Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Corona

Hidup dan Mati Bukan di Tangan Corona (Covid-19)

Rabu 18 Mar 2020 13:27 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Wartawan Republika, Karta Raharja Ucu

Wartawan Republika, Karta Raharja Ucu

Foto: Dok. Pribadi
Dunia saat ini terisolasi seperti Muslim di Xinjiang dan Gaza.

Oleh: Karta Raharja Ucu, wartawan Republika

Corona. Kata yang satu ini menjadi paling banyak dibicarakan selama lima bulan terakhir. Virus mematikan yang lahir di Wuhan, China, itu kini menyebar dan menjangkiti lebih dari 140 negara. Indonesia satu di antaranya. Saking menakutkannya virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan paru-paru itu, hampir semua negara di dunia mengisolasi diri dari dunia luar. Tak ada WNA yang boleh masuk, tak ada warga negara lokal yang boleh keluar rumah. Semua dikarantina. Kini dunia merasakan apa yang sering dirasakan warga (Muslim) di Xianjiang dan Gaza, Palestina; terisolasi dari dunia luar.

China, Italia, Belanda, Denmark, Irlandia, Spanyol, Prancis, Arab Saudi, dan terakhir Malaysia memberlakukan lockdown selama dua pekan untuk menghentikan laju infeksi virus corona. Akses publik dibatasi. Transportasi umum disetop beroperasi. Keluar rumah tanpa alasan kuat diancam hukuman denda dan pasal pembunuhan. Bahkan, yang membuat sedih, Arab Saudi untuk sementara melarang adanya ibadah umrah.

Meski begitu, semua rakyat di negara-negara tersebut patuh demi keselamatan diri meski Belanda dan Italia baru melakukan lockdown setelah kasus penderita corona meledak dengan cepat. Penyebaran virus yang awalnya diremehkan ternyata menjelma menjadi monster pencabut banyak nyawa. Semua rakyat sepakat patuh karena satu alasan yang sama: takut mati!

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Hahaha.... Maaf kalau saya tertawa pada paragraf ini. Anda tentu sudah menduga mengapa saya tertawa. Yup, Pemerintah Indonesia tidak (atau belum) memberlakukan lockdown--dan semoga tidak sampai lockdown, aamiin ya Allah. Setelah berbulan-bulan virus corona menyerang sejumlah negara, termasuk negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, Indonesia tetap santuy. Berkali-kali kita dijejali informasi Indonesia bebas corona. Bahkan, ada seorang pejabat yang menantang Universitas Harvard untuk membuktikan risetnya jika virus corona sudah masuk Indonesia. Virus corona yang menjadi pencabut nyawa banyak orang di luar negeri malah jadi dagelan di Negeri +62.

Rakyat Indonesia terhindar dari corona karena senang makan nasi kucing dan minum susu kuda liar bisa tangkal virus corona adalah contoh candaan soal virus corona. Sampai-sampai ada orang yang nge-twit jika penyebar informasi awal Indonesia darurat corona adalah binatang. Hadeuh....

Nyatanya, di lapangan, Indonesia tidak bebas corona, tetapi belum ada pengumuman resmi dari pemerintah jika ada WNI yang sudah terjangkit virus tersebut. Sampai Pak Presiden Jokowi mengumumkan jika ada dua WNI yang positif terjangkit virus corona. Panikkah rakyat Indonesia selepas pengumuman itu? Oh, tidak semudah itu ternyata mengaktifkan tombol takut pada diri rakyat negeri ber-flower.

Informasi soal corona memang makin berlimpah setelahnya. Mulai dari siapa pasien 01 dan 02 yang terjangkit itu, dirawat di mana, pekerjaannya apa, mengapa bisa terjangkit, hingga informasi cara menangkal virus corona dengan obat herbal. Kepanikan baru (sedikit) melanda ketika jumlah pasien yang dinyatakan positif meningkat drastis--hingga tulisan ini saya buat jumlah yang positif terjangkit virus corona mencapai 134 orang.

Sejak itu semakin banyak rakyat yang waswas hingga stok masker ataupun hand sanitizer habis dan menjadi langka. Habis dibeli. Harganya naik berkali-kali lipat hingga bikin geleng-geleng kepala. Mencuci tangan yang dahulu sering diabaikan kini menjadi keharusan. Pakai masker yang menutupi 80 persen area wajah kini jadi kewajiban untuk keluar rumah.

Situasi ini menjadi anomali di Indonesia karena beberapa tahun belakangan Muslimah bercadar menjadi sasaran tuduhan karena dinilai berlebihan dalam beragama, bertentangan dengan budaya Indonesia, dan tentu saja stigma "kearab-araban". Kini hampir semua orang menutupi wajah di area yang sama dengan pemakai cadar.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA