits

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Ina Salma Febriany

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (Qs. Al-Ahzab/ 33: 56)

Sejenak kita merenung, menepi, dan bernafas dengan tenang—lalu berusaha menghayati ayat di atas dengan hati yang bersih. Melalui Surah Al-Ahzab 33: 56 inilah kita menemukan betapa agung dan mulianya posisi Rasulullah  Saw. hingga Allah dan para malaikat-Nya tulus ikhlas mengirimkan shalawat kepada beliau—sekaligus memberikan pengajaran kepada hamba-hambaNya bagaimana cara memuliakan Rasulullah Saw.

Shalawat? Apa makna sebenarnya tentang shalawat pada Qs. Al-Ahzab/ 33: 56 di atas? Apakah sama seperti yang  selama ini kita sering ucapkan, ‘Allahumma shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad?’

Setidaknya ada dua poin besar yang bisa dipahami dari ayat di atas, yakni pertama, Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kedua, adanya perintah bagi orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada beliau. Sementara itu, para pakar tafsir memberikan makna yang lebih komprehensif mengenai makna shalawat pada ayat di atas.

Dalam kitab Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, misalnya, Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa maksud shalawat dalam ayat di atas ialah bahwa Allah senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad. Dengan demikian, shalawat Allah memiliki makna bahwa rahmat dan keridhaan-Nya selalu tercurah kepada beliau. Sedangkan shalawatnya para malaikat berarti doa dan permohonan ampun (istighfar) bagi Rasulullah.

Kedua, dalam Tafsir Al-Muyassar karya Kementerian Agama Saudi Arabia, menguraikan bahwa ayat  tersebut mengabarkan hamba-hamba-Nya tentang kedudukan Nabi Muhammad di sisi-Nya di depan para malaikat, bahwa Dia memujinya di hadapan mereka, dan mereka bershalawat kepadanya, serta memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mengikuti hal ini dengan bershalawat kepadanya pula. Mengapa? Sebab, para ulama telah bersepakat bahwa shalawat kepada Nabi hukumnya wajib bagi setiap muslim, dan paling sedikit sekali seumur hidup. Selain itu, lafadz ‘shalawat dan salam atas Rasulullah’ adalah syi’ar khusus baginya, sehingga tidak diperbolehkan untuk mengatakan ‘shalawat atas si fulan’ tanpa menyebutkan Rasulullah Muhammad Saw.

Sementara itu, dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir karya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, beliau menulis, ‘sesungguhnya Allah dan para malaikat senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad sebagai pemuliaan atas derajatnya. Wahai orang-orang mukmin bershalawat dan haturkanlah salam kepada Nabi’. Selain itu, Syaikh Sulaiman juga mengulas lebih dalam  bahwa makna shalawat dari Allah adalah berupa rahmat dan ridho. Adapun dari malaikat adalah doa dan permohonan ampun untuk Nabi, sedangkan shalawat dari orang mukmin adalah doa dan pengagungan. Sehingga dari itu, pujian atas Nabi dari penduduk langit dan bumi menjadi terkumpul.

Pandangan keempat dikemukakan oleh Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz, beliau menuliskan, ‘Allah dan para Malaikat memuliakan Nabi Muhammad dan mengabarkan kedudukannya di sisi-Nya. Kemudian Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bershalawat dan salam kepada Nabi. Maka dengan ini terkumpullah bagi Nabi pujian-pujian yang mendoakan Nabi, maka dengan ini semua terkumpul pujian dan doa untuk Rasulullah dari penduduk langit dan bumi. MasyaAllah!

Sementara itu, Ar-Razi dalam Mafâtîhul Ghaib, menjelaskan lebih lanjut bahwa bershalawat kepada Nabi bukanlah karena kebutuhan beliau untuk didoakan. Bila Nabi membutuhkan shalawat maka tak ada kebutuhan terhadap shalawatnya malaikat yang bersamaan dengan shalawatnya Allah kepada beliau. Shalawat itu hanya untuk menampakkan pengagungan terhadap beliau, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk mengingat Dzat-Nya sementara Allah tak memiliki kebutuhan untuk diingat.

Sungguh luar biasa makna Qs. Al-Ahzab 33: 56 di  atas bukan saja karena bentuk pemuliaan Allah dan malaikat kepada-Nya; namun energi dan berkah shalawat bukan saja untuk keselamatan dan keberkahan Rasulullah semata namun juga untuk kita semua umat Rasulullah Saw yang merindukan syafaat (pertolongan) beliau di hari kiamat nanti ketika para nabi-nabi lain tak mampu memberikan pertolongan.

Nah, di momen Isra Mi’raj tepat 27 Rajab tahun ini, perjuangan Rasulullah menyusuri perjalanan panjang dari Makkah menuju masjidil Aqsha bukanlah perkara mudah. Terlebih, setelah itu Rasulullah melanjutkan perjalanan hingga langit ketujuh (mi’raj) dan bertemu dengan para Nabi dimana Nabi tersebut seluruhnya bershalawat atas Rasulullah Saw sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan untuk beliau.

Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, peristiwa Mi’raj (naiknya Rasulullah hingga langit ketujuh) memiliki makna  spiritual tersendiri. Peristiwa sakral yang terjadi setahun sebelum hijrah ke Madinah ini mempertemukan Rasulullah dengan para nabi, di antaranya adalah Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit ke empat, Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam. Barulah saat sampai ke langit ke 7, Rasul bertemu dengan Nabi Ibrahim. Pertemuan Rasulullah Saw dengan para Nabiyallah ini selalu didahului oleh salam dan shalawat yang terkhusus untuk Rasulullah Saw sebab beliau mengetahui keutamaan dan kemuliaan Rasulullah Saw.

Keutamaan bershalawat sendiri pun dijelaskan dalam suatu hadits, Dari Anas bin Malik ra beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak) (HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim.

Semoga Isra Mi’raj kali ini bukan hanya  membuat kita sadar akan pentingnya menjaga shalat seperti esensi penting dari peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad namun juga membuat kita semua memuliakan Rasulullah Saw dengan senantiasa bershalawat. Dengan demikian, semoga berkah shalawat mampu menjadi obat (seizin Allah). Semoga dengan shalawat pula mampu menenangkan pikiran dan menyembuhkan diri dari segala macam penyakit dan marabahaya; di tengah merebaknya wabah virus corona.

Allahumma shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad wa ‘alaa Ali Sayyidina Muhammad..

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA