Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Israel Lacak Penyebaran Virus Corona Melalui Ponsel

Rabu 18 Mar 2020 10:33 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Warga menghadapi virus corona di Israel, Ilustrasi.(Nabil Mounzier/EPA)

Warga menghadapi virus corona di Israel, Ilustrasi.(Nabil Mounzier/EPA)

Foto: Nabil Mounzier/EPA
Israel lacak pergerakan orang yang terinfeksi virus corona melalui ponsel.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Pemerintah Israel mulai menggunakan teknologi pemantauan ponsel untuk mencegah pandemi virus corona jenis baru atau Covid-19. Langkah pemerintah Israel itu menuai kritik dari oposisi dan kelompok hak asasi manusia.

Kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui peraturan darurat yang menugaskan layanan keamanan internal, Shin Bet melacak pergerakan orang yang terinfeksi oleh virus corona melalui ponsel. Pelacakan itu sudah mulai berlaku sejak Selasa (17/3).

Di bawah peraturan baru, data seluler yang biasanya digunakan untuk tindakan anti-terorisme akan digunakan oleh Kementerian Kesehatan untuk melacak orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien virus corona.

Pemantauan melalui dunia maya semacam ini biasanya membutuhkan ratifikasi parlementer dan pengawasan yudisial. Namun, Netanyahu melewati proses itu dan mengumumkan perintah darurat. Pihak berwenang Israel mengatakan, pemantauan siber yang berlaku selama dua minggu ke depan bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Penggunaan teknologi untuk melacak orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien virus corona mendapatkan kecaman dari kelompok hak sipil. Asosiasi Hak Sipil di Israel menyebut langkah itu sebagai preseden yang berbahaya. Anggota Partai Blue and White, Gabi Ashkenazi juga mengkritik penggunaan teknologi anti terorisme sebagai perintah darurat.

"Tidak pantas untuk menyetujui tindakan seperti itu, tanpa pengawasan publik dan parlemen," ujar Ashkenazi dalam cicitannya di Twitter.

Secara terpisah, Kementerian Kesehatan menerbitkan arahan baru yang melarang penduduk meninggalkan rumah untuk alasan yang tidak penting. Kementerian juga menghentikan operasional angkutan umum pada malam hari. Pemerintah juga menutup area pantai, taman, sekolah, pusat perbelanjaan, restoran, dan bioskop.

Namun, pemerintah masih mengizinkan warganya keluar rumah untuk bekerja, belanja makanan dan obat-obatan, termasuk berolahraga di luar ruangan. Kementerian Kesehatan mengimbau kepada masyarakat yang pergi bekerja untuk tetap menjaga jarak setidaknya dua meter.

"Anda harus menjaga jarak dan menjauhkan kontak sosial," ujar pernyataan Kementerian Kesehatan, dilansir Aljazirah.

Hingga saat ini Israel mengkonfirmasi kasus virus kcrona sebanyak 324 dan belum ditemukan kematian. Pada Selasa (17/3), Israel mengkonfirmasi 20 kasus baru. Sementara di wilayah Palestina telah dikonfirmasi 41 kasus virus corona. 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA