Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

IMF: Ekonomi China Memulih, Tapi Masih Ada Risiko

Sabtu 21 Mar 2020 12:52 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Bendera China.(Pixabay)

Bendera China.(Pixabay)

Foto: Pixabay
Sebagian besar perusahaan besar di China sudah mulai beroperasi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- International Monetary Fund (IMF) melihat ekonomi China sudah menunjukkan tanda-tanda normalisasi setelah dihantam wabah Covid-19. Sebagian besar perusahaan besar sudah mulai beroperasi dan staf lokal kembali bekerja.

Meski demikian, ada risiko tingkat infeksi naik lagi, baik secara nasional maupun internasional seiring dengan perjalanan internasional kembali normal. Kepala misi IMF China, Helge Berger menyebut seiring dengan kembali normalnya aktivitas, risiko penularan kembali mengancam.

"Wabah di negara lain dan perputaran pasar keuangan juga bisa membuat konsumen dan perusahaan mewaspadai barang-barang China," katanya dalam blog IMF terkait efek pandemik Covid-19, dikutip Reuters.

Virus corona, yang telah menginfeksi 250 ribu orang dan menyebabkan lebih dari 10 ribu kematian telah mendatangkan malapetaka pada ekonomi global. Di China, perlambatan pada kuartal pertama dinilai akan signifikan dan pengaruh besar pada pertumbuhan sepanjang tahun.

Kegiatan ekonomi China yang berhenti secara tiba-tiba telah menghambat pasokan dan permintaan global. Data produksi industri dan penjualan ritel pun terpantau sangat lemah pada Januari dan Februari.

Koordinasi skala internasional sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan stabilitas keuangan. Berger mengatakan, kebijakan fiskal memiliki peran penting ketika otoritas China bekerja mengurangi guncangan ekonomi dan mendukung pemulihan.

Empat sumber kebijakan mengatakan pada Reuters, China diperkirakan akan mengeluarkan triliunan yuan stimulus fiskal, yang didukung oleh 2,8 triliun yuan atau 395 miliar dolar AS dalam obligasi pemerintah daerah. Ini demi menghidupkan kembali ekonomi domestik.

"Meskipun masih terlalu dini untuk berbicara tentang beberapa opsi yang dibahas, akan sangat membantu untuk memberikan bauran kebijakan yang sesuai anggaran dan tepat sasaran demi membantu mereka yang paling terkena dampak krisis saat ini," kata Berger kepada Reuters.

Kebijakan ketat China dalam menanggulangi puncak wabah di tempat asalnya telah berpengaruh signifikan pada provinsi Hubei. Meski jelas efeknya adalah memperlambat penyebaran penyakit.

Otoritas China diimbau untuk bertindak cepat untuk membantu rumah tangga rentan dan usaha kecil di sana. Selain itu menghapuskan biaya jaminan sosial, tagihan utilitas dan menyalurkan kredit melalui perusahaan fintech, serta mengatur kredit bersubsidi untuk mendukung peningkatan produksi peralatan medis.

Selain itu, pemerintah juga bisa memberi insentif kepada bank untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan yang lebih kecil dan memotong persyaratan cadangan. Sambil terus memberikan pinjaman dengan biaya murah kepada perusahaan yang lebih besar dan perusahaan milik negara.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA