Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Lockdown, Kehidupan Warga Gaza Selama 14 Tahun

Ahad 22 Mar 2020 18:32 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Kelurga Hamouda Abu Amra berkumpul mengelilingi api unggun untuk mengusir dingin tidak jauh dari kediaman mereka yang  di Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Bangunan 5 lantai yang dihuni 19 jiwa itu hancur dibombardir serangan udara Israel pada  November tahun lalu.(Hatem Moussa/AP)

Kelurga Hamouda Abu Amra berkumpul mengelilingi api unggun untuk mengusir dingin tidak jauh dari kediaman mereka yang di Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Bangunan 5 lantai yang dihuni 19 jiwa itu hancur dibombardir serangan udara Israel pada November tahun lalu.(Hatem Moussa/AP)

Foto: Hatem Moussa/AP
Warga Gaza telah merasakan lockdown karena Israel sejak 14 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Kehidupan dan kegiatan warga di sejumlah negara di dunia kini sedang dibatasi, bahkan dihentikan sementara. Hal itu menyusul merebaknya wabah virus corona Covid-19. Virus tersebut telah menginfeksi lebih dari 300 ribu orang dan membunuh sekitar 13 ribu jiwa.

Baca Juga

Di tengah isolasi dan karantina wilayah yang sedang diterapkan sejumlah negara, suara-suara getir datang dari Jalur Gaza. Masyarakat di sana diketahui telah hidup di bawah blokade Israel selama 14 tahun. 
 
"Lockdown" mungkin istilah baru yang kini sedang ramai digunakan media dan negara. Namun, warga Gaza telah menjalaninya selama lebih dari satu dekade. 
 
"Apakah Anda bosan dengan karantina Anda, penutupan perbatasan Anda, bandara Anda, perdagangan Anda? Kami di Gaza telah menjalani ini selama 14 tahun. Oh dunia, selamat datang di realitas permanen kami," kata salah seorang pengguna media sosial di Gaza. 
 
Youssef Sharaf adalah salah satu warga Gaza yang masih ingat bagaimana kehidupan berlangsung sebelum cengkeraman blokade Israel. Sebagai pengusaha, dulu dia biasa mengekspor pemanas listrik ke Israel dan Tepi Barat. 
 
Pabrik logamnya bergeliat. Namun kini tempat tersebut telah ditinggalkan hiruk pikuk aktivitas. Tak ada kegiatan. "Saya punya 70 orang yang bekerja di sini (pabrik), hari ini saya hanya punya satu," kata Sharaf saat diwawancara Reuters. 
 
Meskipun pabriknya tak beroperasi akibat ulah manusia, dia berempati kepada mereka yang menghadapi penutupan akibat wabah penyakit. "Ini sulit. Semoga Allah menyertai mereka," ujarnya. 
 
Warga Gaza juga telah terbiasa bekerja jarak jauh dengan bantuan telekonferensi. Sebab, mereka tak diperkenankan melakukan perjalanan ke luar negeri. 
 
Metode telekonferensi itu biasa digunakan warga Gaza yang bekerja di sektor teknologi. Gaza Sky Greeks, inkubator untuk pengusaha muda, pemrogram komputer, dan pengembang web bekerja jarak jauh dengan perusahaan internasional. 
 
"Karena blokade selama bertahun-tahun pada kami, masyarakat Gaza memahami situasi saat ini di negara-negara dunia," kata Angham Abu Abed (24 tahun), seorang insinyur komputer yang bekerja dengan perusahaan perangkat lunak di Inggris. 
 
Abu Abed berharap blokade terhadap Gaza akan berakhir. "Dan kami berharap virus akan hilang dari dunia," ucapnya. 
 
Kementerian Kesehatan Jalur Gaza mengumumkan penemuan dua kasus pertama virus korona tipe baru atau Covid-19 pada Ahad (22/3). Kedua pasien itu baru saja kembali dari Pakistan.
 
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, kedua warganya memasuki Gaza melalui Mesir pada Kamis (19/3). Mereka sempat dikarantina di Rafah dan terkonfirmasi positif mengidap Covid-19 pada Sabtu (21/3).
 
Belum diketahui apakah kedua warga Gaza itu berada dalam kondisi stabil atau kritis. Selama dua pekan terakhir, pasar, sekolah, dan aula acara di Gaza telah ditutup. Hal itu untuk meminimalisasi risiko pencegahan penularan Covid-19.
 
Pekan lalu kelompok Hamas yang mengontrol Gaza mengatakan hanya akan mengizinkan pasien dengan kebutuhan perawatan medis mendesak untuk menyeberang ke Mesir atau Israel. Itu juga merupakan upaya mencegah penularan. 
 
Kementerian Kesehatan Palestina telah melaporkan 53 kasus Covid-19 di Tepi Barat. Sementara Isael menangani lebih dari 880 pasien. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA