Sabtu 21 Mar 2020 18:39 WIB

Kementerian BUMN Serahkan Chloroquine ke RSPI

Obat-obatan itu akan terus dipasok sesuai kebutuhan atau permintaan rumah sakit.

Warga berdiri di depan karangan bunga dukungan untuk tenaga medis dan staf Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta, Sabtu (21/3/2020).(Antara/Aditya Pradana Putra)
Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Warga berdiri di depan karangan bunga dukungan untuk tenaga medis dan staf Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta, Sabtu (21/3/2020).(Antara/Aditya Pradana Putra)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyerahkan obat chloroquine ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso untuk membantu penanganan wabah Virus Corona baru atau Covid-19. Secara simbolis, Kementerian BUMN memberikan sebanyak 1.000 butir chloroquine untuk pasien positif Covid-19 ke RSPI.

"Hari ini (Sabtu, 21/3) atas permintaan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 meminta kami (Kementerian BUMN) untuk menyerahkan obat-obatan ke RSPI," ujar Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga di Jakarta, Sabtu.

Baca Juga

"Hari ini kita serahkan sebanyak 1.000 butir. Kita juga akan menyerahkan obat-obatan ini ke rumah sakit rujukan Covid-19, ini simbolis saja," ucap Arya.

Ia mengatakan, obat-obatan itu akan terus dipasok sesuai kebutuhan atau permintaan rumah sakit rujukan Covid-19. "Sekarang yang penting kebutuhan pasiennya," ucap Arya Sinulingga.

Ia menambahkan, obat yang diserahkan ke RSPI itu juga telah digunakan di beberapa negara untuk menyembuhkan pasien yang positif Covid-19.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, langkah pemerintah menggunakan obat chloroquine dan avigan untuk melawan virus corona merupakan ikhtiar atau upaya menyelamatkan warga Indonesia dari virus berbahaya itu. Ia mengatakan, kedua obat itu cukup efektif dipergunakan di beberapa negara untuk menangani orang yang terpapar virus corona. 

BUMN Farmasi memiliki sekitar tiga juta chloroquine yang diproduksi PT Kimia Farma. "Kalau satu pasien membutuhkan sekitar 50 butir, setidaknya ada 60 ribu pasien yang bisa mendapatkan obat ini. Kalau memang efektif tentunya PT Kimia Farma akan memproduksi kembali," kata Erick Thohir.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement