Selasa 17 Mar 2020 06:27 WIB

Minyak Anjlok, Pemerintah Belum Putuskan Harga BBM Turun

Saat ini pergerakan harga minyak sangat dinamis.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Petugas mengisi BBM di SPBU COCO Pertamina. ilustrasi (Republika/ Wihdan)
Foto: Republika/ Wihdan
Petugas mengisi BBM di SPBU COCO Pertamina. ilustrasi (Republika/ Wihdan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menilai wacana penurunan harga BBM belum bisa direalisasikan pemerintah meski trend harga minyak dunia sedang turun. Ia menilai, perlu ada pemantauan yang lebih cermat atas pergerakan harga minyak dunia saat ini.

Sebab, menurut Luhut penurunan minyak dunia saat ini memang lebih didasari karena tensi tinggi antara Arab Saudi dan Rusia yang tak ingin memangkas produksi ditengah permintaan atas minyak yang menurun. Apalagi, penurunan permintaan dikarenakan melemahnya ekonomi China karena wabah corona.

Baca Juga

"Harga minyak dunia menurun 31 dolar AS menjadi masalah tapi semua negara mengalami. Jadi soal apakah penurunan harga BBM terlalu awal," ujar Luhut, Senin (16/3).

Ia menilai, saat ini pergerakan harga minyak sangat dinamis. Takutnya, ketika pemerintah mengambil keputusan secara gegabah, Arab dan Rusia melakukan manuver yang membuat harga minyak naik kembali.

Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmi Radhi menilai salah satu penyebab anjloknya harga minyak dunia karena kelebihan pasokan. Ia menjelaskan langkah Rusia untuk menolak penurunan produksi membuat harga minyak dunia semakin menurun.

"Harga minyak dunia turun drastis penyebabnya kelebihan pasokan. OPEC berupaya menurunkan produksi hingga 1,5 juta barrel. Tapi negara non-OPEC, utamanya Rusia menolak menurunkan produksi," ujar Fahmi.

Fahmi menilai kondisi ini bisa disikapi pemerintah dengan mendorong Pertamina untuk menurunkan harga BBM. Tak hanya BBM beroktan tinggi saja, penurunan harga minyak dunia ini bisa juga mendorong penurunan harga BBM bersubsidi.

"Dengan penurunan harga minyak dunia hingga mencapai rata rata 40 dolar AS per barel, Pertamina harus segera menurunkan semua harga BBM, baik harga BBM non-subsidi, maupun harga BBM subsidi," ujar Fahmi.

Ia menilai kebijakan penurunan harga BBM mestinya juga menjadi perhatian Pertamina. Ia mengatakan jangan sampai Pertamina mengubah harga jika ada kenaikan harga saja. Kondisi ini perlu disikapi oleh Pertamina.

"Pertamina jangan hanya menaikkan harga BBM pada saat harga minyak dunia naik, tapi juga harus menurunkan harga BBM pada saat harga minyak dunia turun," ujar Fahmi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement